DPR HARAPKAN BENTUK TIM JEMBATAN MALAYSIA-SUMATERA

DPR HARAPKAN BENTUK TIM JEMBATAN MALAYSIA-SUMATERA[1]

 

Jakarta, Antara

Anggota DPR-RI Komisi V Ir. Saptanoesa Wenthe menilai kesepakatan pembangunan jembatan yang menghubungkan Malaysia-Sumatera merupakan hal positif bagi peningkatan ekonomi kedua negara sehingga diharapkan pemerintah kedua negara segera membentuk tim peneliti kelayakan studi.

“Saya sangat mendukung sekali kesepakatan itu. Adanya jembatan tersebut akan meningkatkan arus wisatawan serta neraca perdagangan kedua negara” kata anggota dewan dari F-KP itu kepada ANTARA di Jakarta, Selasa.

Hal tersebut dikemukakan Saptanoesa Wenthe menanggapi adanya kesepakatan kerjasama pembangunan jembatan yang menghubungkan Semenanjung Malaysia­Sumatera. Kesepakatan itu disetujui dalam pembicaraan Presiden Soeharto dengan PM Malaysia Mahathir Muhammad, di Kuala Lumpur, Malaysia, Senin (7/10).

Dalam penjelasannya, Mensesneg Moerdiono mengatakan pembiayaan dan pelaksanaan mega proyek itu nantinya akan dikerjakan pihak swasta Malaysia.

Menurut Saptanoesa, disamping segi positif pasti juga terdapat sisi negatif dengan adanyajembatan yang menghubungkan kedua negara.

Antara lain, kemungkinan meningkatnya penyelundupan barang ataupun Tenaga Kerja Indonesia (TKI) ke Malaysia, yang dapat mengganggu hubungan kedua negara.

“Namun demikian, saya lihat jauh  lebih banyak  segi positifnya  dibanding negatifnya. Untuk sisi negatifnya, pasti ada cara mengatasinya” tegas Saptanoesa Wenthe.

Pada kesempatan itu, ia juga mengharapkan jembatan tersebut tidak dibangun hanya dengan mengandalkan investor Malaysia.

“Ini adalah proyek kebanggan nasional. Kalau bisa, pendanaan pembangunannya jangan didominasi Malaysia saja. Investor Indonesiapun harus diberi porsi yang seimbang” ujarnya.

Demikian pula, untuk kontraktornya ia mengharapkan berasal dari Indonesia.

“Para ahli konstruksi kita sudah mampu membuat jalan tol di Malaysia dan Philipina seperti yang dilakukan kelompok usaha Citra Lamtoro Gung Persada. Demikian pula, kita merencanakan membangun jembatan Selat Sunda, Bali dan Suramadu yang semuanya melintasi selat. Jadi secara teknologi, kita telah mampu membuat jembatan Malaysia-Sumatera” ujarnya.

Sebab itu, ia mengharapkan pemerintah kedua negara secepatnya membuat tim untuk mengadakan kelayakan studi bagi pembangunan jembatan Sumatera-Bali itu.

Pertengahan September lalu, Menteri Pekerjaan Umum Radinal Moochtar mengungkapkan adanya investor Malaysia yang berminat membangun jembatan antara Penang (Malaysia) dan Dumai (Riau, Indonesia).

Rencananya jembatan tersebut dibagi dalam dua ruas yakni Penang-Pulau Rupat, dan P. Rupat-Dumai. Radinal menjelaskan, banyak investor Malaysia yang berminat mengembangkan bisnis minyak kelapa sawit di Riau dan Sumbar. Adanya jembatan tersebut, kata dia, akan membantu rencana investasi itu, katanya.

Kendati demikian, Radinal juga mengemukakan adanya kemungkinan kendala dari segi hukum internasional, karena Selat Malaka yang akan dilalui jembatan tersebut merupakan zona internasional. (T.PE07/ 14:00/eu03/c1440/ru2)

Sumber: ANTARA (O8/10/1996)

_______________________________________________________________________

[1] Dikutip sesuai tulisan dan ejaan aslinya dari Buku “Presiden Ke II RI Jenderal Besar HM Soeharto dalam Berita”, Buku XVIII (1996), Jakarta : Antara Pustaka Utama, 2008, hal 440-441.

Kenapa tidak meninggalkan komentar?

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.