DIA HARUS BUKTIKAN NON-KKN

DIA HARUS BUKTIKAN NON-KKN[1]

 

 

Jakarta, Bisnis

Pernyataan, HM Soeharto untuk mengundurkan diri dari jabatan Presiden dan kemudian digantikan oleh Prof. BJ. Habibie menimbulkan berbagai reaksi di kalangan masyarakat. Berikut ini pandangan mantan menteri dalam beberapa kabinet Soeharto yang kini menjadi tokoh gerakan reformasi Emil Salim yang diungkapkan dalam jumpa pers di DPR kemarin.

  • Apakah pergantian Presiden Soeharto kepada Prof. BJ Habibie itu merupakan pilihan yang terbaik untuk mengatasi krisis saat ini?

Ini lebih baik ketimbang kalau dia (Soeharto) kembali. Ini yang terbaik dari yang terburuk.

  • Bagaimana pendapat Anda mengenai pergantian Presiden dari Soeharto kepada BJ Habibie?

Pelimpahan jabatan Presiden kepada BJ Habibie memerlukan kejelasan. Misalnya, apakah sesuai dengan ketentuan yang berlaku. Dari aspek legal apakah dapat dipertanggungjawabkan. Itu memerlukan penjelasan. Karena itu maka jabatan tersebut tidak bisa dianggap sebagai Presiden yang akan melanjutkan tugasnya hingga 2003. Tetapi harus dilihat sebagai Presiden peralihan. Presiden Soeharto berhenti, ada Wapres, maka kekosongan tadi terisikan oleh Presiden peralihan atau Presiden sementara dan bukan Presiden tetap.

  • Apa Anda menerima sepenuhnya BJ Habibie sebagai Presiden?

Kami belum menerima Saudara Habibie sebagai Presiden jika syarat-syaratnya belum dipenuhi.

  • Apa syaratnya?

Pertama, menegakkan segera syarat non-KKN (kolusi, korupsi, nepotisme) terhadap diri dan keluarganya. Jadi dia harus membuktikan diri dan keluarga tidak terlibat dalam KKN. Kedua, kalau mengangkat anggota kabinet maka syarat KKN itu juga harus ditegakkan. Jadi anggota kabinet juga harus memenuhi syarat non-KKN dan mampu melaksanakan reformasi di segala bidang. Ketiga, memelihara persatuan dan kesatuan bangsa dalam proses pengambilan keputusan politik yang menjamin keanekaragaman agama, ras dan suku. Hal itu harus terjamin dalam proses pengambilan keputusan, demi persatuan dan kesatuan bangsa. Keempat, menjamin terlaksananya pemerintahan yang demokratis, transparan, dan jujur kepada rakyat. Kalau saudara Habibie mau diterima menjadi Presiden sementara, dia paling tidak harus memenuhi keempat syarat tersebut.

  • Bagaimana jika keempat syarat tersebut tidak dipenuhi?

Bila syarat-syarat itu tidak dipenuhi maka kami minta Sidang Istimewa (MPR) dalam waktu selambat-lambatnya tiga bulan. Ini selambat-lambatnya, kalau bisa lebih cepat lebih baik, untuk memilih Presiden dan Wapres.

  • Siapa yang menilai bahwa Presiden BJ Habibie memenuhi syarat tadi atau tidak?

Itu kita semua. Kita akan berkonsultasi dengan semua unsur-unsur masyarakat apakah Bung Habibie ada di jalur yang sesuai untuk mendorong kita kejurusan reformasi atau tidak.

  • Apakah Anda mendukung BJ Habibie sebagai Presiden RI menggantikan HM Soeharto?

Kami hanya mendukung jika dia bisa memenuhi keempat syarat tadi.

  • Bagaimana bila Presiden Habibie dapat memenuhinya?

Jika syarat-syarat yang kami ungkapkan itu dapat terpenuhi maka Saudara Habibie bisa melaksanakan agenda reformasi total, dengan membentuk tim reformasi yang bertugas membuat perundang-undangan yang mendukung proses reformasi. Tim reformasi terdiri dari tokoh-tokoh yang dianggap dapat dipertanggungjawabkan dalam menyusun program reformasi. Kemudian hasil proses reformasi, khususnya di bidang politik, merupakan pra syarat bagi dilaksanakannya Pemilu yang membentuk MPR dan DPR yang baru, yang harus bersidang selambat­ lambatnya enam bulan untuk memilih Presiden dan Wapres baru. Enam bulan itu untuk menyusun perundang-undangan dan Orsospol baru dan sebagainya. Jadi Presiden yang tetap yang baru adalah [Presiden] hasil MPR, hasil reformasi, Pemilu, UU dan sebagainya itu. Sebagaimana diketahui, MPR dan DPR sekarang ini masih produk dari keadaan yang lama. (ds)

Sumber : BISNIS INDONESIA (22/05/1998)

__________________________________________________________________________

[1] Dikutip sesuai tulisan dan ejaan aslinya dari Buku “Presiden Ke II RI Jenderal Besar HM Soeharto dalam Berita.” Buku XX (1998), Jakarta : Antara Pustaka Utama, 2008, hal 579-581.

Kenapa tidak meninggalkan komentar?

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.