DUTA MASJARAKAT

DUTA MASJARAKAT [1]

 

Djakarta, Berita Yudha

Baik peristiwa apa jang dinamakan “Gerakan 30 September” jang telah melakukan ambil alih kekuasaan dari tangan pemimpin besar revolusi Bung Karno, maupun tindakan2 kedjam dan terror jang telah dilakukan oleh gerakan itu telah membuat kemarahan jang wadjar dari rakgat. Sampai2 rakgat jang pal­ing sabarpun, jang paling mampu menahan hati2 di hari2 jg lampau, sekarang sudah kehilangan kesabarannja. Gudang kesabaran sudah kosong sudah terlampau banjak diambil. Bukankah kesabaranpun ada batasnja.?

Rakjat berhak marah, kalau kemarahan itu bersifat adil dan membela kebenaran. Rakjat wajib marah kepada Nekolim, sebab nekolim adalah kedzoliman jang harns dilawan habis. Rakjat wadjib marah kepada “Malaysia”, berhubung dia adalah projek neo-kolonialis jang ditudjukan untuk menghantjurkan revolusi Indonesia dibawah pimpinan Bung Karno. Rakjat wajib marah kepada kedzoliman, baik jang dilakukan oleh terror berupa fisik maupun rohani, berhubung bertentangan dengan kebenaran. Sebab djikalau kebenaran tidak dibela, berarti kita tidak membela apa2.

Disamping kemarahan itu rakjatpun dengan penuh kewaspadaanmengerti bahwa nekolim bisa memantjing diair keruh. Tapi, sjukur Alhamdulillah kesadaran politik dan semangat revolusioner rakjat sudah begitu tinggi, sehingga setiap provokasi apapun dari pihak mereka sudah pasti dapat ditumpas. Sebagai Pantja-silais dan Manipolis sedjati dibawah pimpinan Presiden Sukarno mereka tidak gentar sedikitpun dan tidak bakal susut sedikitpun semangat anti nekolimnja.

Ditengah2 kemarahan rakjat terhadap apa jang dinamakan “Gerakan 30 September” jang didalangi oleh PKI dan ormas2nja, kejakinan mereka semakin teguh bahwa kebidjaksanaan pemimpin besar revolusi Bung Karno untuk membersihkan gerakan jang kontra revolusioner ini dan menjelesaikan revolusi Indonesia dibawah pimpinan Presiden Sukarno dengan berpegang teguh kepada 5 Azimat Revolusi

Sumber: BERITA YUDHA (11/1O/1965)

[1] Dikutip sesuai tulisan dan ejaan aslinya dari buku “Presiden RI Ke II Jenderal Besar HM Soeharto dalam Berita”, Buku I (1965-1967), Jakarta: Antara Pustaka Utama, 2008, Hal 42-43.

Kenapa tidak meninggalkan komentar?

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.