DEPTAN AKAN BANTU INVESTOR KEDELAI

DEPTAN AKAN BANTU INVESTOR KEDELAI[1]

 

Jakarta, Antara

Departemen Pertanian akan akan membantu investor yang berminat mengembangkan perkebunan kedelai sebagai upaya meningkatkan produksi kedelai Indonesia dan akhirnya mampu mengurangi impor.

“Kita akan bantu, misalnya perizinan, rekomendasi mengenai wilayah yang potensial, bantuan teknologi serta pelatihan karyawan.” kata Menteri Pertanian, Sjarifudin Baharsjah, ketika menjawab pertanyaan soal insentif yang akan diberikan kepada investor yang ingin membuka perkebunan kedelai.

Ketika elitanya mengenai insentif kredit, Mentan mengatakan bahwa hal itu bukan wewenangnya.

Sebelumnya dalam sidang Ekkuwasbang dan Prodis Presiden Soeharto mengintruksikan kepada Mentan agar mendorong swasta untuk mengembangkan perkebunan kedelai. Hal ini dimaksudkan agar impor kedelai sebesar 600.000 ton/tahun dapat dikurangi.

Mentan mengatakan untuk mengurangi impor kedelai, paling tidak perlu tambahan areal tanaman kedelai seluas 300.000 Ha dari luas areal sekarang.

Rinciannya, bila produktivitas kedelai bisa mencapai 2,0 ton per hektare maka untuk menutupi impor 600.000 ton kedelai dibutuhkan lahan seluas 300.000 Ha. Berdasarkan ramalan Biro Pusat Statistik, luas areal panen kedelai mencapai 1,3 juta Ha dengan produksi sekitar 1,5 juta atau rata-rata produktivitas 1,1 ton/Ha.

Mentan mengatakan untuk menanam kedelai seluas 300.000 Ha tersebut dibutuhkan waktu yang cukup lama.

“Sulit dibayangkan menanam kedelai seluas 300.000 Ha. Kelapa sawit saja untuk bangun 100.000 Ha perlu waktu yang cukup lama.” ucapnya.

Namun, katanya, perusahaan besar mungkin bisa membangun kebun kedelai dalam luasan 10.000 Ha. Tetapi, lahan seluas itu sulit didapatkan di Pulau Jawa.

Karena itu, lanjutnya, pengembangan kebun keledai tidak dilakukan dalam satu hamparan seluas 10.000 Ha, tetapi lebih memungkinkan dikembangkan dalam luasan 100 Ha.

Dia mengakui ban yak kendala yang dihadapi untuk pengembangkan kedelai di Indonesia, misalnya belum adanya varietas kedelai unggul baru yang baik, risiko serangan hama cukup tinggi sehingga memerlukan ban yak perawatan, serta sangat rentan terhadap kekurangan air atau kelebihan air.

Tanaman kedelai di Indonesia, ujarnya, hanya dijadikan tanaman selingan.

“Hal ini pula yang membuat produktivitas rendah, sehingga petani tidak tertarik membudidayakan kedelai.” kata Sjarifudin Baharsjah.

Ketika ditanya wartawan apakah sudah ada perusahaan yang tertarik untuk investasi di bidang perkebunan kedelai, Mentan mengatakan pihaknya sudah mengeluarkan rekomendasi.

“Tapi yang lebih tahu siapa dan dimana akan dibuka kebun kedelai Pak Amrin Kahar (Dirjen Tanaman Pangan-red)” tegasnya.

Sumber : ANTARA (06/02/1997)

________________________________________________________

[1] Dikutip sesuai tulisan dan ejaan aslinya dari Buku “Presiden Ke II RI Jenderal Besar HM Soeharto dalam Berita.” Buku XIX (1997), Jakarta : Antara Pustaka Utama, 2008, hal 244-245.

Kenapa tidak meninggalkan komentar?

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.