DILEMA KESEHATAN PRESIDEN Peneliti pada Lembaga llmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) Jakarta Oleh Dr. Asvi Warman Adam

DILEMA KESEHATAN PRESIDEN

Peneliti pada Lembaga llmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) Jakarta Oleh Dr. Asvi Warman Adam[1]

 

Jakarta, Media Indonesia

PADA awal Juli 1996 ini mantan dokter kepresidenan Prancis , Claude Gubler, dijatuhi hukuman percobaan selama 4 bulan oleh pengadilan Paris karena dianggap membocorkan rahasia kesehatan Presiden Mitterand. Yang menjadi dilema adalah kapan sebaiknya dan kapan dibolehkan penyakit Kepala Negara itu diketahui rakyatnya. Bila ini dikemukakan secara dini, yang bersangkutan tentu tidak boleh mencalonkan diri dalam pemilihan Presiden, karena salah satu persyaratan untuk menduduki jabatan tertinggi itu di mana saja di dunia adalah sehat. Namun sebaliknya, merupakan hak pribadi seseorang apapun jabatannya agar hal ikhwal kesehatannya tidak diketahui oleh orang lain. Di lain pihak bila seorang pemimpin negara tiba-tiba diberitakan sakit, ini akan berpengaruh kepada perkembangan ekonomi negara yang bersangkutan. Paling tidak kurs mata uang negara tersebut akan menurun pada pasar­pasar tertentu.

Tulisan ini menyoroti kasus yang dialami mantan Presiden Prancis Francois Mitterand sebagai bahan refleksi bagi kita.

Dalam sejarah, “seandainya” merupakan kata yang dapat membentuk kalimat tanya yang menjengkelkan. Apa yang akan terjadi, seandainya si anu yang jadi raja, bukan si polan. Kenyataannya, memang si anu tadi yang paling berkuasa di kerajaan tersebut. Meskipun demikian pertanyaan semacam ini toh diperlukan juga bukan hanya sebagai latihan berpikir tetapi juga untuk melakukan kajian yang eksploratif Walaupun mungkin ini sudah keluar dari medan studi sejarah.

Seandainya Irak tidak melakukan invasi ke Kuwait pada bulan Agustus 1990, barangkali oplah surat kabar Indonesia tidak naik sekian persen. Karena Perang Teluk itu ternyata mendongkrak animo masyarakat untuk membeli koran, tidak saja sekedar menonton berita di televisi. Yang baru diketahui sekarang, jika tentara Saddam Husein itu tidak menyerang tetangganya, mungkin Presiden Mitterand sudah mengundurkan diri sejak tahun 1990. Dengan konsekuensinya, kebijakan luar negeri Prancis bisa saja bergeser (atau dialihkan oleh Presiden penggantinya) dan situasi geopolitik Eropa mungkin berubah.

Awal Juli 1990 Presiden Francois Mitterand bertengkar dengan istrinya, Danielle.

Di dalam surat kabar Le Monde ( 16-17-18 Januari 1996) tidak disebutkan apa fasal keributan itu. Apakah masalah antara isteri “tua” dengan isteri “muda”? Bukankah belakangan ini terungkap bahwa Presiden Mittrand juga mempunyai isteri tidak resmi yang bernama Annie Pingeot dan memperoleh seorang putri cantik, Mazarine, yang lahir tahun 1974.

Yang jelas Ibu Negara ini mengambek dan pergi menginap ke sebuah hotel di Pays Basque. Dalam kemelut rumah tangga itu, tanggal 20 Juli 1990 Mitterand mengontak dokter pribadinya Claude Gubler agar menyiapkan pernyataan kesehatan yang mengungkapkan bahwa ia telah menderita kanker prostat sedari awal masa kepresidenannya tahun 1981. Ini berarti ia tidak dapat menjalankan tugas kepresidenan dan mengundurkan diri. Michel Charasse yang merupakan sahabat dan penasihat Mitterand, meminta sang Presiden agar menunda dulu niatnya itu dan memikirkannya kembali masak-masak. Tanggal 2 Agustus 1990 Irak menyerbu Kuwait. Dengan seketika persoalan kesehatan Presiden terlupakan. Seluruh perhatian dunia, termasuk Prancis, tertuju ke Timur Tengah. Bahkan Prancis juga ikut mengirimkan pasukan terbaiknya ke sana.

