Dari Seminar Prospek Bisnis Pasca Pemilu “SIAPA PENGGANTI PAK HARTO YANG COCOK UNTUK BISNIS?”

Dari Seminar Prospek Bisnis Pasca Pemilu

“SIAPA PENGGANTI PAK HARTO YANG COCOK UNTUK BISNIS?”[1]

 

Jakarta, Merdeka

“Gonjang-ganjing macam apa yang kira-kira bakal terjadi di dunia bisnis usai Pemilu 1997?” Pertanyaan ini di bahas dalam seminar sehari Prospek Bisnis Pasca Pemilu yang diselenggarakan oleh Majalah Gatra untuk memperingati ulang tahunnya ke-2, Rabu (4/12).

Turut berbicara dalam kesempatan itu bos Kodel Group Fahmi ldris, dua pengamat ekonomi yakni Didik J Rachbini (INDEF) dan Sjahrir (Yayasan Padi dan Kapas) serta konsultan pemasaran Hermawan Kertajaya (Mark Plus Profesional Service).

Tak kalah menarik, karena Pemilu dan pergantian Presiden belum berlangsung mencuat berbagai pertanyaan menarik sekitar soal-soal tersebut. Misalnya, pertanyaan yang dilontarkan salah satu bank di Jakarta ini antara lain mempertanyakan kira-kira siapa calon pengganti Pak Harto kelak yang memang dianggap cocok untuk kalangan bisnis?

Fahmi Idris tak menjawab langsung pertanyaan itu. Dia pun menggambarkan kilas balik saat Angkatan 66 memperjuangkan pemurnian UUD 45 dan konstitusi bernegara. Saat itu mitos Bung Karno tak bisa diganti, karena kekuatan dan kehebatannya sangat dominan.                                                  ·

“Waktu itu terjadi pertukaran pikiran pikiran dan polemik sangat hebat antar kita. Tapi akhirnya kita yakin pada satu rumusan : beri kepercayaan sebesar-besarnya pada orang yang memang kita percayai, lalu dukung dia sekuat-kuatnya. Itu terbukti kemudian.” tandas Fahmi yang juga eksponen 66 itu.

Dengan contoh itu dia hanya memberikan gambaran bahwa sebenarnya mungkin saja pak Harto pun tak ingin lagi menjabat sebagai Presiden usai Pemilu 1997 nanti. Mengutip pernyataan Menristek BJ Habibie beberapa waktu lalu, menurut Fahmi, Pak Harto sebenarnya juga sudah ingin istirahat saja.

“Tapi susahnya orang-orang yang suka mendorong-dorong. Ini yang nggak ketulungan.” tandasnya.

Lalu siapa kira-kira pengganti Pak Harto yang cocok, setelah suksesi kepemimpinan nasional itu benar-benar terjadi nanti?

“Ya… figurnya harus terpercaya. Itu saja. Dan calonnya untuk itu, bagi saya, sangat banyak.” ujar salah seorang pengurus DPP Golkar itu.

Di samping itu, bagi Fahmi, yang tak kalah penting adalah batasan jabatan kepresidenan. Soal ini bisa saja mencuat dalam sidang Umum MPR mendatang. Bila itu terjadi, maka paling tidak jabatan Presiden maksimal bisa dua periode saja.

“Ini bagus biar levelnya tak terlalu jauh dengan kita. Pemimpin itu kan ibarat pepatah harus ‘tinggikan seranting dan majukan selangkah’. Biar tak jauh-jauh untuk kita ikuti.” katanya.

Namun, Fahmi sendiri memperkirakan, karena masih banyaknya masyarakat yang berusaha mencalonkan kembali sebagai Presiden periode 1998-2003, Pak Harto masih akan menjadi Presiden pada periode tersebut.

Re-positioning

Dengan begitu seperti yang juga diakui dua pengamat ekonomi seperti Didik dan Sjahrir tak akan ada perubahan kebijakan ekonomi yang terlalu berbeda dengan apa yang terjadi saat ini. Perubahan besar bisa terjadi justru pasca 1998-2003 itu. Sebab Pak Harto sudah cukup tua dari segi usia.

Suksesi kepemimpinan di periode 2003-2008 ini akan diiringi dengan pergeseran­pergeseran dunia usaha (bisnis) di Indonesia. Sebab di samping perubahan secara internal juga terjadi desakan eksternal karena pemberlakuan WTO atau APEC.

Artinya, dari sisi bisnis pun, perusahaan-perusahaan akan segera melakukan repositioning. Kalau hal ini terjadi, apakah juga akan terjadi “pergeseran” pegangan negara? Fahmi yakin tidak. Sebab, meski suksesi kepemimpinan terjadi, garis-Garis Besar Haluan Negara (GBHN) pasti akan tetap menjadi pegangan.

“Karena dengan cara itulah semangat Orde Baru akan tetap terpelihara.” ungkapnya.

Sementara itu menurut Sjahrir, karena ekonomi Orde Baru di sektor kebijaksanaan telah mempunyai pola-pola tetap, maka instrumen kebijaksanaan yang digunakan masih tetap sama dengan pra-Pemilu 1977.

“Karena itu pula anggaran berimbang, defisit neraca berjalan yang lebih terkendali, berikut manajemen pembayaran utang yang lebih teliti pasti akan dilanjutkan.” tandasnya.

Dengan cara itu pula, maka di sisi sektor lain, baik riil maupun moneter tak mengalami perubahan berarti.

Target pertumbuhan pun akan berjalan sebagaimana diperkirakan. Umpamanya untuk tahun ini sekitar 7,5 persen.

Sumber : Merdeka ( 05/12/1996)

________________________________________________________

[1] Dikutip sesuai tulisan dan ejaan aslinya dari Buku “Presiden Ke II RI Jenderal Besar HM Soeharto dalam Berita”, Buku XVIII (1996), Jakarta : Antara Pustaka Utama, 2008, hal 517-518.

Kenapa tidak meninggalkan komentar?

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.