FAISAL BASRI : TEKANAN DARAH EKONOMI RI SELALU TINGGI

FAISAL BASRI : TEKANAN DARAH EKONOMI RI SELALU TINGGI[1]

 

Yogyakarta, Antara

Tekanan darah ekonomi Indonesia selalu tinggi, detak jantung perekonomian berdegup hingar-bingar, para aktornya kerap terkapar di ruang gawat darurat, karena itu tidak heran, yang sering muncul adalah kebingungan, ketidakpastian yang direkayasa, dan ketergopohan.

Faisal Basri SE MA, peneliti INDEF, saat memaparkan sebagian hasil penelitiannya lewat makalah “ASEAN Menghadapi Era Perdagangan Bebas” dalam suatu lokakarya di Yogyakarta, Jumat mengatakan ada suatu budaya buruk yang belum lekang pada masyarakat, yaitu kebiasaan untuk menyelesaikan masalah ketika telah mencapai titik kritis.

Dengan kebingungan dan ketergopohan itu, akhirnya terseret arus, terhempas ke tepian oleh angin perubahan yang menerpa dahsyat.

“Sehingga kita hanya menjadi penonton di tengah dinamika regional dan internasional, padahal kita tidak bisa surut lagi dari kancah pergaulan mondial.” ucapnya.

Sebelumnya ia memperingatkan bahwa perekonomian Indonesia harus siap menghadapi tantangan baru, suatu lingkungan yang tidak hanya berbeda dalam wujud fisik tapi juga pada elemen dari sistem dan mekanisme yang membentuknya.

Setelah memaparkan keadaan pertumbuhan ekonomi ASEAN sejak 1990, ia mengatakan dengan menunggu untuk baru bersiap diri pada tahun 2000, apalagi 2020, niscaya akan amat terlambat, apalagi masih ada ikatan pada komitmen resmi AFTA (2003), APEC (2020), dan penerapan kesepakatan Putaran Uruguay yang sudah diagendakan.

Diungkapkannya, pada 1996 negara anggota ASEAN berjuang keras mempertahankan tingkat pertumbuhannya dan tingkat inflasi yang rendah. Namun GDP nyata untuk Indonesia, Malaysia dan Thailand akan menurun secara marjinal dari tingkat 1995, disebabkan antara lain kebijakan menahan laju inflasi yang tidak pas.

Pertumbuhan yang menurun dengan tegas terjadi di Singapura, karena perekonomiannya sudah termasuk matang. Namun tingkat perekonomian Filipina akan naik sedikit.

Untuk Indonesia, katanya dalam makalahnya,

“Sampai sekarang Presiden Soeharto masih bersikap sebagai pionir perdagangan bebas.”

Pada 1994, Pemerintah mengeluarkan paket pengurangan sejumlah tarif dan memberikan kesempatan kepada perusahaan asing untuk memiliki 100 persen  perusahaan yang beroperasi di Indonesia.

Sebagai tuan rumah KTT APEC 1994, Presiden Soeharto menghilangkan hambatan terhadap investasi dan perdagangan dengan 17 negara anggota APEC pada tahun 2020. Janji yang sama diberikan kepada AFTA pada tahun 2003, kata Faisal Basri.

Sebelumnya, pada awal makalah, ia membeberkan penelitiannya tentang pertumbuhan perekonomian di negara anggota ASEAN, kaitannya dengan perkembangan di kawasan Asia Timur, pembentukan AFTA dan Putaran Uruguay sampai kepada kesepakatan membentuk Organisasi Perdagangan Dunia (WTO) yang mengganti GATT.

Memasuki tahun 1990, tampak perkembangan yang berbeda dalam perdagangan antara negara anggota ASEAN yang selama 1990-1994 meningkat lebih cepat dibanding perdagangan totalnya, yang masing-masing 16,4 dan 12,9 persen rata rata pertahun.

Peningkatan itu terjadi lebih cepat pada perdagangan antar empat negara anggota ASEAN (ASEAN-4, tidak termasuk Brunei Darussalam dan Singapura) yakni 18,7 persen untuk ekspor dan 17,5 persen impor.

Padahal sebelumnya didominasi oleh poros Singapura, katanya, dan menambahkan bahwa saat didominasi Singapura, perdagangan antar negara anggota ASEAN lain bisa dikatakan tidak berkembang.

Selama berpuluh tahun negara-negara di Asia Tenggara itu tertutup di tengah gemuruh industrialisasi negara tetangganya yang juga telah memasuki periode transisi menuju keterbukaan, katanya.

Perbedaan tingkat kematangan industrialisasi di antara Negara Asia Timur justru seharusnya menjadi faktor pendorong dinamisasi di kawasan ini. Idealnya perbedaan ini semakin mengecil sehingga kesenjangan ekonomi dan tingkat indutrialisasi yang terjadi tidak justru kian memperlemah komplementaritas sebagaimana terlihat belakangan ini.

Kuncinya ialah kesadaran bahwa perekonomian masing-masing negara harus dipacu untuk menguakkan potensi kekuatan atau daya saing yang dimiliki secara optimal, yakni dengan menghilangkan berbagai bentuk distorsi yang hingga kini masih sangat mencolok di beberapa negara seperti Indonesia dan Thailand.

Pengalaman menunjukkan dengan jelas bahwa perekonomian yang paling distorsif, cenderung tertinggal dan semakin jauh ketinggalan. Untuk menghindari keadaan ini perlu pembenahan menyeluruh dan mendasar, katanya.

Untuk Indonesia, kecenderungan itu lebih kentara lagi. Selama 1990-1994, justru laju pertumbuhan rata-rata setahun ke APEC lebih rendah ketimbang ke seluruh dunia, 10,7 persen : 11,3 persen.

Padahal, pada periode yang sama, laju pertumbuhan perdagangan total maupun ekspor/impor Indonesia ke ASEAN-5 dan negara-negara ekonomi industri baru Asia (ANIEs : Korea, Hongkong, Taiwan) dan China justru menunjukkan angka yang lebih tinggi dibanding ke APEC maupun ke seluruh dunia.

Perdagangan total Indonesia dengan ASEAN-5 itu meningkat 16,4 persen rata­-rata setahun, sedangkan ke ASEAN-4 adalah 22,4 persen, negara negara anggota ANIEs 17,4 persen dan dengan China 14 persen.

Jadi jelas, tampak bahwa lambat laun Indonesia semakin terintegrasi dengan perekonomian kawasan Asia Timur, katanya.

Dikatakannya, pada KIT ASEAN IV di Singapura 1992, disepakati peningkatan kerjasama ekonomi antara sesama negara anggota ASEAN yang kemudian melahirkan Kawasan Perdagangan Bebas ASEAN (AFTA), namun pembentukan AFTA ini lebih didorong oleh peranan birokrasi ketimbang sebagai akibat terintegrasinya pasar di antara sesama anggota ASEAN, apalagi swasta kurang berperan.

Namun perdagangan intra ASEAN pun sulit berkembang, karena negara-negara ini memproduksi barang-barang sejenis, selain itu setiap Negara ASEAN lebih banyak melakukan aktivitas dagang dengan negara di luar ASEAN.

Sumber : ANTARA (18/10/1996)

_______________________________________________________________________

[1] Dikutip sesuai tulisan dan ejaan aslinya dari Buku “Presiden Ke II RI Jenderal Besar HM Soeharto dalam Berita”, Buku XVIII (1996), Jakarta : Antara Pustaka Utama, 2008, hal 462-464.

Kenapa tidak meninggalkan komentar?

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.