EDITORIAL: SINERGI KEMAJEMUKAN

EDITORIAL: SINERGI KEMAJEMUKAN[1]

 

Dili, Media Indonesia

SAAT meresmikan sejumlah proyek di Timor Timur kemarin Presiden Soeharto menegaskan bahwa kemajemukan agama di Tanah Air bukanlah merupakan sumber kerawanan bahkan keanekaragaman itu dapat merupakan kemajemukan potensi dan kekuatan untuk mendorong maju pembangunan.

“Dalam kaitan itulah, saya sangat menghargai prakarsa untuk membangun Patung Kristus Raja di Propinsi yang sebagian besar penduduknya beragama Katolik.” kata Kepala Negara.

“Pembangunan  Patung Kristus Raja juga menunjukkan bahwa setelah Timor Timur menjadi bagian dari Indonesia, nilai-nilai yang bersifat sakral dan religius di daerah itu terus tumbuh dan berkembang.”

Sila Ketuhanan Yang Maha Esa dari Pancasila menurut Presiden telah memberikan sifat khas kepada negara kebangsaan ini. Dengan sila ini, negara tidak memaksa dan tidak akan memaksakan sesuatu agama untuk dipeluk oleh warga negaranya. Negara menjamin kemerdekaan setiap penduduk untuk memeluk agama dan beribadat menurut agama dan kepercayaannya.

Kemajemukan tidak hanya dilukiskan dengan kata. Upacara peresmian Patung Kristus Raja itu sendiri menunjukkan kemajemukan itu. Kepala Negara saat peresmian didampingi Mensesneg Moerdiono, Menhut Djamaludin Soeryohadikoesoemo, Menag Tarmizi Taher serta Pangab Jenderal TNI Faisal Tanjung. Disaksikan antara lain oleh Dubes Vatikan untuk Indonesia Mgr Pietro Sambi, Ketua KWI Mgr Yulius Darmaatmaja SY dan Uskup Diosls Dili Mgr Carlos, Filipe Ximen es Belo. Dan seperti yang kita saksikan di layar televisi, masyarakat Dili menyambutnya dengan sukacita.

Penegasan Presiden Soeharto dan suasana kemajemukan itu jika kita resapi mestinya dapat kita jadikan sebuah pegangan dalam menghadapi berbagai masalah yang menyangkut heterogenitas agama di negeri ini. Kalau saja masyarakat dapat menangkap utuh pesan kemajemukan itu dan mengamalkannya dalam kehidupan berbangsa dan bernegara, InsyaAllah kasus kasus seperti di Situbondo 10 Oktober lalu tidak akan terjadi lagi.

Selama ini belum semua orang diantara bangsa kita mampu menerjemahkan kemajemukan secara benar dan utuh. Terjadinya berbagai kerawanan lebih banyak disebabkan karena lemahnya pemahaman dan arti hidup bersama antar umat beragama di negara yang berdasarkan Pancasila. Toleransi dan saling menghormati antar umat beragama belum dilaksanakan dalam format kesejajaran.

Kita sadari, sebelum Indonesia merdeka, penjajah selain mengeksploitasi kekayaan alam kita untuk kepentingan politik devideet impera-nya juga telah menanamkan semangat permusuhan antar umat beragama. Mereka menganakemaskan kelompok umat beragama yang satu sambil mengecilkan kelompok umat beragama yang lain.Akibatnya persaingan tidak sehat antar umat beragama tertanam cukup kuat.

Kita semua sadar bahwa kenyataan seperti itu sangat tidak sehat. Setelah bangsa ini merdeka upaya untuk menghapuskan ranjau-ranjau yang ditinggalkan penjajah terus dilakukan. Pemerintahan Orde Baru berusaha lebih keras agar bangsa ini mampu menjadi bangsa yang benar-benar bersatu dalam kebhinnekaan.

Kemajemukan tidak harus diwarnai dengan kerawanan dan kerentanan, melainkan harus menjadi sinergi dalam membangun. Kita ibaratkan, sapu lidi, batang batang lidi yang berdiri sendiri memang mudah patah tapi jika menyatu erat dalam satu ikatan yang kukuh akan menjadi satu sinergi yang berdaya guna.

Yang diperlukan kini adalah memperkuat tali pengikat itu. Dalam konteks ini Pancasila kita jadikan tali pengikat agar bangsa dengan beraneka agama ini tetap merasa berada dalam satu keluarga bangsa Indonesia yang hidup saling menghargai dan menghormati.

Sumber : MEDIA INDONESIA (01/05/1996)

_____________________________________________________________________

[1] Dikutip sesuai tulisan dan ejaan aslinya dari Buku “Presiden Ke II RI Jenderal Besar HM Soeharto dalam Berita”, Buku XVIII (1996), Jakarta : Antara Pustaka Utama, 2008, hal 213-214.

Kenapa tidak meninggalkan komentar?

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.