DETIK-DETIK SOEHARTO BERHENTI VERSI HABIBIE

DETIK-DETIK SOEHARTO BERHENTI VERSI HABIBIE[1]

 

Jakarta, Kompas

Pada hari ke-17 menjadi Presiden RI, Bacharuddin Jusuf Habibie yang akrab dengan panggilan Bung Rudy bercerita mengenai detik-detik Soeharto mengambil keputusan melepaskan kursi kepresidenan Rabu malam 20 Mei 1998. Menurutnya semula Soeharto akan berhenti hari Sabtu tanggal 23 Mei 1998.

Hal itu diungkapkan Bung Rudy dalam acara selama hampir empat jam dengan para pemimpin redaksi surat kabar dan media elektronik di Wisma Negara di kompleks Istana Kepresidenan RI, Jakarta, Sabtu (6/6). Acara ini terbagi dua bagian. Satu jam pertama pertemuan dalam acara makan siang. Setelah itu acara dialog dari pukul 13.05 WIB sampai pukul 15.40 WIB.

Dialog diawali ceramah Bung Rudy selama hampir satu jam dan dua jam setengah lebihnya tanya jawab. Bung Rudy bercerita banyak kisah yang sesekali diselingi tawa hadirin, terasa sebagai angin segar yang sedang menggerus atmosfir protokoler yang feodalistis.

Situasi ini amat berbeda dengan silaturahmi Bung Rudy dengan 56 rektor perguruan tinggi swasta dan negeri seluruh Indonesia 4 Juni, silaturahmi dengan ulama 29 Mei, silaturahmi dengan tokoh agama Kristen/Katolik 1Juni, serta silaturahmi dengan tokoh Hindu dan Budha 2 Juni. Banyak pertanyaan dan usulan diajukan pada Bung Rudy. Bahkan seorang wartawan mengusulkan agar panggilan akrab Bung Rudy, disebarluaskan pada masyarakat.

“Boleh…,” katanya.

Ada juga wartawan yang berkata, dulu untuk dekat Presiden adalah sesuatu yang sulit karena penjagaan yang ketat.

“Tapi hari Jumat saya terkejut, bisa berdiri persis di depan Presiden Habibie.” ujarnya.

KISAH tentang berhentinya Soeharto dari jabatan presiden diungkapkan setelah Pemimpin Redaksi Media Indonesia mengatakan,

“Baru pertama kali dalam sejarah RI mempunyai Presiden dari luar Jawa. Mitos yang ada he must be an any of Java.”

Setelah bercerita tentang asal usulnya, Bung Rudy berkisah tentang hari Rabu malam tanggal 20 Mei 1998. Ketika itu antara pukul 20.00 WIB-21.00 WIB Bung Rudy ada di kediaman Soeharto di Jl. Cendana. Saat itu Soeharto mengatakan, Kamis 21 Mei, akan mengumumkan kabinet reformasi dan komite reformasi, sedangkan pelantikannya Jumat 22 Mei.

“Saya di-consult oleh Presiden dan hari Sabtu (23/5/1998) beliau akan mengundurkan diri dan saya dipersilakan meneruskan sesuai konstitusi dengan kabinet yang sudah dilantik sebelumnya.” kata Bung Rudy

Sekitar pukul 21.00 WIB, Bung Rudy meninggalkan Jl.Cendana menuju tempat kediaman di Kuningan, Jakarta Pusat. Dalam perjalanan ia banyak berdoa dalam hati, bukan komat-kamit seperti kebiasaannya. Di rumah, ia menyuruh ajudannya memanggil empat Menteri Koordinator Kabinet Pembangunan VII (Feisal Tanjung, Ginandjar Kartasasmita, Hartarto, dan Haryono Suyono) serta 14 Menteri. Pertemuan itu berlangsung pukul 22.00 WIB sampai 23.00 WIB.

Pukul 23.00 WIB, Bung Rudy menelepon Jl. Cendana dan berbicara dengan Saadillah Mursjid. Bung Rudy ingin melaporkan sesuatu kepada Soeharto. Tapi Saadillah Mursjid (Mensesneg waktu itu) mengatakan ada perubahan rencana.

“Ternyata ada perubahan, besok Pak Harto akan berhenti dan semuanya secara konstitusional diserahkan kepada Wakil Presiden, termasuk kabinet dan seluruhnya, dalam waktu hanya 10 menit.” kata Habibie yang mengutip Saadillah Mursjid.

“Setelah itu, saya tidak tahu apakah itu atas doa saya dari Cendana sampai ke rumah. Saya langsung kembali ke ruang di mana empat Menko dan 14 menteri berada. Saya sampaikan. Langsung berdiri semua. Langsung kita doa. Doanya adalah, berilah kekuatan kepada seluruh bangsa Indonesia.” cerita Bung Rudy.

Hari Kamis, Bung Rudy dilantik jadi Presiden RI. Malamnya ia membentuk kabinet. Ia menelepon sendiri para calon menterinya. Hari Jumat (22/5) ia terlambat satu setengah jam mengumumkan kabinetnya. Katanya karena ia berdialog dulu dengan Menhankam/Pangab Jenderal TNI Wiranto tentang ABRI dan keamanan. Ia juga menyatakan sikapnya yang berani mengenai pergantian Panglima Kostrad.

Bung Rudy juga mengungkapkan ramalan Soeharto tentangnya,

“Nanti banyak yang akan mengagumi kamu, banyak kawanmu, banyak pengalamanmu, tapi satu yang jelas, Habibie akan menjadi orang yang paling kesepian di dunia ini.”

Sumber : KOMPAS (07/06/1998)

______________________________________________________________

[1] Dikutip sesuai tulisan dan ejaan aslinya dari Buku “Presiden Ke II RI Jenderal Besar HM Soeharto dalam Berita.” Buku XX (1998), Jakarta : Antara Pustaka Utama, 2008, hal 653-655.

Kenapa tidak meninggalkan komentar?

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.