DI PALEMBANG: SOEHARTO BISIKKAN TUN RAZAK ?

DI PALEMBANG: SOEHARTO BISIKKAN TUN RAZAK ?

Hasil Missi Cokropranolo ke Istana Malacanang [1]

 

Jakarta, Indonesia Raya

Presiden Soeharto dan rombongan kemarin tiba kembali di Jakarta dari kunjungan sehari di Palembang untuk berunding secara pribadi dengan Perdana Menteri Malaysia Tun Abdul Razak hari Sabtu lalu.

Kedua pemimpin rumpun Melayu itu merundingkan masalah yang menyangkut kepentingan kedua negara, masalah regional serta internasional, demikian Menteri Negara Mayjen Sudharmono mengatakan.

Menteri Luar Negeri Adam Malik mendampingi Kepala Negara dalam perundingan yang memakan waktu hampir dua jam dengan Tun Razak yang juga merangkap sebagai Menteri Luar Negeri di Gubernuran setelah selesai bersantap malam.

Kemarin Malik melanjutkan perundingannya dengan Tun Razak yang oleh kalangan peninjau diduga memperinci perundingan sebelumnya. Kedua belah pihak sengaja tidak mengeluarkan pengumuman resmi daripada dua perundingan itu.

Sementara itu Radio Australia semalam mengutip keterangan Adam Malik yang mengatakan, bahwa Malaysia akan mendahului Indonesia dalam memberi pengakuan kepada Peking. Menurut ABC Indonesia menyatakan tidak keberatan dengan langkah Malaysia itu.

Malaysia juga akan memberikan sekutu2nya dalam ASEAN mengenai sikapnya mengulurkan tangan kepada Peking itu dernikian ABC semalam.

Patut dicatat bahwa orang yang bertanggungjawab mengenai masalah pemulihan keamanan dan ketertiban Panglima Kopkamtib. Jenderal Soemitro juga menyertai rombongan presiden. Tetapi walaupun ia tidak hadir, dalam perundingan, Soeharto/Malik – Tun Razak, ia ikut pula memperkuat team Indonesia pimpinan Presiden Soeharto melawan regu Malaysia pimpinan Tun Razak di gelanggang golf, Palembang Golf Course, Kenten, bekas milik perusahaan minyak AS Stanvac, Sabtu siang.

Kalangan peninjau menduga bahwa kunjungan Tun Razak yang secara resmi dikatakan sebagai kunjungan pribadi untuk mengaso, pembahasan oleh kedua belah pihak meliputi masalah Tiongkok, situasi kerusuhan di Filipina Selatan, tuntutan Filipina atas negara bagian Malaysia di Kalimantan, Sabah, kemungkinan Konperensi puncak Indonesia, Malaysia dan Filipina.

Spekulasi selama ini menyatakan bahwa Tun Razak pada kesempatan ini memberi tahu Indonesia mengenai akan segera meresmikan pengakuannya terhadap Peking.

Adalah suatu hal yg mustahil bila Tun Razak hanya sekedar rileks ke Palembang tanpa membawa sesuatu masalah penting untuk dirundingkan dengan tuan rumah.

Lima negara anggota ASEAN – Indonesia, Singapura, Malaysia dan Muangthai dan Filipina – telah sepakat untuk menormalisasikan hubungan dengan Peking dan untuk masalah ini para anggota itu akan terus mengadakan konsultasi. Tetapi terserah pada masing2 negara untuk mengambil keputusan terakhir.

Adalah tidak mustahil bahwa Soeharto membisikkan pada tamunya hasil misi khusus pemerintah ke Istana Malacanang, Manila, minggu lalu baik dlm perundingan Sabtu malam ataupun ketika kedua pemimpin negara bermain golf di Palembang Golf Course, pada siang harinya.

Selama lima hari Mayor Jendral Cokropranolo, sekretaris Presiden urusan kemiliteran, menyampaikan surat Presiden Soeharto pada Presiden Filipina Ferdinand Marcos.

Tidak pernah diumumkan secara resmi mengenai misi khusus ke Manila itu baik tujuannya ataupun isi pesan Soeharto pada Marcos serta jawaban Kepala Negara Filipina itu untuk Jakarta.

Namun demikian Cokropranolo terdapat pula dalam rombongan Presiden juga tidak melewatkan kesempatan bermain golf dan sering pula bercanda dengan anak buah Tun Razak, Tun Sri Zalton yang menjabat sebagai Sekjen Wismaputra.

Tetapi kalangan peninjau menduga bahwa Indonesia menaruh perhatian khusus terhadap buruknya situasi di Filipina Selatan mengenai bentrokan berdarah antara minoritas Muslimin disatu pihak melawan mayoritas Kristen dan Angkatan Bersenjata Filipina di lain pihak.

Indonesia berpendapat bahwa kerusuhan di negara tetangganya__khususnya bila ia adalah anggota ASEAN__dapat mempengaruhi para tetangganya yang lain.

Sudah diketahui bahwa Filipina, menuduh adanya unsur__unsur asing di selatan negerinya membantu gerakan Muslimin di Mindanao dan Sulu dalam pergolakan itu. Ini nampaknya ditujukan pada Sabah yang sebelumnya oleh Marcos diakuinya sebagai wilayah syah Filipina.

Tambahan pula Malacanang mengaku memiliki bukti bahwa pemimpin Libia, Kolonel Muammar Gaddaffi, mengirimkan uang pada gerakan Muslimin Filipina dalam menentang Pemerintah Marcos. (DTS)

Sumber: INDONESIA RAYA (07/05/1973)

[1] Dikutip sesuai tulisan dan ejaan aslinya dari buku “Presiden RI Ke II Jenderal Besar HM Soeharto dalam Berita”, Buku II (1968-1971), Jakarta: Antara Pustaka Utama, 2008, hal. 115-117.

Kenapa tidak meninggalkan komentar?

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.