DIAM-DIAM, TAUFIK SUDAH TUJUH TAHUN PACARI WINAMI

DIAM-DIAM, TAUFIK SUDAH TUJUH TAHUN PACARI WINAMI[1]

 

Oleh M. Tohamaksun Jakarta, Antara

SEA Games XIX/1997 tampaknya menjadi kenangan yang manis bagi pasangan Taufik dan Winami putra dan putri asal Lampung, yang secara diam-diam telah menjalin tali kasih selama sekitar tujuh tahun.

“Ya, sudah cukup lamalah, sekitar tujuh tahun.” kata Taufik kepada wartawan di Jakarta, Senin, ketika didesak mengomentari kebenaran isu hubungan cintanya dengan Winami.

Ketika ditanya ANTARA kapan targetnya memasuki mahligai rumah tangga, Taufik dengan malu-malu dan menggeliat badannya mengatakan,

“Belum tahu”.

Bagi Taufik (23) dan Winami (22), SEA Games XIX itu kenangan yang manis, karena mereka sama-sama meraih medali emas untuk kontingen Indonesia pada event yang sama dan dalam waktu yang hampir sama, hanya selisih beberapa jam saja.

Taufik, yang lahir di Pringsewu, Lampung, 15 Juni 1974 adalah putera pasangan A. Jahidi dan Asiah, wiraswastawan di Kabupaten Tanggamus.

Pada SEA Games XIX/1997, ia menyumbangkan medali emas bagi kontingen Indonesia pada kelas 59kg putra cabang angkat besi, dengan total angkatan 270kg.

Angkatan terbaik Taufik di SEA Games XIX untuk jenis angkatan snatch adalah 120kg dan clean&jerk 150kg. Angkatan clean&jerk Taufik itu diraih pada angkatan kedua, karena pada angkatan ketiga ia akan mencoba mengangkat barbel 157,5kg, namun gagal.

“Nggak tahu, kaki saya rasanya capek sekali.” katanya.

Selain menyumbangkan emas untuk Indonesia, Taufik juga memecahkan tiga rekor SEA Games, yakni untuk angkatan snatch dari 115kg menjadi 120kg, clean&jerk dari 147,5kg menjadi 150kg dan angkatan total dari 260kg menjadi 270kg.

Total angkatan Taufik 270kg, mengalami kemajuan dibanding pada saat ia meraih emas pada SEA Games Chiang Mai 1995 yang hanya mampu 260kg.

Sementara itu, Winami juga menyumbangkan emas untuk kontingen Indonesia pada kelas 50kg putri, dengan total angkatan 190kg.

“Doping” Saya

Menjawab pertanyaan ANTARA, Taufik secara terus terang mengatakan bahwa ia telah menjalin kasih dengan Winami, yang kini sama-sama bekerja sebagai Pegawai Negeri Sipil (PNS) di PT Pos dan Giro Bandar Lampung.

Pekerjaan sebagai PNS yang mereka raih itu antara lain penghargaan pemerintah dan PB PABBSI yang diprakarsai Ketua Umum PB PABBSI Soesilo Soedarman atas prestasi mereka dalam olahraga angkat besi baik tingkat nasional, regional, maupun Internasional.

Ketika ditanya apakah hubungan cintanya dengan Winami selama ini juga menjadi pemacu dan memotivasinya dalam berlatih dan berlomba sehingga meraih emas, Taufik membenarkannya.

“Ya, itu salah satunya yang menambah motivasi.” katanya.

Bahkan, ketika Taufik berlomba angkat besi SEA Games XIX dan sedang berjuang mengangkat barbel di kelas 59kg putera, kekasihnya, Winami, yang lebih dahulu meraih emas juga menonton kehebatan Taufik di panggung serta memberikan dorongan.

“Enteeeeeeng……., enteeeeeng,” teriak Winami saat kekasihnya mengangkat barbel. Dan akhirnya terbukti Taufik pun menang dan meraih emas.

“Pantesaaan, tadi saat kamu nggangkat barbel Winami teriak enteng dari belakang, itu rupanya kode memacu semangat ya?” tanya wartawan kepada Taufik.

“Ya, itu salah satu doping saya.” jawab Taufik sambil tersenyum malu-malu.

Sementara itu, Winami sendiri yang dihubungi tentang masa depannya, apakah sudah ada rencana akan menikah dan siapa kekasihnya, cenderung menutupi rahasia itu, bahkan menolak mengungkapkan siapa kekasihnya.

