DENGAN PRESIDEN VENEZUELA :RI AKAN JADI SALAH SATU NEGARA HEBAT DI ASIA

DENGAN PRESIDEN VENEZUELA :RI AKAN JADI SALAH SATU NEGARA HEBAT DI ASIA

 

 

Caracas, Suara Pembaruan

Pemerintah Republik Venezuela kini baru sadar akan pentingnya berhubungan dengan negara-negara dari benua lain. Pihak Venezuela melihat Indonesia dengan 180 juta penduduk serta kekayaan surnber dayanya, akan menjadi salah satu negara yang hebat dalam bidang politik maupun ekonomi di Asia. Karenanya, peningkatan hubungan bilateral dengan Indonesia merupakan hal yang sangat layak.

Presiden Carlos Andres Perez mengutarakan pendapatnya dalam wawancara khusus dengan wartawan Pembaruan Albert Kuhon dan wartawan Antara Bakran Asmawi hari Sabtu (23/ 11) di Istana Kepresidenan Miraflores di Caracas.

Wawancara dilakukan sehubungan dengan kunjungan Presiden Soeharto ke Venezuela serta pelaksanaan KIT G 15. Selain itu, pemerinlah Venezuela selaku tuan rumah KTT (Konferensi Tingkat Tinggi) G-15 (Kelompok 15) mengharapkan agar kerja sama  negara-negara berkembang (Selatan) makin erat Presiden Venezuela, Carlos Andres Perez, menekankan pentingnya peningkatan kerja sama antara pihak Selatan dengan negara­ negara industri maju (utara). Terutama setelah perang dingin antara Blok Barat dengan Blok Timur selesai.

 

Politisi

Venezuela adalah negara di Amerika Latin yang berpenduduk 18 juta jiwa. Beriklim tropis seperti Indonesia. Pendapatan per kapita penduduknya sekitar 2.820 dolar AS atau Rp 5,64 juta/tahun.

Republik Venezeula merupakan negara federasi, yang mencakup 20 negara bagian. Walaupun kekuasann Spanyol di Venezuela terguling tahun 1810, proklamasi baru dikumandangkan 5 Juli 1811. Produk utama adalah minyak, aluminium, dan emas.

Presiden Carlos Andres Perez (69), menduduki jabatannya yang kedua sejak tahun 1989. Ia pemah menjadi wartawan dan sampai kini terkenal cukup akrab dengan para wartawan di negaranya.

Sebelumnya, ia pemah terpilih sebagai Presiden Venezuela pada tahun 1973 ,serta menjalani jabatannya tahun 1974/1979. Konstitusi Venezuela hanya membolehkan seorang mantan presiden mencalonkan diri lagi, setelah melampui tenggang waktu setidaknya 10 tahun.

Perez adalah putra ke 11 dari 12 bersaudara. Berkecimpung dalam bidang politik sejak berusia 15 tahun. Ia pernah menjadi tahanan politik di negaranya sendiri (24 November 1948) dan diusir dari Venezuela (1949 dan 1951/52). Perez pernah juga menjadi Pemimpin Redaksi La Republica di San Jose, Costa Rica, sebelum kembali ke Venezuela pada tahun 1958. Ia ditunjuk sebagai Menteri Dalam Negeri Venezuela tahun 1962, sehingga sering menjadi Pejabat Presiden Republik Venezeula, jika Presiden Betancourt bepergian ke luar negeri.

 

Penjadwalan Utang

Salah satu langkah yang menunjukkan keberanian Presiden Carlos Andres Perez, diperlihatkan ketika ia melakukan perombakan beberapa kebijaksanaan ekonomi. Antara lain penghapusan subsidi terhadap harga sejumlah kebutuhan pokok, swastanisasi beberapa perusahaan pemerintah, serta upaya penjadwalan kembali utang luar negeri Venezuela.

Pemerintah Venezuela pula yang pemah menjamin pemenuhan kebutuhan minyak Amerika Serikat, sewaktu Krisis Teluk yang berkecamuk belum pecah menjadi perang.

“Saya berharap bisa mempersembahkan Venezuela yang sehat ekonominya, tinggi laju pertumbuhan ekonominya serta subur bagi penanaman modal asing,” tutur Perez sewaktu ditanya tentang gambaran Venezeula di akhir masa jabatannya 1994.

Perez mengakui, baru sekarang Venezuela menyadari betapa pentingnya hubungan dengan negara-negara dari benua lain. Sebelumnya, Venezuela seperti negara-negara Amerika Latin lainnya, hanya sibuk dengan masalah-masalah domestik dan regional.

Ditegaskannya, dewasa ini jarak geografis tak lagi menjadi pembatas yang memisahkan dua negara atau tempat. Hubungan Venezuela dengan Jepang dan Malaysia, merupakan bukti atas pemyataan tersebut. “Yang penting adalah keinginan kedua pihak guna meningkatkan hubungan,” kata Perez.

