Dualisme Pimpinan Angkatan Darat

Dualisme Pimpinan Angkatan Darat[1]

 

PADA hari dimana Angkatan Darat kehilangan 6 0rang jenderal—dari jenderal Angkatan Darat yang tersisa, yang tidak dibunuh dalam kudeta itu, maka Mayor Jenderal Soeharto yang pertama kali mengambil keputusan untuk menumpas pemberontakan itu.

Mengetahui Letnan Jenderal A Yani diculik dan belum diketahui keberadaannya, I Oktober 1965, Mayor Jenderal Soeharto mengambil alih pimpinan Angkatan Darat. Hal itu bukan tindakan yang disebut sebagai insubordinansi, melainkan sesuai standing order (order tetap) di Angkatan Darat, jika Panglima Angkatan Darat Letnan Jenderal A Yani berhalangan maka Panglima Kostrad Mayor Jenderal Soeharto yang menggantikan.

Namun pada malam harinya, melalui radio, Presiden Soekarno menyatakan pimpinan Angkatan Darat dipegang langsung oleh presiden dan Presiden menunjuk Mayor Jenderal Pranoto Reksosamodro sebagai pelaksana harian Pimpinan Angkatan Darat.

Hari itu, 1 Oktober 1965, enam jenderal Angkatan Darat diculik oleh pemberontak G30S/PKI, dan terjadi dualisme pimpinan Angkatan Darat, Presiden Soekarno dan Mayor Jenderal Soeharto.

____________________________________________________________

[1]Noor Johan Nuh,  “Pak Harto dari Mayor ke Jenderal Besar”, Jakarta : Yayasan Kajian Citra Bangsa, hlm 71-72.

Kenapa tidak meninggalkan komentar?

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.