DIALOG ANTAR AGAMA MASIH PERLU DIINTENSIFKAN

DIALOG ANTAR AGAMA MASIH PERLU DIINTENSIFKAN[1]

 

Oleh Andy Jauhari Jakarta, Antara

Dialog antar agama yang lebih intensif di Indonesia agaknya merupakan satu titik tekan penting yang harus diambil hikmahnya dari kasus kerusuhan di Situbondo, Jawa Timur, yang terjadi pada tanggal 10 Oktober 1996.

Bahkan, Presiden Soeharto sendiri mengatakan, Departemen Agama dan Badan Musyawarah Antar Umat Beragama perlu mengadakan pertemuan berkala, sehingga kasus seperti di Situbondo bisa dihindari.

“Pertemuan itu perlu dilakukan secara teratur sehingga tidak insidentil seperti sekarang.” kata Pak Harto, seperti ditirukan Sekretaris Umum Persekutuan Gereja­Gereja Indonesia (PGI) JM Patisiana, seusai diterima Kepala Negara di Jakarta, Selasa (5/11).

Ketika mengomentari peristiwa Situbondo, kata Patisiana, Presiden Soeharto mengatakan, hal itu merupakan ujian, baik bagi pemerintah maupun umat beragama.

Oleh karena itu, katanya, tokoh umat beragama diminta untuk lebih meningkatkan pembinaan umatnya.

Untuk menghindari kerusuhan semacam itu Kepala Negara mengemukakan, pemerintah khususnya Departemen Agama perlu mengadakan pertemuan rutin dengan anggota Badan Musyawarah Antar Umat Beragama. Misalnya, tiap tiga bulan dan bukannya secara insidentil.

Peristiwa kerusuhan tersebut dilaporkan membawa korban lima orang meninggal dunia, sehingga hampir semua pimpinan dan tokoh organisasi keagamaan di Indonesia sangat menyesalkan kejadian yang dapat mengganggu semangat kerukunan hidup beragama di tanah air itu.

Sementara itu, Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PB-NU) Abdurrahman Wahid secara terbuka menyampaikan permintaan maaf atas perlakuan massa terhadap perusakan dan pembakaran rumah ibadah di Situbondo itu.

Bagi Gus Dur, panggilan akrab Abdurrahman Wahid, kerusuhan di Situbondo itu mengandung hikmah, yakni bisa mendorong kesadaran pentingnya menumbuhkan dialog antar agama.

“Kita jangan berhenti pada kepedihan. Kalau tak dianalisa, kerusuhan di Situbondo akan bisa menjadi ‘opium’ sehingga masalahnya akan tetap bisa terjadi lagi karena kita tak mau mengenal dan mengerti pemeluk agama lain.” katanya.

Perlu Dialog

Menurut Abdurrahman Wahid, ada dua hikmah yang bisa dipetik dari peristiwa tersebut yakni meningkatnya kewaspadaan yang sungguh-sungguh terhadap kemungkinan munculnya kasus yang sama di masa datang.

Selain itu, katanya, juga mempererat kerjasama antar umat beragama dalam bentuk-bentuk yang lebih kongkrit, seperti mengadakan kegiatan bersama.

Kerjasama itu akan lebih baik lagi, kalau yang dibina ke arah kerjasama dan dialog antar umat beragama adalah kalangan mudanya.

Gus Dur mencontohkan, Fatayat NU telah meminta izin untuk mengadakan jambore dengan pemudi Kristen. Ia menilai, hal itu bisa dilakukan, bahkan kalau perlu juga dilakukan dengan pemudi Katholik, Hindu dan Budha.

“Jadi kitaharus saling kenai, dialog, komunikasi dan bekerjasama.” katanya.

Ia menilai , masih ada titik kedekatan yang bisa dipertemukan antar umat beragama.

“Kita kan hanya berbeda dalam konsepsi tentang Tuhan, tapi konsep kerohanian, kemanusiaan dan sebagainya masih banyak yang bisa dipertemukan dan didialogkan.” katanya.

Upaya dialog intensif antar umat beragama sehingga tidak muncul kasus serupa seperti di Situbondo itu juga disetujui oleh anggota Komisi Nasional Hak Asasi Manusia (Komnas-HAM), Clementino dos Reis Amaral.

“Dialog seperti itu sangat, sangat, sangat penting dan dibutuhkan, karena dengan begitu semua permasalahan antar umat beragama dapat dibicarakan.” kata anggota Komnas HAM dari Provinsi Timor Timur itu kepada ANTARA.

Merujuk pada kasus yang disebutnya mirip dengan kejadian kerusuhan yang berlatar belakang Suku, Agama, Ras, dan Antar golongan (SARA) di Timtim bulan September tahun lalu, adanya suatu wahana dialog menunjukkan hasil positif sehingga terjadinya benturan.