Taufik dan Winami adalah dua dari empat lifter Indonesia yang semuanya menyabet empat emas yang dilombakan pada hari pertama pertandingan angkat besi SEA Games XIX di stadion tenis tertutup Senayan Jakarta Minggu (12/10).

Dua rekannya yang lain adalah Sri Indriyani (19), juga asal Lampung, yang pada SEA Games XIX juga memetik kenangan manis, dengan menyabet emas di kelas 46kg puteri dengan total angkatan 175kg.

Yang lain lagi adalah Hari Setiawan (27), lifter Jawa Barat yang menyabet emas SEA Games XIX untuk kontingen Indonesia pada kelas 54kg putra.

Dari empat lifter yang menyapu bersih empat emas yang dilombakan pada hari pertama cabang angkat besi SEA Games, tiga di antaranya, yakni Taufik, Winami, dan Sri Indriyani, adalah penghuni padepokan angkat besi “Gajah Lampung” di Pringsewu.

Di sana, ketiganya digembleng habis-habisan oleh pelatih nasional Imron “Si Gajah Lampung” Rosadi, bersama tiga lifter Lampung lain yang juga terpilih menjadi tim inti SEA Games XIX, yakni Bastiah, Sriyani, dan I Nyoman Sudarma.

Sementara itu, Hari Setiawan berasal dari Jawa Barat dan selama pelatnas SEA Games digodok di padepokan angkat besi Indonesia Wisma Gajah Sena, Bogor, Jawa Barat.

Hobi Bola

Berbicara tentang Taufik, ada hal menarik yang terdapat pada dirinya. Bagi putera kelahiran Pringsewu itu, meski cabang olahraga yang digelutinya angkat besi, namun hobinya menyaksikan pertandingan sepak bola.

Pemegang gelar Lifter Terbaik itu mengantongi sederetan prestasi di angkat besi, di antaranya Lifter Terbaik pada Kejuaraan Wilayah di Padang 1993 dan Lifter Terbaik di Kejuaraan Nasional PHI 1992.

Prestasinya yang lain adalah meraih emas untuk kontingen Indonesia di SEA Games XVIII/1995 di Chiang Mai dan peraih emas di kejuaraan Asia Foch-reng Cup di Taiwan 1992.

“Setiap ada pertandingan sepakbola, saya selalu menonton, apalagi kalau yang main Si Kijang Argentina, Gabriel Batistuta.” katanya seperti dikutip Harian Umum Lampung Post beberapa hari menjelang SEA Games XIX/1997 yang dibuka oleh Presiden Soeharto.

Mengapa ia tertarik pada sepakbola, Taufik mengatakan olahraga tersebut membuat semangat baru selalu timbul, karena pemain bola selalu bergerak dan berlari mencari posisi yang pas untuk menjebol gawang lawan.

Tentang olahraga angkat besi yang ia pilih untuk digeluti, Taufik mengaku itu karena ada dorongan dari orang tua dan lebih cepat untuk ikut kejuaraan.

Di mata pelatihnya, Imron Rosadi, Taufik merupakan atlet yang memiliki naluri dan mental tanding yang baik, dan memang selama ini Imron selain menggembleng atlet agar berprestasi puncak, juga meningkatkan ketahanan mental mereka.

Imron selalu menegaskan, meskipun atlet itu prestasinya baik sampai menjelang kejuaraan penting sekalipun, namun jika mentalnya tiba-tiba bobrok dan tidak bisa diingatkan, ia tidak segan-segan mencoretnya.

Taufik sendiri mengagumi pelatihnya, yang telah membinanya sejak nol sampai berprestasi gemilang dan berjaya meraih emas serta menggondol sejumlah hadiah dan penghargaan, sampai di event SEA Games 1997 ini.

Bravo Taufik, berjuta jiwa bangsa Indonesia masih terus mengharapkan prestasimu untuk mengangkat nama negara di banyak event yang lebih besar lagi di tingkat dunia.

Sumber : ANTARA (24/10/1997)

__________________________________________________________

[1] Dikutip sesuai tulisan dan ejaan aslinya dari Buku “Presiden Ke II RI Jenderal Besar HM Soeharto dalam Berita.” Buku XIX (1997), Jakarta : Antara Pustaka Utama, 2008, hal 624-627.

Kenapa tidak meninggalkan komentar?

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.