DI GEDUNG AGUNG YOGYAKARTA

DI GEDUNG AGUNG YOGYAKARTA

Presiden Bicara 4 Mata Dengan PM Hussein Onn

* Perkembangan Gawat Indocina Mendapat porsi Utama

* Menlu Rithauddeen: Kalau Perlu Kita Sanggup Kerjasama Untuk Keamanan

TEPAT JAM 19.00 WIB Minggu malam, dengan wajah cerah Presiden Soeharto bersama Perdana Menteri Datuk Hussein Onn memasuki “Ruang Sudirman” di Gedung Agung Yogyakarta, untuk memulai pembicaraan empat mata tahap pembicaraan.

Begitu kedua pemimpin RI dan Malaysia itu menempati kursi para pejabat kedua pihak juga bersiap bertemu di “Ruang Perjuangan.”

Sampai tadi malam belum diperoleh keterangan resmi tentang materi dan hasil pembicaraan. Tapi keterangan menyebutkan, perkembangan situasi di Indoncina memperoleh porsi utama.

PM Malaysia itu tiba di Yogyakarta Minggu siang pada jam 11.20 atau 20 menit terlambat dari rencana semula. Dipelabuhan udara Adisucipto, telah menunggu Presiden Soeharto, Sultan Hamengku Buwono IX, Paku Alam VIII dan para Menteri yang menjadi rombongan resmi Presiden.

Kedua pimpinan seperti biasa, tampak akrab sekali. Begitu PM Oon keluar dari pintu pesawat khusus F-28 warna putih dengan tulisan biru “Malaysia” dalam huruf latin dan Arab, ia segera melambaikan tanggannya. Ia mengenakan pakaian safari warna kelabu.

Presiden Soeharto dengan tamunya kemudian berpelukan di bawah tangga pesawat, disusul pengalungan bunga oleh Pelajar SLP Koosmatnowiyah Dyah Retno Purwani, cucu Paku Alam VIll. Selanjutnya berkenalan dengan para penyambut di bawah cuaca Yogya yang cerah siang itu.

Diantara para penyambut, tampak puluhan mahasiswa Malaysia yang sedang belajar di berbagai kota, serta delapan kadet penerbang yang sedang dilatih di Akabri Bagian Udara.

Dari pelabuhan UdaraAdisucipto, setelah mempersilahkan PM Onn istirahat sejenak di ruang VIP, Presiden kemudian mengajak tamunya itu langsung meninjau pelaksanaan pemugaran candi Borobudur, sekitar 35 Kmutara Yogya.

Keterangan Menlu Rithuadden

Baik Presiden maupun PM Malaysia itu Minggu malam tidak tampak letih. Mereka banyak senyum kepada para wartawan foto, yang diberi waktu mengambil gambar sebelum pintu Ruang Sudirman ditutup. Dalam ruangan itu terdapat patung

Panglima Besar Sudirman dengan hiasan janur di kanan-kirinya. Sementara di atas meja, hanya tampak hiasan janur kecil dengan kembang anggrek.

Para pejabat kedua pihak yang berkumpul di “Ruang Perjuangan”, tampak antara-lain Menhamkan Jenderal M. Yusuf, Mensegneg Sudharmono, Dubes Makmun Murod, KaBakin Jenderal Yoga Soegomo, Kapolri Letjen Awaludin Djamin, Direktur Aspas Deplu Soedarsono dan beberapa pejabat lainnya.

Sementara di pihak Malaysia, kelihatan Menlu Rithauddeen, Mendagri Ghazali Shafie, Kepala Staf Angkatan Bersenjata Jenderal M. Sani, Kepala Kepolisian Jenderal Hanif Omar dan lain-lainnya

Para pengamat berpendapat, melihat susunan para pejabat kedua pihak, dapat dipastikan masalah keamanan bersama serta kawasan ini memang akan mendapat sorotan.

Sementara itu, Menlu Malaysia Tengku Ahmad Rithauddeen ketika ditanya wartawan di Kompleks Candi Borobudur Minggu siang mengatakan, negara-negara ASEAN memang wajib memikirkan bersama masalah keamanan di kawasan ini, khususnya wilayah sendiri, mengingat wilayah ASEAN yang langsung berdekatan dengan Indonesia yang bergolak.