Dialog intensif itu, katanya, tidak perlu dibuat formal dan besar, tetapi akan lebih baik jika terbentuk dalam komunitas lokal di wilayah setempat.

“Kiai atau ulama dapat membuat pertemuan intensif sebulan sekali dengan Pastor Paroki atau Pendeta, serta pimpinan agama lainnya di wilayah setempat. Itu akan menghasilkan hal yang lebih baik.” katanya.

Agar lebih “membumi”, menurut Clementino yang notabene pemah terlibat untuk menangani kasus Dili dan Situbondo itu, dialog intensif antar umat beragama idealnya juga diiringi kerjasama konkret.

Dalam hal-hal kehidupan sosial kemasyarakatan wujud dialog melalui ide untuk melakukan kegiatan bersama, seperti jambore bersama antara generasi muda dari berbagai agama menurut dia perlu segera diwujudkan, katanya.

Sementara itu, hal senada yakni perlunya dialog antar agama juga dikemukakan oleh seorang rohaniawan Kristen Pendeta Djaka Soetapa Th. D dalam suatu diskusi mengenai “Gereja dan Masalah Israel-Palestina” yang diadakan di Ciawi Jawa Barat, Sabtu (26/10). Diskusi itu merupakan bagian sari seminar yang diselenggarakan Kelompok Kerja Gereja Kristen Indonesia (Pokja GKI) Jawa Barat.

Menurut Djaka Soetapa, dialog yang sejati antar umat beragama perlu dikembangkan terus menerus sehingga tumbuh menjadi kesadaran bersama di kalangan penganut agama.

Ia mengatakan, dialog yang dikembangkan sepatutnya berkembang dari kesadaran umat dan hal ini mesti ditumbuhkan bukan karena diatur oleh Departemen Agama.

Mengadakan dialog dengan sesama, sepengetahuan dia, telah digariskan dalam ajaran Islam maupun Kristen.

Kisah penciptaan Taman Eden yang menceritakan bagaimana manusia diciptakan untuk ditempatkan di bruni sekaligus untuk mengurusi bumi, diambilnya contoh untuk menjelaskan perlunya proses dialog dimaksud.

Hal itu, katanya, mencenninkan bagaimana manusia sebagai khalifah (wakil) Tuhan mesti berinteraksi atau berdialog dengan sesama melestarikan ciptaan Tuhan.

Adanya ayat-ayat semacam itu, menurut dia, mencerminkan bahwa dialog bisa dikembangkan oleh sesama umat beragama.

Oleh karena itu, kata Djaka Soetapa, sebagai khalifah Tuhan di bumi, baik penganut Kristen maupun Islam secara bersama-sama bertanggungjawab atas apa yang telah diciptakan.

Sementara itu, peneliti pada Puslitbang Politik dan Kewilayahan Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) DR. Riza Sihbudi menekankan pula pentingnya dialog antar umat beragama.

Menurut dia, meskipun dialog tersebut penting, tetapi hal itu mesti disertai dengan penyelesaian tuntas berbagai akar persoalan yang bersumber pada kesenjangan politik dan sosial.

Ia mengatakan, hal yang membuat orang Indonesia cepat emosi, khususnya bila berkaitan dengan masalah Suku, Agama, Ras dan Antar-golongan (SARA), karena ada sesuatu yang disebutnya “tersurmbat”.

Hal itu lah yang menurut Riza Sihbudi perlu senantiasa mendapat perhatian serius dari semua pihak.

Wakil Rois Syuri’ah PB. NU KH. Sahal Mahfudz, MA juga melihat bahwa peristiwa di Situbondo sama sekali bukan semata-mata persoalan agama, akan tetapi lebih merupakan persoalan sosio-kultural berkaitan dengan warga kota setempat.

“Kalau anggapan selama ini menyebutkan peristiwa kerusuhan itu dikatakan sebagai masalah agama, perlu dikaji kembali. Jika mau terbuka, itu justru lebih terkait dengan warga kota setempat.” kata Kyai Sahal dalam satu seminar di Institut Agama Islam Negeri (lAIN) Walisanga, Purwokerto, Jawa Tengah.

Untuk itu, ia juga menyetujui adanya suatu dialog antara umat beragama.

Bagi KH Sahal Mahfudz bentuknya adalah dialog yang terus menerus dan tidak satu arah, sehingga di kalangan unsur masyarakat akan terbentuk pola pikir yang sama dan dapat melahirkan saling pengertian.

Sumber : ANTARA (08/11/1996)

________________________________________________________

[1] Dikutip sesuai tulisan dan ejaan aslinya dari Buku “Presiden Ke II RI Jenderal Besar HM Soeharto dalam Berita”, Buku XVIII (1996), Jakarta : Antara Pustaka Utama, 2008, hal 645-648.

Kenapa tidak meninggalkan komentar?

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.