DEPARTEMEN OLAHRAGA DAN PANJI-PANJI KEOLAHRAGAAN PRESIDEN SOEHARTO

DEPARTEMEN OLAHRAGA DAN PANJI-PANJI KEOLAHRAGAAN PRESIDEN SOEHARTO

OLEH : Drs. Baron Harahap

Dalam sejarah perkembangan dunia keolahragaan Indonesia telah tercatat dua prestasi yang tertinggi yang pernah dicapai hingga saat ini yaitu prestasi sebagai juara ke II (Runner Up) dalam ASEAN GAMES 1962 di Jakarta, yang menelorkan gelar tercepat di di Asia M. Sarengat (sekarang dokter Wakil Presiden H. Adam Malik) dengan rekord 10,4 detik untuk lari 100 m sedangkan prestasi kedua "Juara umum" SOUTH EAST ASIA GAMES (SEA Games) 1977 di Kuala Lumpur, Malaysia.

Kawasan Asia Tenggara adalah bahagian dari Benua Asia jadi menurut hemat penulis prestasi sebagai "RUNNER UP" di Asia adalah lebih baik dari pada Predikat "Juara umum" dalam SEA Games karena baik ditinjau dari segi partisipasi (jumlah peserta) ataupun dilihat dari segi Qua prestasi maka nilai prestasi dalam event di Asian Games adalah lebih berbobot dari pada prestasi yang dicapai di Semenanjung Asia Tenggara tersebut.

Mengapa prestasi olahragawan Indonesia pada tahun 60-an tersebut lebih baik dari prestasi yang dicapai belakangan ini, padahal Sosial Economi Masyarakat berkondisi sebaliknya, hal ini menarik perhatian bagi kita untuk di ungkapkan dalam penulisan selanjutnya.

Faktor-Faktor Penunjang Prestasi

Faktor-faktor yang mendukung tercapainya prestasi tinggi yang dicapai Indonesia dalam ASEAN GAMES 1962 di Jakarta antara lain adalah:

a) Adanya "POLITICAL WILL" pemerintah masa pemerintahan Bung Karno dalam membina olahraga nasional secara sungguh-sungguh dan menempatkan pembinaan olahraga sebagai salah satu bagian yang terpenting dalam seluruh aspek Pembangunan Nasiona

b) Pada masa pemerintahan. Bung Karno di mana "Politik adalah Panglima", mobilisasi politik masyarakat telah menjadi pupuk suburnya nilai-nilai Patriotisme, Nasionalisme termasuk dalam kehidupan olahraga.

Kesediaan "Mati di lapangan" dalam setiap event Internasional yang membawa Martabat bangsa dan Negara R.I. adalah tekad dan sikap mental olahragawan Indonesia di sekitar tahun 60-an.

Kondisi semacam ini dapat diciptakan berkat adanya peranan Departemen Olahraga atas nama kepentingan Nasional Berbeda dengan situasi seperti sekarang ini di mana "Ekonomi adalah Panglima",.

Pembangunan Ekonomi sebagai titik sentral, sedangkan pembangunan olahraga dianggap tidak penting. Menteri P &. K. Mashuri SH pernah berkata olahraga itu ibarat "bunga dalam vase" artinya olahraga itu hanya perhiasan, tidak terlalu penting.

Sejalan dengan anggapan ini Departemen Olahraga ditiadakan dalam Struktur Kabinet/Pemerintahan Orde Baru.

Berubahnya "Politik adalah Panglima" menjadi "Ekonomi menjadi Panglima" maka mentalitet olahragawan pun berubah dari "Kesediaan mati dilapangan" demi bangsa dan Negara RI menjadi "mati dilapangan asal dapat Kapling" adalah sikap mental yang mewarnai olahragawan-olahragawan top dewasa ini.

c). Besarnya Peranan Departemen Olahraga.

Pada masa pemerintahan Soekarno (B.K.) peranan Departemen Olahraga dalam kehidupan berbangsa dan bernegara sangat menonjol baik untuk mcncapai Prestasi Olahraga itu sendiri, maupun Olahraga sebagai sarana cita-cita Politik terutama cita-cita Politik Luar Negeri.

Untuk kepentingan pemassalan pembibitan dan peningkatan Prestasi maka melalui Departemen Olahraga pembangunan Olahraga telah dikelola secara "integral, konsepsional dan nasional".

Dengan dana yang cukup karena dana Politik berbaur dengan dana Olahraga maka pembinaan olahraga dengan aparat pengelola tingkat Departemen Olahraga di tahun 60-an telah menelorkan Prestasi Nasional yang tinggi di Asia dengan indikator dapat kita lihat di mana fudonesia Runner up dalam Asian Games 1962 di Jakarta.

Dalam rangka pencapaian cita-cita Politik BK terutama Politik Luar Negeri yang menghendaki Indonesia, sebagai pemimpin bangsa-bangsa AA dan pusat gerakan apa yang disebut The New Emerging Forces maka arena olahraga/Departemen Olahraga menjadi salah satu alternatif yang efektif.