“Perlulah kita semua, Pak Harto dan Pak Hussein untuk membicarakannya,” katanya.

Ditanya pendapatnya mengenai keterangan Wakil Presiden Adam Malik agar ASEAN mampu menjadi mediator konflik di Indocina, Menlu Rithauddeen mengatakan hal itu perlu dibicarakan lagi, terutama mengenai strateginya.

”Tapi saya rasa, soal keamanaan kita sangat penting untuk dibicarakan. Kalau perlu, kita sanggup melakukan kerjasama untuk mewujudkan keamanan tersebut,”kata Tengku Rithauddeen tanpa bersedia memperinci “kerjasama” yang dimaksudnya itu.

Ia menambahkan, bahwa Malaysia senantiasa bersedia kerjasama untuk terciptanya suatu keamanan di kawasan ASEAN. Dan menyinggung masalah pengungsi Indocina, khususnya Vietnam, yang kini menderas memasuki negara-negara Asia Tenggara lainnya, ia menyatakan kalau tidak dilakukan pengawasan lebih ketat, jumlah pengungsi itu akan terns meningkat.

Menlu Malaysia itu mengingatkan, di negerinyakini telah menumpuk sekitar 56.200 pengungsi Vietnam, yang mau tidak mau menimbulkan masalah-masalah.

Ditanya apakah Angkatan Laut Malaysia akan meningkatkan patroli bersama dengan Angkatan Laut Rl, Tengku Rithauddeen mengatakan hal ini masih perlu dibicarakan.

Menhankam Jenderal Jusuf pekan lalu menginstruksikan TNI-AL, untuk meningkatkan patroli armadanya di perairan Selat Malaka dan Laut Cina Selatan. Selain untuk menghadapi segala kemungkinan akibat perkembangan di Indocina, juga untuk mencegah menderasnya pengungsi memasuki wilayah Indonesia. Diduga soal penanggulangan pengungsi yang menjadi beban, baik bagi Malaysiamaupun Indonesia, akan dapat perhatian penting dari kedua pihak.

Meninjau Borobudur

Ketika iringan mobil dari pelabuhan udara Adisucipto sampai di kompleks Candi Borobudur, hujan turun. Tapi PM Hussein Onn dan rombongan tetap menunjukkan minat besar terhadap pelaksanaan pemugaran Candi Hudha peninggalan abad ke-VIII.

Kepada proyek pemugaran Dr. Sukmono menjelaskan proses pemugaran yang telah dimulai sejak Mei 1975, dan kini telah mencapai 52% selesai. Dikatakan, pada tahun 1972 biayanya diperkirakan 7,75 juta dollar AS, tapi karena inflasi, krisis minyak dunia dan sebagainya, biaya melonjak menjadi 16,5 juta dollar. Sedang Unesco, sponsor utama pemugaran itu hanya dapat menyediakan sekitar US$ 5 juta.

Ketika hujan berhenti, PM Onn disertai Presiden Soeharto dan Gubemur Jawa Tengah dan Ny. Supardjo Rustam, mengadakan peninjauan ke atas candi sambil menyaksikan kesenian rakyat Jateng, “kuda kepang”. Dengan Gubernur Supardjo, PM tampak akrab, karena Supardjo sebelumnya adalah bekas Dubes RI untuk Malaysia.

Dari Dr. Sukmono, PM Malaysia itu memperoleh kenang-kenangan berupa album foto-foto candi tersebut sebelum dipugar. Dari Borobudur, Presiden Soeharto dan PM Onn singgah di hotel Ambarrukmo Sheraton untuk santap siang, sebelum menuju Gedung Agung untuk istirahat dan menyiapkan diri untuk pertemuan empat mata pertama.

Menurutrencana, Senin pagi ini mulaijam 10.00, di tempat sama kedua pemimpin akan melanjutkan pembicaraan mereka. (DTS)

Yogyakarta, Kompas

Sumber: KOMPAS (05/03/1979)

Dikutip sesuai tulisan dan ejaan aslinya dari buku “Presiden RI Ke II Jenderal Besar HM Soeharto dalam Berita”, Buku V (1979-1980), Jakarta: Antara Pustaka Utama, 2008, hal. 34-36.

 

Kenapa tidak meninggalkan komentar?

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.