Dengan bantuan teknologi, kendala yang diakibatkan oleh jarak sudah bisa ditaklukkan. “Sekarang inipun saya bisa menghubungi Presiden Soeharto dengan teleks atau fax,” Perez menekankan.

Kedatangan Presiden Soeharto ke Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) Kelompok 15 di Caracas, merupakan bukti hubungan baik antara Venezuela dengan Indonesia, yang diperkuat dengan kunjungan kenegaraan Presiden Soeharto di Venezuela, di luar acara KTT K 15. “Semuanya merupakan bukti yang sangat j elas mengenai itikad Presiden Soeharto meningkatkan hubungan dengan Venezuela,” katanya.

Dalam kesempatan kunjungan Presiden Soeharto di Venezuela, kedua pemimpin negara itu akan membicarakan kemungkinan langkah yang bisa dimanfaatkan bagi peningkatan hubungan kedua negara.

 

Kelompok 15

Kelompok 15 dilahirkan dalam pertemuan tingkat tinggi di Beograd, Yugoslavia September 1989. Venezuela yang ketika itu baru masuk sebagai anggota Gerakan Non Blok memelopori pembentukan G-15 bersama-sama Yugoslavia dan Malaysia. Anggota lainnya adalah Aljazair, Argentina, Brasil, Indonesia, India, Jamaika, Meksiko, Mesir, Nigeria, Peru, Senegal dan Zimbabwe.

Dalam percakapan khususnya, Presiden Carlos Andres, Perez menekankan kembali pentingnya kerja sama ekonomi antara sesama anggota G-15. Karenanya, dalam KTT di Caracas ini, disiapkan forum yang memungkinkan para pengusaha dari seluruh negara anggota menjalin hubungannya dengan pengusaha Venezuela.

Ditegaskannya, demokrasi tak bisa tumbuh subur sepanjang kemiskinan, ketegangan sosial, serta kelestarian lingkungan tidak teratasi.

Perez menekankan kembali betapa G-15 dalam pertemuan di Kuala Lumpur bersepakat menggalang kerja sama dalam peningkatan penanganan pelestarian lingkungan Tanggungjawab penjagaan kelestarian lingkungan harus dipikul secara bersama oleh negara-negara berkembang dan negara-negara maju, setara dengan keuntungan yang dinikmati masing-masing pihak. “Dalam setiap kesempatan saya selalu mengingatkan hubungan antara demokrasi dengan kerniskinan, ketegangan sosial maupun kelestarian lingkungan,” katanya pula.

Isu

Belakangan ini di Caracas tersebar isu mengenai kemungkinan Brasil keluar dari keanggotaan G-15. Apalagi setelah Presiden Brasil, Fernando Collor de Mello, mengisyarakatkan keengganan menghadiri KTT G-15 yang diselenggarakan di Caracas. Isu yang beredar menyatakan, Brasil ingin keluar karena lebih suka digolongkan sebagai negara maju yang bungsu daripada termasuk negara berkembang yang sulung.

Presiden Carlos Andres Perez dari Venezuela, menginginkan agar G-15 tetap utuh. Ia berkunjung selama empat hari ke Brasil guna membujuk Coilor de Mello dan baru kembali ke Caracas Jumat (22/11).

Dalam wawancara khusus Sabtu (23/11) lalu, Presiden Carlos Andres Perez menyangkal isu mengenai kemungkinan mundurnya Brasil dari G-15. “Saya belurn pemah mendengar kabar sepertinya itu,” tangkisnya diplomatis.

Diakuinya, upaya membujuk Presiden Femando Collor de Mello agar hadir dalam KTT kali ini gagal. Menurut Presiden Perez, Brasil sedang dilanda permasalahan dalam negen.

 

11 Kepala Pemerintahan

Sampai Sabtu (23/11) sore, baru 11 dari 15 kepala negara/pemerintahan anggota G-15 yang memastikan diri hadir dalam KTT Caracas, termasuk Presiden Carlos Andres Perez dari Venezuela selaku tuan rumah. Presiden Chadli Benjedid dari Aljazair yang tadinya diperkirakan tak bisa datang menyatakan akan hadir.

Para kepala negara/pemerintahan lainnya yang sudah menyatakan akan hadir adalah Presiden Carlos Menem (Argentina), Perdana Menteri P.V. Narasimha Rao (India), PM Michael Manley (Jamaika), PM Datuk Mahathir Mohamad (Malaysia), Presiden Carlos Salinas (Meksiko), PresidenAlberto Fujimori (Peru), PresidenAbdou Diouf (Senegal) dan Presiden Robert Mugabe (Zimbabwe). (SA)

 

Sumber : SUARA PEMBARUAN (25/11/1991)

Dikutip sesuai tulisan dan ejaan aslinya dari buku “Presiden RI Ke II Jenderal Besar HM Soeharto dalam Berita”, Buku XIII (1991), Jakarta : Antara Pustaka Utama, 2008, hal. 242-245.

 

 

Kenapa tidak meninggalkan komentar?

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.