Kanker Presiden

Dalam buku yang menghebohkan Le Grand Secret (Rahasia Besar) yang terbit 2 hari setelah Mitterand wafat tanggal 8 Januari 1996 lalu, Dr. Gubler yang telah menjadi dokter pribadi sang Presiden sejak tahun 1969, mengungkapkan bahwa pasien utamanya itu telah didiagnosa dan mengalami pengobatan kanker prostat sejak November 1981. Gubler sendiri memperkirakan Mitterand hanya mampu bertahan sekitar 3 tahun setelah itu, kenyataan ia masih hidup sampai 15 tahun kemudian. Masih dapat dipertanyakan apakah keterangan dokter pribadi itu akurat Prof. Bernard Debre yang juga ikut menangani kasus kesehatan Presiden itu pada bulan September 1992 menyatakan dalam majalah kedokteran Impact Medecins bahwa Mitterand belum dirawat sampai tahun 1992. Antara tahun 1992 sampai 1995 memang Presiden ini mengalami tiga kali operasi. Profesor ini lebih optimis terhadap kesehatan Mitterand yang diperkirakan bisa bertahan antara 5 sampai 15 tahun setelah tahun 1992. Ternyata malaikat maut bertindak lebih gesit dari diagnosa profesor kanker tadi. Buku “Rahasia Besar” itu diputuskan dilarang beredar oleh Pengadilan Paris atas permintaan keluarga Miterand. Alasannya karena buku itu mengungkapkan rahasia medis. Penerbit juga diwajibkan membayar denda sebanyak sepuluh kali dari harga buku tersebut untuk setiap ekslemplar yang terjual. Masalahnya, sebelum keputusan Pengadilan itu dijatuhkan tanggal 11 Januari pada hari pemakaman Mitterand dalam tempo 24 jam setelah buku itu diluncurkan (tanggal 10 Januari) sudah terjual sebanyak 40.000 eksemplar.

Namun persoalan ini tidak berhenti sampai di sini saja. Apakah sang dokter bisa dituntut karena membocorkan rahasia kesehatan pasiennya. Belum tentu. Pertama, di Prancis memang ada peraturan yang melarang dokter mengumumkan hasil pemeriksaan seseorang ke luar dari rumah “maison”. Tetapi apakah Elysee (Istana Kepresidenan) itu termasuk dalam kategori “rumah”? Kedua, Presiden Prancis juga harus mengisi formulir, kesehatan baik setiap 6 bulan sekali yang diparaf oleh dokter istana. Bukankah itu berarti selama 2 periode masa kepemimpinannya Presiden Mitterand telah memberikan laporan kesehatan palsu.

Namun di lain pihak alasan Mitterand untuk mengumumkan sakitnya itu juga dapat dimengerti. Pertama, bila itu terjadi ia harus meletakkan jabatannya. Karena didalam Konstitusi Prancis Fasal 7 disebutkan bila Presiden Prancis berhalangan, maka tugasnya akan dijalankan sementara sampai pemilu berikutnya oleh Ketua Senat. Berhalangan itu ditafsirkan sebagai tidak dapat melakukan tugas karena alasan kesehatan, diculik, hilang atau gila. Kedua, pendahulunya juga tidak memenuhi ketentuan tersebut. Georges Pompidou tidak sempat menyelesaikan tujuh tahun masa jabatannya karena meninggal akibat penyakit kanker. Meskipun sudah diketahui sebelumnya oleh yang bersangkutan, namun rakyat Prancis hanya mendapat informasi bahwa Presiden Pompidou menderita sakit influensa berat.

Dalam kasus di atas terdapat dilema antara privacy seorang Kepala Negara dengan kepentingan umum. Rakyat juga perlu tahu kesehatan pemimpin tertingginya. Bukankah ini juga berkaitan dengan soal suksesi. Ah, seandainya hal itu diketahui lebih awal. Seandainya.

Sumber : MEDIA INDONESIA (13/07/1996)

________________________________________________________________________

[1] Dikutip sesuai tulisan dan ejaan aslinya dari Buku “Presiden Ke II RI Jenderal Besar HM Soeharto dalam Berita”, Buku XVIII (1996), Jakarta : Antara Pustaka Utama, 2008, hal 718-721.

Kenapa tidak meninggalkan komentar?

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.