DJENDERAL PANGGABEAN DILANTIK SEBAGAI PANGAD

DJENDERAL PANGGABEAN DILANTIK SEBAGAI PANGAD

Pertinggi Disiplin TNI dan Tindakan tegas Kedalam

*Terdapat Oknum Jang Tjemarkan AD.

*Komentar LN : Peristiwa Penuh Arti; Terasa Usaha2 Sistematis Djelekkan ABRI [1]

 

Djakarta, Kompas

Djenderal Soeharto telah diberhentikan dengan hormat dari djabatannja sebagai Panglima Angkatan Darat oleh Presiden Soeharto, jang mengangkat Djenderal M. Panggabean sebagai penggantinja. Keputusan penghentian dan pengangkatan jang sudah mulai berlaku pada tanggal 1 Mei 1968 itu, diwudjudkan dalam pelantikan Djum’at, tanggal 17 Mei, di halaman belakang markas Besar Angkatan Darat, Djakarta.

Dalam pidato pada upatjara, jang dihadiri oleh pedjabat2 militer dan sipil maupun para atase militer asing itu, Presiden Soeharto a.l. mengemukakan, bahwa Angkatan Darat harus terus meningkatkan tindakan2 mempertinggi disiplin TNI dan tindakan tegas kedalam, terutama terhadap sementara oknum-oknum anggotanja, jang njata2 telah melakukan perbuatan tidak bertanggungdjawab jang mentjemarkan nama baik Angkatan Darat.

PERISTIWA penting itu disiarkan djuga oleh semua radio luar negeri Djum’at sore, dengan berbagai komentarnja. Antara lain diketengahkan, bahwa tindakan Presiden Soeharto melepaskan kedudukannja sebagai Panglima Angkatan Darat, ini merupakan suatu langkah penting dalam rangka pelaksanaan re-organisasi Angkatan Bersendjata Indonesia dan erat hubungannja pula dengan pembentukan “Kabinet Pembangunan”, jang “mungkin akan diumumkan minggu depan”.

Perombakan Besar2an

KOMENTAR tsb agaknja dilatarbelakangi djuga oleh utjapan Presiden dalam pelantikan itu, jang menegaskan bahwa runtuhnja Orla dan tegaknja Orba, jang bertudjuan melaksanakan kemurnian Pantjasila dan UUD 1945, menuntut adanja perombakan besar2an dalam segala bidang kehidupan: baik politik ketatanegaraan, ekonomi sosial maupun keseluruhan sikap mental.

Tugas nasional kita jang masih dan bahkan makin luas dan berat ialah mengisi kemerdekaan dengan tindakan2 njata, rasionil dan kesungguhan hati, melalui serangkaian pembangunan jang bertahap dan berentjana. Hal ini benar-benar memerlukan konsolidasi aparatur, jang harus terus menerus ditingkatkan.

Suara2 tidak Sehat

Menanggapi suara2 jang kurang sehat terhadap Angkatan Bersendjata, Presiden mengatakan dari peranan dan sikap ABRI jang didjalankan sampai saaat ini tampak djelas, bahwa ABRI adalah djustru pelopor jang dengan tegas menjatakan dan berusaha agar kemurnian Pantjasila dan UUD 45 dilaksanakan.

Oleh karena itu setiap anggota ABRI akan dapat teguh hati, pendirian, sikap dan perbuatannja, karena achir2 ini terasa ada tjara dan usaha2 jang setjara sistematis berusaha terus-menerus mentjela dan mendjelekkan nama baik ABRI.

Presiden djuga mengetengahkan sekali lagi, bahwa ABRI tidak haus kekuasaan apalagi akan kekuasaan apalagi akan menjelewengkan kearah sistim kekuasaan atau diktatur militer.

Mengenai PKI Presiden menegaskan, bahwa sekarang ini djelas terbukti sisa2 kekuatan PKI telah berusaha mengkonsolidasikan dirinja.

Pesan Kepada Pangad Baru

ACHIRNJA Presiden menjampaikan pesan singkat kepada Pangad jang isinja a.l. laksanakan dengan tegas dan tanpa ragu2 setiap tugas jang dipertjajakan kpd Angkatan Darat.

Melakukan setjara terus menerus dan dengan ksatria interospeksi dan retrospeksi kedalam tubuh sendiri untuk kesempurnaan dan berhasilnja pengabdian serta pelaksanaan tugas.

Jang Hadir

DALAM pelantikan ini tampak hadir keempat Panglima Angkatan, para menteri a.l Sri Sultan Hamengku Buwono IX , Drs Frans Seda, Ir. Sanusi, Prof Tojib Hadiwidjaja, Ketua MPRS Djen. AH Nasution bersama dengan para wakilnja. Tampak pula Djaksa Agung Maj Djen Soegih Arto, Laksmu (L) Harjono Nimpuno. Laksmu (U) L Wattimena, Pangak lama Sutjipto Judodihardjo, para Pangdan dan perwira2 tinggi lainnja.

Selesai upatjara diadakan ramah tamah dan kesempatan memberikan utjapan selamat kepada Pangad di Aula MBAD. (DTS)

Sumber : KOMPAS (17/05/1968)

[1] Dikutip sesuai tulisan dan ejaan aslinya dari buku “Presiden RI Ke II Jenderal Besar HM Soeharto dalam Berita”, Buku II (1968-1971), Jakarta: Antara Pustaka Utama, 2008, hal. 128-130.

Kenapa tidak meninggalkan komentar?

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.