FIRAUN DAN SOEHARTO

FIRAUN DAN SOEHARTO

 

 

Jakarta, Media Indonesia

Alkitab pernah menceritakan kegelisahan Firaun, raja yang berkuasa penuh pada waktu itu di Mesir. Sang raja gelisah bukan karena ada perkiraan ancaman musuh yang akan menyerang kerajaannya. Bukan pula karena guncangan politik dalam negeri. Melainkan karena mimpi yang baginya penuh misteri. Kisah singkat mimpi sang raja sebagai berikut. Berdirilah Firaun di tepian sungai Nil.

Tampak olehnya tujuh ekor lembu yang gemuk badannya, lalu makan rerumputan hijau di sekitar tepian sungai. Saat yang bersamaan muncul juga tujuh ekor lembu yang kurus, lalu melahap ketujuh ekor lembu yang gemuk tadi. Dan Firaun pun terbangun dari mimpinya. Ketika tidur dilanjutkan, mimpi pun datang untuk kedua kalinya. Tampak timbul dari satu tangkai tujuh bulir gandum yang bernas dan baik. Kemudian tampak pula tujuh bulir gandum yang kurus dan layu. Bulir yang kurus itu lalu menelan ketujuh bulir gandum yang bernas dan berisi tadi .

Singkat cerita, oleh seorang muda Ibrani bernama Yusuf, ditafsirkanyalah mimpi sang raja bahwa akan datang tujuh tahun kelimpahan dan tujuh tahun pula kelaparan. Oleh Yusuf juga disarankan agar selama tujuh tahun masa kelimpahan, Firaun menimbun gandum sebagai persediaan pangan untuk waktu tujuh tahun kelaparan yang bakal melanda negeri itu.

Awal bulan Maret ini Presiden Soeharto mengingatkan kita semua bahwa tahun 1990 ini diperkirakan bakal terjadi kemarau panjang sehingga akan mempengaruhi produksi pangan dan berakibat pada stok pangan tahun berikutnya. Untuk itu Kepala Negara telah menginstruksikan Bulog dan pihak bank agar melakukan persiapan seperlunya, terutama untuk kelancaran kredit pengadaan pangan.

Kedua topik ini memang tidak sama tetapi serupa. Firaun tengah dihadapkan pada masalah kelaparan yang sudah pasti akan terjadi. Sementara Presiden Soeharto baru dalam tahapan perkiraan kemarau panjang yang kalau tidak disertai langkah-langkah persiapan yang rnatang, memang bisa memberi peluang rawan pangan di masa-masa mendatang.

Kedua topik ini menarik untuk ditelaah karena kedua negarawan baik Firaun maupun Presiden Soeharto sama-sama mengantisipasi masalah yang bakal menghadang di depan. Keduanya juga komit terhadap bangsa dan negaranya.

Dalam kisah di atas diungkapkan juga bahwa Mesir akhirnya terbebas dari bencana kelaparan karena persediaan selama tujuh tahun masa kelimpahan mampu menghidupi seluruh rakyatnya selama tujuh tahun musim paceklik berkat tafsir mimpi yang tepat.

Presiden Soeharto memang tidak mendasarkan kebijakan pangannya pada impian, tetapi beliau mempunyai dasar ilmu pengetahuan tentang cuaca. Kemarau panjang tahun 1990 sebagaimana telah diingatkan Presiden Soeharto tidak bisa kita terjemahkan dalam pengertian ancaman bahaya kelaparan di tahun-tahun mendatang. Tetapi para ahli strategi mengajar kita agar senantiasa memperkirakan risiko yang paling buruk.

 

 

Sumber : MEDIA INDONESIA (23/03/1990)

Dikutip sesuai tulisan dan ejaan aslinya dari buku “Presiden RI Ke II Jenderal Besar HM Soeharto dalam Berita”, Buku XII (1990), Jakarta : Antara Pustaka Utama, 2008, hal. 440-442.

 

 

 

Kenapa tidak meninggalkan komentar?

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.