DEPKOP PELAJARI PEMBENTUKAN LEMBAGA DANA INVESTASI BAGI KOPERASI

DEPKOP PELAJARI PEMBENTUKAN LEMBAGA DANA INVESTASI BAGI KOPERASI[1]

 

Jakarta, Antara

Menteri Koperasi dan Pembina Pengusaha Kecil, Subiakto Tjakrawardaya, mengatakan pihaknya kini sedang mempelajari kemungkinan pembentukan lembaga dana investasi untuk pembinaan gerakan koperasi dan pengusaha kecil untuk memanfaatkan penyisihan dana 1-5 persen laba BUMD/BUMN.

“Kita masih mempelajari nya, nanti saya akan bicarakan dengan Menteri Keuangan dan instansi terkait, sampai sejauh mana kemungkinan tersebut.” kata Subiakto menjawab ANTARA usai membuka Rapat Anggota Induk Koperasi Pegawai Negeri RI (IKP-RI) di Jakarta, Senin.

Menkop mengemukakan hal itu berkaitan dengan usulan begawan ekonomi Prof Dr. Sumitro Djojohadikusumo yang menyarankan dibentuknya lembaga dana investasi bagi pembinaan gerakan koperasi dan pengusaha kecil.

Modal lembaga tersebut berasal dari dana penyisihan 1-5 persen laba BUMD/BUMN seperti yang digagaskan Presiden Soeharto beberapa waktu lalu. Menurut Sumitro yang turut hadir pada kesempatan itu selaku Ketua Umum IKP­RI, dana investasi tersebut dapat berperan sebagai “Invesment Trust” juga dimungkinkan sebagai dana jaminan (“guarantee fund”) untuk turut serta membeli saham-saham perusahaan swasta.

Menkop mengatakan, pokok-pokok pikiran dari Ketua IKP-RI sudah dapat dipahami, namun akan lebih baik lagi kalau saran tersebut dapat dibuat dalam bentuk konsep yang lebih jelas dan lebih rinci, agar mempermudah dalam pembicaraannya dengan Menteri Keuangan nanti.

“Sebetulnya usulan itu sudah lama diajukan tetapi kini sudah lebih jelas arah nya. Tetapi saya sudah menangkap beberapa pokok-pokok pikirannya dan saya akan menyampaikannya dengan pak Mar’ie untuk kita bahas.” katanya.

Menyinggung pernyataan Prof Dr. Sumitro bahwa Indonesia tertinggal 17 tahun dengan Malaysia dalam hal pengembangan koperasi dan pengusaha kecil, Menkop dengan diplomatis mengatakan sebetulnya tidak demikian.

“Saya sudah bertemu dengan Menteri Pembangunan Usahawan Malaysia Datok Mustafa Muhamad, dan dapat saya simpulkan dari pembicaraan yang cukup intensif (selama dua jam) itu sebetulnya kita tidak terlalu tertinggal.” katanya.

Dari segi kebijaksanaan, ujarnya, koperasi Indonesia sebetulnya tidak ketinggalan. Mungkin dari segi implementasi dapat dikatakan ketinggalan, tetapi sebagai suatu kebijaksanaan dan visi kita harus mengikutinya bahwa kita perlu keseimbangan.

“Dan itu memang harus ada upaya yang terprogram untuk membina pengusaha pribumi ini lho.Tetapi akan kita lihat mana yang cocok dengan kita, baru akan kita terapkan.” tuturnya.

Tinggalkan tradisional

Subiakto pada kesempatan itu juga mengatakan bahwa koperasi sudah saatnya meninggalkan pola tradisional dalam mengembangkan usahanya untuk menyongsong era globalisasi, sehingga dapat memanfaatkan berbagai peluang yang ditawarkan.

“Koperasi harus lebih aktif, kreatif dan inovatif untuk bisa bersaing dalam era globalisasi. Jangan hanya menunggu di belakang saja, harus menjemput bola setiap peluang yang ada.”

Selain itu, katanya, jajaran koperasi sudah saatnya berorientasi terhadap produk dan pasar supaya lebih profesional. Kalau dulu koperasi banyak dibantu pemerintah , dengan kata lain berbisnis itu diberi oleh pemerintah, sekarang ini dalam jaman persaingan harus aktif menjemput bola.

“Untuk mengantisipasi era globalisasi, IKP-RI tidak hanya harus mampu memperbesar skala ekonomi nya saja tetapi dituntut juga untuk bisa memadukan antara skala ekonomi dengan cakupan ekonomi serta waktunya.” katanya.

Ia berpendapat bahwa IKP-RI harus menganut segmentasi pasar global dan mampu memanfaatkan perubahan teknologi, komunikasi dan informasi serta mengaplikasikan standar global untuk produk dan jasa-jasanya.

Sumber : ANTARA (16/12/1996)

________________________________________________________

[1] Dikutip sesuai tulisan dan ejaan aslinya dari Buku “Presiden Ke II RI Jenderal Besar HM Soeharto dalam Berita”, Buku XVIII (1996), Jakarta : Antara Pustaka Utama, 2008, hal 538-539.

Kenapa tidak meninggalkan komentar?

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.