EMPAT F-5 TUNISIA SAMBUT PESAWAT PRESIDEN SOEHARTO

EMPAT F-5 TUNISIA SAMBUT PESAWAT PRESIDEN SOEHARTO[1]

 

Tunis, Republika

Pesawat DC-10 Garuda yang ditumpangi Presiden dan Ibu Tien Soeharto beserta rombongan belum lama terbang setelah meninggalkan Malta. Pesawat itu baru saja memasuki wilayah Tunisia. Saat itulah empat pesawat tempur F-5 milik Tunisia “menyergap” dan kemudian mengawal Garuda.

“Dua pesawat berada di sebelah kanan Garuda, dua lainnya di sebelah kiri,” ucap wartawan Republika, Pam i Hadi , yang ikut dalam pesawat Presiden.  Keempat F-5 itu terus mengawal hingga Garuda mendarat di Bandara Tunis Carthage, Senin siang pukul 10.00 waktu setempai atau pukul I6.00 WIB.

Adalah Presiden Zine El Abidine Ben Ali dan Ibu Negara Leyla yang menyambut kedatangan Pak Harto dan Ibu Tien di negara pertama yang masuk dalam daftar lawatan kali ini. Upacara kebesaran militer, lengkap dengan tembakan meriam 21 kali, menyambut kedatangan Presiden ini. Umbul-umbul dalam bahasa Indonesia dan Arab banyak dipasang. Antara lain berbunyi: Selamat Datang Presiden Soeharto dan Ibu Tien Selamat Datang Presiden KIT Non Blok Dirgahayu Indonesia-Tunisia.

Penjagaan dari bandara ke istana tampak ketat. Umbul-umbul dipasang berjajar, meriah. Merah Putih dan bendera Tunisia berselang-seling. Begitu pula foto Pak Harto dan Presiden Ben Ali.

Mengawali kunjungannya selama tiga hari di Tunisia ini, kemarin Pak Harto melangsungkan pembicaraan dengan Presiden Ben Ali selama satu jam. Pak Harto sempat pula bertemu dengan ketua parlemen , berziarah ke Taman Makam Pahlawan Sejourni,ke Masjid Essilouna, serta pada malam hari menghadiri jamuan kenegaraan diistana.

Sementara itu Ibu Tien sempat mengunjungi panti asuhan, dan menyumbang 5 ribu dolar AS yang diserahkan dalam bentuk cek. Selain itu Ibu Tien berkesempatan pula mengunjungi taman bungal kaktus yang banyak didatangi wisatawan.

Selasa ini, sejumlah acara telah dijadualkan untuk Presiden Soeharto. Salah satunya, malam nanti, adalah menerima Presiden Palestina Yasser Arafat di Istana Essada La Marsa. Tunis memang “ibu kota” PLO, sebelum bangsa Palestina secara resmi mempunyai pemerintahan sendiri di wilayah yang sekarang diduduki Israel.

Tunisia adalah negara di Afrika Utara yang berada di seberang Italia, dan diapit Aljazair dan Libya. Negara dengan luas wilayah sekitar 164 ribu km persegi ini berpenduduk 8,5 juta jiwa. Dengan tingkat pendapatan per kapita sebesar 1.600 dolar AS setahun,Tunisia yang mempunyai akar sejarah sejak sebelum Masehi merupakan negara yang cukup makmur di Afrika Utara.

Kunjungan ini merupakan lawatan pertama ke Tunisia sejak Pak Harto menja di Presiden. Sejak awal kemerdekaan, hubungan kedua negara berjalan sangat baik. Tunisia selama ini tegas mendukung Indonesia dalam kasus Timtim.

Walaupun demikian hubungan ekonomi antar kedua negara terhitung masih sangat kecil. Pada tahun 1970-an, ketika kebutuhan pupuk belum terpenuhi dari produksi dalam negeri, Indonesia pernah mengimpomya dari Tunisia. Sementara itu Tunisia mendatangkan kopi, tembakau, serta karet.

Puncak hubungan dagang Indonesia-Tunisia tercapai pada tahun 1989. Ketika itu volume perdagangan kedua negara mencapai angka 60 juta dolar AS. Namun, setelah itu, volume tersebut merosot lagi hingga setengahnya.

Tunisia saat ini merupakan salah satu pusat wisata di Afrika Utara. Tak kurang 4 juta wisatawan datang ke sana. Baik dari Eropa maupun negara lain yang disebut kawasan Maghribi itu. Sektor wisata di Tunisia telah memberikan devisa mencapai 1,3 milyar dolar AS (atau sekitar Rp 2,6 trilyun).

Sementara itu, dari segi politik, Tunisia aktif dalam persekutuan Afrika Utara. Persekutuan yang meliputi Libya, Tunisia, Aljazair, Maroko, serta Mauritania. Saat ini Tunisia yang memimpin organisasi tersebut. Sementara itu, di Malta, Kepala Negara menerima Presiden Malta, Censu Tabone pada hari Minggu malam pukul 21.00 waktu setempat atau pukul 03.00 WIB Senin dini hari telah mengadakan jamuan makan. Presiden Censu Tabone menjamu Presiden Soeharto dalam kedudukannya sebagai ketua GNB, karena Malta adalah anggota GNB.

Sumber: REPUBLIKA(16/ll /1993)

__________________________________

[1] Dikutip sesuai tulisan dan ejaan aslinya dari Buku “Presiden Ke II RI Jenderal Besar HM Soeharto dalam Berita”, Buku XV (1993), Jakarta: Antara Pustaka Utama, 2008, hal 290-292.

Kenapa tidak meninggalkan komentar?

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.