DARI PINTU GERBANG PERTAMA KE PINTU GERBANG KEDUA

DARI PINTU GERBANG PERTAMA KE PINTU GERBANG KEDUA

Pergerakan Kemerdekaan Indonesia telah mengakhiri tugas historisnya dengan mengantarkan rakyat Indonesia ke pintu gerbang kemerdekaan Negara Indonesia yang merdeka, bersatu, berdaulat, adil dan makmur. Kata-kata emas ini tercantum dalam pembukaan UUD-45.

Angkatan 45 yang telah memimpin perjuangan bangsa Indonesia dalam perang kemerdekaan, dalam pembinaan bangsa, dalam revolusi dan dalam tahap pertama pembangunan, akan mengakhiri tugas historisnya dengan mengantarkan rakyat Indonesia ke pintu gerbang masyarakat industri.

Dengan perkataan lain maka tugas historis Angkatan 45 ialah mengantarkan rakyat Indonesia dari pintu gerbang pertama ke pintu gerbang kedua.

Inilah inti dari pidato yang diucapkan Kepala Negara pada peresmian tiga unit produksi industri baja "Krakatau Steel" di Cilegon, Jawa Barat, pada hari Kamis pagi.

Pada kesempatan itu Presiden Soeharto menandaskan bahwa melalui pengalaman dari tenaga-tenaga muda yang bekerja di pabrik itu akan ditanamkan tradisi industri yang kuat kepada generasi yang akan datang.

Berkata Presiden : "Generasi inilah yang akan mengemban tugas membangun industri besar-besaran untuk kemajuan, kesejahteraan dan keadilan yang menjadi cita­cita pembangunan masyarakat kita".

Presiden Soeharto menyadari bahwaAngkatan 45 tidak akan sempat membangun masyarakat industri itu. Angkatan 45 itu akan dicatat sebagai Generasi Pembebas yang berhasil apabila dia dapat menghantarkan rakyat Indonesia ke depan pintu gerbang masyarakat industri itu.

Dengan demikian maka generasi penerus tidak perlu dan tidak dapat mengulangi tugas historis dari Angkatan 45. Generasi penerus itu harus melaksanakan tugas historisnya sendiri. Yaitu membangun masyarakat industri untuk mewujudkan masyarakat yang maju, adil, makmur dan lestari berdasarkan Pancasila.

Itu sama sekali tidak berarti bahwa apa yang masih diharapkan dari Angkatan 45 dalam rangka perampungan dan pembulatan tugas historisnya di tahun-tahun yang akan datang tidak penting. Yang masih diharapkan dari Angkatan 45 itu justru sangat penting. Sebab apa yang akan dijalankan oleh Angkatan 45 dalam sisa masa pengabdiannya itu akan merupakan landasan bagi pembangunan masyarakat industri oleh generasi penerus.

Kita ambil sebagai contoh pergerakan kemerdekaan Indonesia. Pergerakan kemerdekaan Indonesia itu telah merampungkan dan membulatkan tugas historisnya yang dimulai pada permulaan abad ke-20 dengan lahirnya Budi Utomo (1908) dengan meletakkan landasan bagi kemerdekaan Indonesia berupa Pancasila dan UUD-45.

Di atas landasan yang diletakkan oleh pergerakan kemerdekaan itulah Angkatan 45 telah memimpin bangsa kita dalam perang kemerdekaan, dalam pembinaan bangsa, dalam revolusi dan dalam tahap pertama pembangunan.

Sekiranya landasan yang diletakkan oleh pergerakan kemerdekaan itu rapuh, maka pastilah Angkatan 45 akan gagal dalam memimpin bangsa kita dalam perang kemerdekaan, dalam pembinaan bangsa, dalam revolusi dan dalam tahap pertama pembangunan.

Apabila Angkatan 45 nanti akan dapat mengakhiri tugas historisnya dengan sukses, maka itu terutama disebabkan oleh karena adanya landasan yang kukuh dan kuat yang diletakkan oleh pergerakan kemerdekaan Indonesia berupa Pancasila dan UUD-45.

Itulah yang dimaksud oleh Pembukaan UUD-45 dengan kata-kata emas. "Dan perjuangan pergeralcan kemerdekaan Indonesia telah sampailah kepada saat yang berbahagia dengan selamat sentausa mengantarkan rakyat Indonesia ke pintu kemerdekaan Negara Indonesia, yang merdeka, bersatu, berdaulat, adil dan makmur".

