EDITORIAL: PERNYATAAN PENTING PAK HARTO

EDITORIAL: PERNYATAAN PENTING PAK HARTO[1]

Jakarta, Media Indonesia

Seperti biasanya dalam perjalanan kembali dari perawatan ke luar negeri, Presiden Soeharto memberi keterangan pers. Hal yang sama dilakukan Pak Harto dalam penerbangan menuju Jakarta dan New Delhi India menghadiri Konferensi EFA (Education For All) selama dua hari.

Dari keterangan pers yang panjang Iebar diberikan Pak: Harto kemarin, kita dapat mencapai beberapa pernyataan penting yang sangat proyektif dan strategis bagi pembangunan bangsa dan negara. Selain itu terkandung pula peringatan yang sangat perlu dipaharni, di dalam dan dijabarkan oleh semua fihak.

Pernyataan proyektif dan srategis bagi pembangunan bangsa dan negara yang dikemukakan Presiden adalah sbb:

  1. Stabilitas nasional mutlak diperlukan oleh sebuah
  2. . Pendidikan dasar merupakanjembatan bagi pembinaan dan pengembangan sumberdaya

Presiden menguraikan secara rinci berikut data tentang permasalahan stabilitas nasional yang dikaitkan dengan mengambil kesimpulan bahwa konferensi Pendidikan Untuk Semua di New Delhi yang di hadiri sembilan negara berpend uduk besar di lingkungan negara berkembang sangat relevan dan tepat diadakan Deklarasi New Delhi yang dilahirkan dalam konferensi tersebut memberi gambaran secara nyata, betapa pendidikan dasar tidak mungkin lagi diabaikan oleh siapa pun.

Pendidikan dasar ini jelas akan mengalarni hambatan dalam pelaksanaannya, jika sebuah negara tidak memiliki stabilitas nasional. Bahkan karena stabilitas di beberapa negara anggota G-15 menyebabkan KTT G-15 tidak dapat terlaksana di New Delhi dan terpaksa diundur sampai akhir Maret atau awal april 1994 mendatang.

Kita bersyukur menghadapi permasalahan stabilitas nasional dan pendidikan dasar Indonesia mampu mengatasinya, sedang banyak negara berkembang baru akan memulainya. Stabilitas nasional Indonesia diakui oleh internasional paling mapan di kawasan Asia, sehingga kita mampu melaksanakan pendi dikan dasar dengan terencana.

Kini, kita memiliki 156 ribu SD Inpres yang mampu menerapkan wajib belajar bagi anak berusia 7-12 tahun. Terdaftar 29,6 juta siswa SD tersebar di seluruh tanah air dan setiap tahun 3,6 juta anak menamatkan pendidikan SD. Namun masih ada 3% dari anak berusia 7-12 tahun yang belum tersentuh pendidikan dasar, karena mereka tinggal di ternpat-tempat yang terpencil. Data-data yang disampaikan Pak: Harto di luar kepala itu membuktikan bahwa beliau mendalami sepenuhnya permasalahan pendidikan sehingga tidak heranjika selama EFA conference Pak Harto menjadi bintang karena kemampuann ya memproyeksikan problematik pendidikan dasar dengan menjadikan Indonesia sebagai acuan.

Selain itu pernyataan proyektif dan strategi tersebut Pak Harto juga menyampaikan peringatan untuk semua pihak oleh Presiden disebut bahwa saat ini ada gejala sementara orang/kelompok yang ingin memak sakan kehendaknya ala PKI padahal ini bertentangan dengan Demokrasi Pancasila. Ditegaskan Presiden bahwa demokrasi liberal atau jenis demokrasi lainnya tidak sejalan dengan Demokrasi Pancasila yang merupakan landasan perjuangan Orde Baru. Karena itu Presiden mengingatkan semua pihak agar kembali kelandasan perjuangan Orba tersebut.

Selain itu Pak Harto juga mengingatkan bahwa kebebasan yang kita terapkan disini adalah kebebasan yang bertanggungjawab, karena keterkaitan kita sebagai makhluk sosial. Selama ini soal kebebasan yang bertanggungjawab ini seakan-akan hanya ditujukan kepadajajaran pers saja, tetapi dengan pemyataan Presiden tersebut, kinisemakinjelas bahwa kebebasan yang bertanggungjawab itu adalah untuk semua lapisan masyarakat.

Dengan pernyataan proyektif dan strategis berikut peringatan Presiden tersebut, jelas tidak perlu ditanggapi macam-macam karena maknanya begitu gamblang, marilah kita bersama-sama melaksanakan pembangunan secara terpadu dan mulai dari dasar dan bertahap.

Sumber: MEDIA INDONESIA(l8/12/1993)

______________________________________________

[1] Dikutip sesuai tulisan dan ejaan aslinya dari Buku “Presiden Ke II RI Jenderal Besar HM Soeharto dalam Berita”, Buku XV (1993), Jakarta: Antara Pustaka Utama, 2008, hal 344-346.

Kenapa tidak meninggalkan komentar?

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.