DPR : JANGAN TIMBULKAN KESENJANGAN DALAM APEC

DPR : JANGAN TIMBULKAN KESENJANGAN DALAM APEC[1]

 

Jakarta, Antara

Wakil Ketua Komisi I DPR Abu Hasan Sazili mengingatkan negara-negara APEC hendaknya tidak membuat peluang bagi timbulnya kesenjangan antara negara-negara maju dan negara-negara berkembang dalam APEC.

“Imbauan Presiden Soeharto, agar negara maju memperhatikan negara berkembang dalam mengambil kebijakan dalam APEC tepat sekali. Jangan sekali­-kali negara maju mengukur segalanya dengan apa yang mereka capai. Ini bisa menimbulkan kesenjangan.” kata Sazili kepada ANTARA di Jakarta, Rabu menanggapi hasil pertemuan APEC di Manila beberapa hari lalu.

Menurut dia, negara maju seyogyanya membantu anggota APEC dari negara berkembang, agar mereka berkemampuan untuk bekerjasama yang seimbang. Jika tidak, dikhawatirkan negara berkembang hanya menjadi limpahan produk mereka.

“Saya yakin kerjasama yang seimbang di dalam APEC akan bisa terwujud bila negara-negara maju mau membantu rekannya negara-negara berkembang.” tegasnya.

Dia berpendapat, banyak negara berkembang yang tak siap jika era perdagangan bebas APEC diberlakukan tahun 2020, antara lain karena mereka masih mengalami kesulitan di dalam negerinya sendiri.

Pertumbuhan ekonomi anggota APEC dari negara berkembang, menurut dia cukup beragam. Karena itu diperlukan bantuan negara maju agar mempercepat kemampuan negara-negara berkembang bekerjasama dalam era tersebut.

Wakil Ketua Komisi I berpendapat, tantangan bagi Indonesia dalam menyongsong era perdagangan bebas bukan saja pada kelengkapan peraturan perundangan/hukum, tapi juga kesatuan pendapat dan tindakan termasuk di kalangan masyarakat/pengusaha.

“Kesiapan itu perlu, sebab selama ini saya lihat pengusaha-pengusaha masih terlalu berorientasi ke dalam negeri ketimbang pasar luar negeri.” ucapnya.

Belum adanya kesatuan pendapat dan tindakan itu menurutnya harus menjadi tantangan yang mesti dibenahi.

“Dalam era perdagangan bebas itu hendaknya jangan ada lagi pihak-pihak yang dihinggapi perasaan egoisme sektoral. Padahal egoisme sektoral tersebut saat ini kita rasakan masih tinggi.” demikian Sazili.

Sumber : ANTARA (27/11/1996)

________________________________________________________

[1] Dikutip sesuai tulisan dan ejaan aslinya dari Buku “Presiden Ke II RI Jenderal Besar HM Soeharto dalam Berita”, Buku XVIII (1996), Jakarta : Antara Pustaka Utama, 2008, hal 513.

Kenapa tidak meninggalkan komentar?

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.