ERATKAN IKAT PINGGANG

Tajuk Rencana

ERATKAN IKAT PINGGANG [1]

 

Jakarta, Berita Yudha

KEPALA NEGARA dalam pidato akhir tahunnya mengucapkan kata-kata itu. Eratkan ikat pinggang yang ditujukan kepada aparat pemerintahan, perekonomian negara, dunia usaha termasuk industri dan masyarakat luas.

Pada hemat kita, mengeratkan ikat pinggang melebihi suatu tindakan penghematan. Apalagi, Kepala Negara mengaitkannya dengan perlunya sikap keprihatinan.

Dalam sektor pemerintahan umpamanya tentunya lebih dari sekedar mengatasi kebocoran-kebocoran anggaran dan tetapnya keketatan berpegang pada prinsip prioritas. Karena penghematan tidak pernah dimaksudkan sebagai tindakan yang mematikan produktifitas dan kreatifitas usaha maka terhadap dana pembangunan sebagai factor modal pun tentunya harus tetap dijaga kelancarannya. Dalam hubungan ini pengalaman dari Pertamina dapat menjadi pelajaran.

Sekarang, bagaimana masyarakat melakukan penghematan. Masalah ini amat menarik. Karena mempunyai implikasi sosial-ekonomi, juga pembudayaan suatu tingkah laku ekonomi masyarakat.

Sosial-ekonomis masyarakat kita dapat kita golongkan menjadi dua golongan.

Mereka yang mampu dan yang tidak mampu.

Yang tidak mampu merupakan lapisan masyarakat kita yang terluas. Tidak begitu saja dapat kita trapkan suatu tindakan penghematan yang dikaitkan dengan sikap rasionil berhubung pendapatan yang belum memadai. Masih termasuk kegiatan memenuhi kebutuhan-kebutuhan primer.

Masyarakat kita yang belum beruntung ini bukan karena waktu untuk melihat keserba-kekurangannya dengan makro ekonomi. Masih begitu sederhana penilaian; hubungan antara peranan yang harus dimainkannya dengan hasil yang kelak diperolehnya dalam jangka panjang.

Oleh karenanya mereka ini menerima suatu penyederhanaan berkomunikasi memasyarakatkannya sebagai hal-hal yang dapat menimbulkan suatu solidaritas sosial pula. Karena yang lain-lain prihatin maka kekurangannya tadi dirasakan sebagai kekurangan umum. Tidak menyusahkan orang lain sudah cukup. Maka pada kesan kita, masyarakat yang demikian itu sudah pula merupakan ketahanan sosial.

Penghematan akan menjadi suatu problim pada sebahagian warga masyarakat lain yang sudah mampu. Barangkali satu-satunya sarana untuk dapat menahan pola berkonsumsi pada akhirnya terletak pada kesadaran sosialnya.

Kesadaran sosial penumbuhannya adalah tanggungjawab pemerintah juga. Adalah sesuatu yang nyata, bahwa pola konsumsi yang lebih dari rata-rata kemampuan masyarakat berkat iklim ekonomi yang berhasil diciptakan pemerintah pula. Orang merasa aman berinvestasi, mengembangkan usahanya, disamping jaminan menikmati keuntungan-keuntungannya.

Sementara itu di dalam negeri juga diproduksikan macam-macam kebutuhan yang cukup memenuhi kebutuhan masyarakat mampu. Sehingga prinsip ekonomi yang lain, “takkan diproduksi barang yang tidak akan ada pembelinya merupakan unsur pendorong berkonsumsi di atas rata-rata konsumsi masyarakat juga”.

Pemerintah dapat mengatasinya dengan kebijaksanaan perpajakan, tabungan seperti Tabanas dan Taska serta deposito dll. Yang bersifat anjuran juga tak kurang seperti pola hidup sederhana, untuk jangan bergaya hidup mewah dsb-nya. Kini tentu yang kita cari selain hal – hal yang juga tak sedikit yang berhasil dengan baik seperti Tabanas & Taska itu adalah yang efektip dapat menumbuhkan kesadaran sosial.

Dari sudut ini penghematan dapat dilihat sebagai faktor penumbuh ketahanan sosial pula. Hubungan antara kesadaran sosial dengan ketahanan nasional juga jelas terlihat disini. (DTS)

Sumber: BERITA YUDHA (05/01/1976)

[1] Dikutip sesuai tulisan dan ejaan aslinya dari buku “Presiden RI Ke II Jenderal Besar HM Soeharto dalam Berita”, Buku IV (1976-1978), Jakarta: Antara Pustaka Utama, 2008, hal. 121-122.

Kenapa tidak meninggalkan komentar?

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.