Sebagai salah satu sasaran antara target politik dibidang olahraga adalah Indonesia juara umum setidak-tidaknya rangking terhormat dalam Asian Games 1962 di Jakarta dan berhasill !!

Aktivitas olahraga Nasional/lnternasional pada masa ini telah berkembang Juar biasa, suatu event olahraga anti Imperialisme diantara bangsa-bangsa The New Emerging Forces telah pula dilaksanakan di Jakarta dengan nama ”GANEFO”. Di sini dapat kita lihat betapa eratnya Politik dan Olahraga dan betapa besarnya peranan Olahraga dalarn politik Nasional.

Lepas dari setuju/tidaknya dengan Politik B.K, narnun perlu dicatat olahraga telah maju pesat dan melahirkan prestasi tinggi karena adanya lembaga Departemen Olahraga, karena adanya dana yang memadai.

Karena adanya Political Will pemerintah dalam membina kehidupan Olahraga Nasional, karena pembinaan yang dikelola secara "Konsepsional, menyeluruh dan terpadu dengan arah yang tepat !"

Prestasi Merosot

Oleh karena perubahan orientasi pembangunan seperti yang telah diuraikan di atas maka pembangunan yang terlalu memprioritaskan pada sektor ekonomi dan mengabaikan pembinaan olahraga maka semenjak Departemen Olahraga diciutkan menjadi direktorat seperti yang ada sekarang ini maka boleh dikatakan pembinaan olahraga nasional bagaikan "Anak Ayam kehilangan induk" (kurang bimbingan pemerintah).

Bersamaan dengan ini, motivasi pembina ataupun olahraga untuk berprestasi tinggi cenderung menurun. Karena suasana pembangunan ekonomi terlalu "didewa-dewakan" maka orientasi materi pun berkembang, sikap mental/tekad bersedia "mati di lapangan" demi nama baik bangsa dan negara RI telah berobah menjadi "demi sebidang kapling".

Kondisi-kondisi semacam ini, di mana semenjak eksistensi Departemen Olahraga dihapuskan (faktor dominan) telah menjadikan prestasi olahraga merosot, kecuali untuk beberapa cabang olahraga tertentu.

Bentuk Departemen Olahraga kembali

1) Keputusan Politik Rakyat Indonesia dibidang olahraga sebagaimana tertera dalam TAP MPR No.lV/MPR/1978 hal 114. pada pokoknya mengisyaratkan terutama kepada Pemerintah, agar olahraga digalakkan pemassalannya dan ditingkatkan prestasinya. Kendatipun rumusan itu singkat tapi itu berarti Pemerintah tidak lagi bisa mengabaikan pembinaan olahraga. Pemerintah tidak bisa lagi melepaskan tanggung jawab atas kemerosotan olahraga dewasa ini.

2) Memasyarakatkan olahraga dan mengolahragakan masyarakat. Tampaknya isyarat itu telah mendapat respons yang positip dari Pemerintah, ini dapat kita lihat dan panji-panji keolahragaan yang populer yang dicanangkan Bapak Presiden Soeharto. "Memasyarakatkan Olahraga dan Mengolahragakan Masyarakat," yang kini sangat populer ditengah-tengah masyarakat terutama dikalangan pembina/olahragawan.

Dari uraian-uraian diatas kita telah memiliki Landasan Pembinaan Olahraga Nasional yang kuat, disamping itu telah tampak kemajuan "Political Will" Pemerintah dibidang olahraga, telah secara gencar di kampanyekan konsep "Memasyarakatkan olahraga dan mengolahragakan Masyarakat" maka kalau benar-benar kita semua terutama Pemerintah memiliki motivasi yang tinggi untuk mewujudkan prestasi olahraga Indonesia jaya kembali setidak-tidaknya prestasi dalam Asian Games 1962 di Jakarta.

Indonesia sebagai Runner up, dan kalau lah benar hakekat pembangunan Nasional adalah untuk mewujudkan Manusia Indonesia seutuhnya maka jawaban yang tepat dan relevant bagi tercapainya cita-cita, gagasan-gagasan tersebut diatas adalah dengan pembentukan kembali Departemen Olahraga.

Artikel ini dimaksudkan juga sebagai suatu "Input" bagi "Elite Politik" agar dapat mewarnai "Political Engineering" pembentuk Kabinet setelah Sidang MPR Maret 1983 yang akan datang agar ada kemauan untuk melengkapi Struktur Kabinet/Pemerintah dengan satu Departemen Olahraga atau Lembaga Menteri Muda Urusan Olahraga sebagai alternatif lain. (RA)

Jakarta, Berita Buana

Sumber : BERITA BUANA (11/09/1982)

Dikutip sesuai tulisan dan ejaan aslinya dari buku "Presiden RI Ke II Jenderal Besar HM Soeharto dalam Berita", Buku VI (1981-1982), Jakarta : Antara Pustaka Utama, 2008, hal. 827-830.

Kenapa tidak meninggalkan komentar?

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.