Akan dapatkah nanti dikatakan bahwa menjelang akhir tugas historisnya Angkatan 45 sampai kepada saat yang berbahagia dengan selamat sentausa mengantarkan rakyat Indonesia ke depan pintu gerbang masyarakat industri yang maju, adil, makmur dan lestari berdasarkan Pancasila?

Kata-kata berdasarkan Pancasila berarti bahwa masyarakat industri yang akan dibangun oleh generasi penerus itu tidak akan meniru begitu saja masyarakat­ masyarakat industri yang ada sekarang ini baik di Barat maupun di Timur.

Sebab krisis-krisis yang melanda dunia kita sekarang ini adalahjustru akibat dari kekurangan-kekurangan dan kelemahan-kelemahan yang terdapat pada masyarakat-masyarakat industri yang adaitu.

Oleh sebab itu yang kita harapkan ialah agar generasi penerus nanti dapat membangun masyarakat industri tipe baru sebagai hasil dari pembangunan yang mengamalkan Pancasila.

Pembangunan dari masyarakat industri yang maju, adil, makmur dan lestari berdasarkan Pancasila itu sekaligus merupakan sumbangan kita untuk mengatasikrisis-krisis yang sedang melanda dunia kita.

Itu berarti bahwa Angkatan 45 akan membulatkan dan merampungkan tugas historisnya dengan menyediakan prasyarat -prasyarat bagi pembangunan masyarakat industri yang maju, adil, makmur dan lestari oleh generasi penerus nanti. Apakah prasyarat-prasyarat itu? Prasyarat-prasyarat itu terdiri dari dua hal.

Pertama : membangun lembaga-lembaga politik, sosial, ekonomi, kebudayaan, pendidikan, keagamaan, keamanan dan pertahanan yang mantap dan yang akan mampu untuk memberikan landasan dan arah dalam pembangunan masyarakat industri yang maju, adil, makmur dan lestari berdasarkan Pancasila oleh generasi penerus.

Kedua : membina generasi penerus yang memiliki kemampuan dalam bidang ilmu, teknologi, manajemen serta kesadaran dalam penghayatan dan pengamalan Pancasila untuk membangun masyarakat industri yang maju, adil, makmur dan lestari berdasarkan Pancasila.

Dalam hubungan penyediaan prasyarat kedua itulah kita menempatkan kata-kata Presiden Soeharto pada peresmian tiga unit produksi industri baja "Krakatau Steel". Yaitu bahwa melalui pengalaman dari tenaga-tenaga muda yang bekelja di pabrik itu akan dapat ditanamkan tradisi industri yang kuat kepada generasi yang akan datang, sehingga generasi itu akan mampu mengemban tugas membangun industri besar­besaran untuk kemajuan, kesejahteraan dan keadilan yang menjadi cita-cita pembangunan masyarakat kita.

SU-MPR 1983 mempunyai arti yang penting dalam hubungan pelaksanaan tugas Angkatan 45 untuk membulatkan dan merampungkan tugas historisnya dengan menyediakan prasyarat-prasyarat bagi pembangunan masyarakat industri yang maju, adil, makmur dan lestari oleh generasi penerus nanti, yaitu dalam tahap tinggallandas atau "take off’.

Sebab dengan SU-MPR 1983 itu Angkatan 45 memasuki proses pembulatan dan perampungan tugas historisnya. Sekalipun dalam periode 1988-1993 nanti mungkin masih akan ada anggota-a ggotaAngkatan 45 yang dapat memberikan sumbangan pikiran dan sumbangan tenaga mereka, namun bagian utama dalam pembulatan dan perampungan tugas historis dari Angkatan 45 itu akan berlangsung dalam periode 1983-1988.

Dalam periode 1983-1988 itulah Angkatan 45 hams merampungkan dasa:r-dasar bagi lembaga-lembaga politik, sosial, ekonomi, kebudayaan, pendidikan, keagamaan, keamanan dan pertahanan yang mantap dan yang akan mampu untuk memberikan landasan dan arah pembangunan masyarakat yang maju, adil, makmur dan lestari berdasarkan Pancasila oleh generasi penerus dalam tahap "take off’ nanti.

ApabilaAngkatan 45 dapat menjalankan itu, maka akan dapat dikatakan bahwa Angkatan 45 mengantarkan rakyat Indonesia dari pintu gerbang pertama ke pintu gerbang kedua.

Yaitu dari pintu gerbang kemerdekaan ke pintu gerbang industrialisasi. