EKONOMI TUMBUH 8,07 PERSEN, NAMUN BANTUAN LN TETAP PERLU

EKONOMI TUMBUH 8,07 PERSEN, NAMUN BANTUAN LN TETAP PERLU[1]

 

Jakarta, Antara

Pertumbuhan ekonomi pada tahun 1995 mencapai 8,07 persen dibanding tahun 1994 yang 7,48 persen, namun Indonesia masih tetap membutuhkan bantuan luar negeri dalam rangka mewujudkan kemandirian.

Setelah melapor kepada Presiden Soeharto di Jalan Cendana, Kamis tentang pertumbuhan ekonomi, Menteri Negara PPN/ Ketua Bappenas Ginandjar Kartasasmita mengatakan kepada pers bahwa Produk Domestik Bruto per kapita (GDP) tahun 95 memang mencapai 1.023 dolar AS.

Namun, kata Ginandjar yang didampingi Kepala BPS Soegito, Produk Nasional Bruto (PNB) per kapita masih di bawah angka patokan 1.000 dolar AS yaitu 978 dolar.

PDB per kapita adalah angka rata-rata produk yang dihasilkan baik oleh orang Indonesia sendiri maupun asing di Indonesia. Jika orang-orang asing itu mengirimkan pendapatan mereka ke luar negeri, maka yang tertinggal itu adalah PNB, yang hanya dihasilkan orang Indonesia.

Ginandjar mengatakan, jika pada tahun 1995 angka PDB menunjukkan 1.023 dolar AS maka tahun 1994 angkanya adalah 920 dolar. Sementara itu, jika angka PNB tahun 1995 adalah 978 dolar AS maka tahun 1994 adalah 886 dolar.

Angka PDB 920 dolar AS itu lebih tinggi dibanding tahun 1993 sebesar 842 dolar AS. Sementara itu, angka PNB tahun 1994 sebesar 886 dolar AS itu di atas angka tahun 1993 sebesar 810 dolar.

Ginandjar mengatakan, sekalipun angka PDB dan PNB Indonesia dari tahun ke tahun terus meningkat, kerjasama dengan luar negeri masih terus dibutuhkan.

“Kalau kita beribarat Indonesia adalah anak SMP yang nilai rapornya terus meningkat, maka Indonesia masih belum bisa disamakan dengan negara lain yang sudah mencapai perguruan tinggi.” kata Ginandjar ketika memberikan perumpamaan.

Soegito kemudian menyebutkan pendapatan per kapita penduduk Singapura pada 1994 adalah 23.320 dolar AS, Malaysia3 .520 dolar AS, serta Thailand 2.210 dolar AS.

“Karena itulah, sebenarnya kita masih berada di bagian bawah di ASEAN ini.”  kata Ginandjar yang akan segera berangkat ke Arab Saudi untuk menunaikan ibadah haji.

Tidak Kejar Pertumbuhan

Menteri Ginandjar mengatakan pula, sekalipun pertumbuhan ekonorni tahun 1995 itu di atas angka perkiraan selama Repelita VI sebesar 7,1 persen, pemerintah Indonesia tidak pernah berpikir hanya untuk mengejar pertumbuhan.

“Kita tetap pula memperhatikan masalah pemerataan, misalnya dengan membangun berbagai prasarana di luar Pulau Jawa serta membangun sumber daya manusia (SDM).” katanya.

Ia memberi contoh pemberian makanan tambahan kepada jutaan pelajar SD dan Madrasah lbthidaiyah (MI) mulai tahun anggaran 1996/97 tidak akan berpengaruh pada pertumbuhan ekonomi secara langsung.

Namun, jika anak-anak SD dan MI ini sudah bekerja dalam jangka waktu 10 hingga 15 tahun mendatang dengan kemampuan yang lebih baik maka diharapkan pertumbuhan ekonomi akan semakin cepat.

Kepala BPS Soegito mengatakan, ada tujuh sektor yang mendorong tingginya pertumbuhan ekonomi yaitu pertanian, pertambangan dan penggalian listrik dan gas serta air bersih, perdagangan , hotel dan restoran, angkutan dan komunikasi, keuangan, persewaan dan jasa perusahan serta jasa.

Menurut Soegito, salah satu faktor menonjol yang ditemukan pihaknya dalam perekonomian nasional adalah pergeseran struktur ekonomi yaitu dari pertanian/agraris ke industri.

Ia menyebutkan, jika pada 1983, perekonomian nasional masih didominasi oleh pertanian yang presentasenya 23 persen, maka pada 1995, peranan pertanian berkurang menjadi 17,2 persen. Sementara itu industri naik dari 12,7 persen menjadi 24 persen.

Kepala BPS juga menyebutkan jika melihat distribusi persentase penggunaan produk domestik bruto maka pengeluaran konsumsi mencapai 55,99 ; kemudian pengeluar an konsumsi pem erintah 8,2 1 ; pembentukan modal tetap domestik bruto 28,76.

Ketika mengomentari penjelasan Soegito tentang prosentase pembentukan modal tetap domestik bruto ini yang sejak tahun 1993 hingga 1995 terus naik dari 26,28 menjadi 27,79 hingga 28,76 itu, Ginandjar mengatakan ,peningkatan tabungan nasional itu sangat penting dalam mewujudkan kemandirian.

Sumber : ANTARA (20/04/1996)

____________________________________________________

[1] Dikutip sesuai tulisan dan ejaan aslinya dari Buku “Presiden Ke II RI Jenderal Besar HM Soeharto dalam Berita”, Buku XVIII (1996), Jakarta : Antara Pustaka Utama, 2008, hal 303-305.

Kenapa tidak meninggalkan komentar?

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.