Denny Malik: Tidak Ada Yang Memberi Apresiasi Sebesar Pak Harto

Tidak Ada Yang Memberi Apresiasi Sebesar Pak Harto[1]

Oleh: Denny Malik[2]

Menggelar karya di depan Presiden dan Ibu Negara, selalu memberi kebanggaan tersendiri pada setiap seniman. Saya pun termasuk yang beberapa kali merasakannya. Saya terkenang akan kebiasaan Pak Harto dan Ibu Tien yang selalu menyempatkan diri menyalami para penari dan penyanyi di akhir acara. Apalagi kalau ada anak-anak, Pak Harto dan Ibu selalu berbelok dan menyapa mereka.

Saya mengawali karir sebagai penari dan koreografer pada kelompok Swara Mahardhika yang dipimpin putra Bung Karno, Guruh Sukarnoputra. Banyak yang memanas-manasi, mengatakan hal-hal yang tidak benar mengenai hubungan antara anak-anak Bung Karno dan Presiden Soeharto. Padahal saya menyaksikan sendiri komunikasi antara Mas Guruh dengan putra-putri Pak Harto terjalin dengan baik. Tidak mengherankan jika Swara Mahardika mendapat tempat tersendiri di pemerintahan Pak Harto. Itu karena kami dipandang sebagai seniman, terpisah dari ranah dan kepentingan politik.

Mencari Sandal di Kolong Kursi

Sekitar tahun 1996 saya mendapat kesempatan untuk menggarap koreografi untuk suatu pagelaran tari spektakuler yang melibatkan ratusan penari, penyanyi, dan musisi. Acara berlangsung di Hotel Nikko, Nusa Dua, Bali dan dihadiri Presiden RI. Saya sedang menjadi orang yang supersibuk di acara itu ketika protokol istana menyampaikan bahwa saya dipanggil Pak Harto. Saya tidak percaya. Saya pikir, saya disuruh menghadap pimpinan hotel. Langsung saja saya mengira ada yang salah dalam pertunjukan yang sedang berlangsung.

Ternyata saya benar-benar diantar menemui Pak Harto yang menonton pergelaran dari balkon VVIP. Saya sempat grogi karena ternyata saya hanya berdua dengan Pak Harto di balkon khusus itu, tidak ada siapa-siapa lagi. Pak Harto menanyakan dari mana saja para penari berasal. Saya pun menjelaskan bahwa sebagian juga diambil dari penari lokal Bali.

Pak Harto tampak senang. “Tari dan kebudayaan daerah harus terus dikembangkan,” pesan beliau.

Pertemuan singkat itu sangat membekas di hati saya. Apalagi ketika hendak berdiri Pak Harto agak repot mencari sandal yang rupanya dilepas ketika beliau duduk. Spontan, saya ambilkan alas kaki itu, lantas meletakkannya di dekat kaki Pak Harto. Beliau tersenyum dan menepuk-nepuk punggung saya, membuat saya sangat terharu.

Saya merasakan Pak Harto dan Ibu Tien sangat menaruh perhatian pada perkembangan seni dan budaya Indonesia. Dan apresiasi dari seorang presiden selalu akan diikuti oleh jajaran di bawahnya.

Menikah Gratis di Masjid At-Tin

Tak pernah terfikir dibenak saya bahwa keluarga Pak Harto begitu memperhatikan saya. Sungguh, saya luar biasa terkesan ketika Pak Harto dan keluarga memberikan hadiah menikah gratis di Masjid At-Tin untuk saya dan istri. Kehadiran putra-putri Pak Harto pada saat bersejarah itu sangat membanggakan saya dan keluarga besar kami.

***


[1]       Penuturan Denny Malik sebagaimana dikutip dari Buku “Pak Harto The Untold Stories”, (Jakarta: PT. Gramedia Pustaka Utama, 2011, hal 322.

[2]       Denny Malik yang berdarah Minang lahir tanggal 16 Februari 1963. Mengawali kariernya di Swara Mahardika, Denny menjadi koreografer yang sangat kreatif dan meraih penghargaan pada Festival Tari Asia Pasifik. Denny memperoleh AMI Award untuk kategori Penyanyi Dangdut Pria Terbaik 2003. Denny juga membintangi beberapa film bergenre anak muda. Kini ia menjadi koreografer dan pelatih tari yang disegani.

Kenapa tidak meninggalkan komentar?

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.