Diusulkan Menjadi KSAD

Diusulkan Menjadi KSAD[1]

 

PADA waktu Panglima Mandala Mayor Jenderal Soeharto sedang memimpin Operasi Jayawijaya, Juni 1962, struktur komando tentara waktu itu, Angkatan Perang Republik Indonesia (APRI), akan dirubah menjadi Angkatan Bersenjata Republik Indonesia (ABRI), dan KSAD Nasution akan ditetapkan sebagai Panglima ABRI.

Karenanya, kembali Presiden Soekarno meminta nama-nama perwira Angkatan Darat yang layak menggantikan Nasution sebagai KSAD.

Adapun nama-nama yang diajukan oleh KSAD Nasution kepada Presiden Soekarno adalah; Mayor Jenderal A Yani, Mayor Jenderal Soedirman (ayah Basofi Soedirman), dan Mayor Jenderal Soeharto.

Dari nama-nama yang diajukan, simulasi pertimbangannya sebagai berikut; Mayor Jenderal Soedirman dikenal sebagai jenderal santri yang pasti tidak akan mendukung konsep Nasakom (Nasionalis Agama Komunis) yang sedang genjar-genjarnya didengungkan oleh Presiden Soekarno.

Mayor Jenderal Soeharto sedang memimpin operasi militer Jayawijaya sebagai Panglima Komando Mandala, membutuhkan persiapan yang tidak mudah jika panglima yang sedang memimpin operasi diganti.

Sedangkan Jenderal A Yani, perwira alumni Sesko dari Amerika adalah jenderal yang fasih berbahasa Inggris dan Belanda, bahasa “gaul” di lingkungan Istana pada waktu itu, dan ia pun kerap diundang oleh Presiden Soekarno menghadiri pesta tari lenso di Istana.

Pada waktu itu Presiden Soekarno sedang gandrung menari lenso yang setiap diadakan di Istana, KSAD Nasution tidak pernah hadir. Akhirnya Presiden Soekarno menetapkan Mayor Jenderal A Yani sebagai KSAD.

Memang sejarah tidak bisa berandai, namun, andaikan Mayor Jenderal Soeharto yang ditetapkan menjadi KSAD, maka apa yang akan menimpanya pada malam biadab penculikan para jenderal pada I Oktober 1965 yang dilakukan oleh pemberontak G30S/PKI? Sangat mungkin Jenderal Soeharto akan menjadi salah seorang dari “Pahlawan Revolusi”.

Tidak saja Yani kerap hadir memenuhi undangan Presiden Soekarno di Istana, sebelumnya, Presiden Soekarno membentuk lembaga baru yaitu, Komando Operasi Tertinggi (KOTI) dan beliau sebagai Panglima Tertinggi KOTI sedangkan Jenderal Yani sebagai Kepala Staf.

Sejak itu, Yani lebih kerap berkantor di Istana sebagai Kepala Staf KOTI, daripada di MBAD sebagai KSAD.

Sedangkan Nasution yang semula akan dipromosi menjadi Panglima ABRI, terkecoh karena hanya sebagai Kepala Staf ABRI, jabatan yang tidak lagi memiliki kewenangan komando pada tentara atau pasukan, hanya sekedar mengurus yang bersifat administrasi tentara.

____________________________________________________________

[1]Noor Johan Nuh,  “Pak Harto dari Mayor ke Jenderal Besar”, Jakarta : Yayasan Kajian Citra Bangsa, hlm 68-70.

Kenapa tidak meninggalkan komentar?

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.