EDITORIAL : MEMULIHKAN KEPERCAYAAN

EDITORIAL : MEMULIHKAN KEPERCAYAAN[1]

 

Jakarta, Media Indonesia

PIDATO pertanggungjawaban Presiden/mandataris MPR RI telah dibacakan Presiden Soeharto kemarin. Selain mengungkapkan angka-angka keberhasilan Pembangunan Lima Tahun (pelita) VI hingga pertengahan tahun lalu, pidato selama lebih dari satu jam ini juga secara terus terang mengungkapkan bahwa ketahanan ekonomi kita ternyata tidak cukup kuat untuk menghadapi pukulan dari luar.

Bahkan seperti dikatakan Kepala Negara sebagian dari kesulitan yang kita derita hari ini adalah juga karena kelemahan dalam tubuh kita sendiri.

Pengakuan yang tulus ini adalah sebuah pertanda kearifan yang tinggi. Apalagi pula dengan imbauan bijak agar kita tidak perlu mencari kambing hitam. Juga tidak ada gunanya mencari kambing hitam. Sebab jauh lebih berguna untuk mawas diri untuk mencari hikmah dari musibah yang telah terjadi.

Presiden Soeharto tampaknya telah memetik hikmah itu. Setidaknya hal ini terungkap dalam awal sambutan yang mengatakan,

“Tujuan pokok program reformasi dan restrukturisasi ekonomi dan keuangan kita adalah untuk memulihkan kepercayaan terhadap mata uang kita, terhadap lembaga keuangan kita, dan terhadap masa depan ekonomi kita.”

Pemulihan kepercayaan para pelaku ekonomi dalam maupun luar negeri ini bukanlah suatu hal yang dapat diciptakan begitu saja, ataupun diminta dari badan

Internasional seperti IMF. Melainkan sebuah dampak yang terjadi bila kita semua membuktikan bahwa tak ada kesenjangan antara apa yang kita ucapkan dan lakukan. Semakin banyak bukti-bukti ini kita berikan, semakin tinggi pula kepercayaan yang akan datang.

Dalam kerangka berfikir seperti inilah kita menyayangkan masih adanya pihak­ pihak yang seperti tak mau peduli bahkan terkesan melecehkan upaya Presiden Soeharto untuk memulihkan kepercayaan ini. Misalnya dengan berupaya untuk tetap melakukan kegiatan-kegiatan yang telah jelas-jelas disepakati Presiden Soeharto dan IMF untuk dibatalkan. Sebuah tindakan yang hanya memikirkan kepentingan, kelompoknya dengan tanpa mempertimbangkan kepentingan bangsa.

Terhadap mereka yang bersikap seperti ini wajib kita ingatkan pesan Presiden Soeharto bahwa upaya pemulihan kepercayaan bukan hanya tugas pemerintah melainkan semua anak bangsa. Sebab untuk keluar dari krisis ini dan jauh lebih kuat lagi diperlukan tingkat kebersamaan yang tinggi. Seluruh rakyat harus merasa melu handarbeni dalam melaksanakan terapi yang harus kita jalankan kendati terasa menyakitkan.

Justru karena terapi akan terasa menyakitkan, maka semua ini terutama pimpinan formal maupun informal harus memberi teladan dan kepeloporan untuk hidup hemat dan membantu mereka yang lebih lemah. Untuk menjalankan falsafah tut wuri handayani pada saat senang dan ing ngarso sung tulodo dapat saat krisis seperti sekarang. Sebab hanya apabila masyarakat luas merasa beban ini dipikul secara adil maka ketahanan bangsa untuk menghadapi cobaan berat sekarang ini dapat terjamin.

Selain itu, kita juga harus secara jujur, rasional, dan transparan mengevaluasi mengapa perekonomian kita belum tahan gempur. Bukan untuk mencari kambing hitam, melainkan untuk memastikan bahwa kesalahan serupa tak akan diulangi lagi di masa depan.

Karena, pada akhirnya, berhasil atau tidaknya upaya kita untuk mengatasi badai saat ini hanya bergantung pada kekuatan diri sendiri. Adapun bantuan dari luar memang meringankan dan kita berterima kasih atas uluran tersebut. Dan pengungkapan rasa terima kasih yang paling tulus adalah dengan membuktikan bahwa kita memang layak dipercaya. Dengan selalu menjalani komitmen yang telah kita nyatakan sebelumnya.

Sumber : MEDIA INDONESIA (02/03/1998)

___________________________________________________________________

[1] Dikutip sesuai tulisan dan ejaan aslinya dari Buku “Presiden Ke II RI Jenderal Besar HM Soeharto dalam Berita.” Buku XX (1998), Jakarta : Antara Pustaka Utama, 2008, hal 125-126.

Kenapa tidak meninggalkan komentar?

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.