Dipanggil Oleh Jenderal Soedirman

Dipanggil Oleh Jenderal Soedirman[1]

 

SAMPAI tiba surat Jenderal Soedirman untuk Sri Sultan yang isinya meminta Letnan Kolonel Soeharto datang ke Markas Gerilya Jenderal Soedirman, untuk memberi penjelasan situasi politik dan keamanan sebelum beliau memutuskan kembali ke Yogyakarta atau tidak.

Mengenai pemanggilan Leman Kolonel Soeharto oleh Jenderal Soedirman untuk datang ke Markas Perang Gerilya, dalam biografinya yang ditulis Ramadhan KH, ditulis;

“Sebenarnya saya ini bukan perwira yang terhitung dekat dengan Jenderal Soedirman. Saya bertemu dengan beliau pada saat-saat penting saja. Tetapi toh keganjilan terjadi.”

Memang menjadi ganjil karena dari banyak petinggi TNI yang berada di Yogyakarta pada waktu itu, mengapa Letnan Kolonel Soeharto yang diminta datang menemui Jenderal Soedirman?

Bermula pada waktu Sri Sultan menjemput Presiden Soekarno, Wakil Presiden Mohammad Hatta dan para tawanan lainnya yang ditahan di Pulau Bangka, di lapangan udara Maguwo, pada 7 Juli 1949—Sri Sultan bertemu dengan Rosihan Anwar, pemimpin redaksi koran Pedoman. Dalam pertemuan itu Sri Sultan meminta Rosihan bersama Letnan Kolonel Soeharto esok hari menemui Jenderal Soedirman di markas gerilya.

Keesokan harinya, pukul 07.00, Rosihan bersama fotografer Ipphos Frans Mendur, berjumpa dengan Letnan Kolonel Soeharto di ujung jalan Malioboro—depan kantor Pos—datang mengendarai Jeep. Ini perjumpaan mereka pertama kali hingga perjalanan ke markas gerilya Pak Dirman yang butuh waktu sekitar 14 jam, menurut Rosihan, Letnan Kolonel Soeharto hanya sekali berbicara dengannya yaitu pada saat menawarkan minum air kelapa muda.

“Monggo,” degan kata Soeharto.

Pengalaman ini membuat Rosihan menyebut Soeharto sebagai ‘mister kulino meneng’.

Setiba di markas gerilya Pak Dirman, mereka berempat berbincang sejenak di beranda rumah itu. Pak Dirman mengatakan pada Rosihan tentang ketidaksetujuannya pada treace Bangka, dan menyebut Rosihan adalah wartawan pertama yang berjumpa dengannya pada saat perang gerilya.

Selanjutnya Pak Dirman mengajak Letnan Kolonel Soeharto masuk ke dalam satu kamar di rumah itu dan mereka bicara empat mata. Kekhawatiran Pak Dirman bahwa Belanda hanya bersiasat dalam perundingan seperti dilakukan kepada Pangeran Diponegoro, dapat dijelaskan oleh Letnan Kolonel Soeharto, hingga akhirnya Pak Dirman bersedia kembali ke Yogyakarta.

Sebelumnya, 3 Juni 1949, Jenderal Soedirman mengeluarkan surat no 27/PB/D-/49, menetapkan Letnan Kolonel Soeharto sebagai Pimpinan Militer Tertinggi di Yogyakarta.

____________________________________________________________

[1]Noor Johan Nuh,  “Pak Harto dari Mayor ke Jenderal Besar”, Jakarta : Yayasan Kajian Citra Bangsa, hlm 25-26.

Kenapa tidak meninggalkan komentar?

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.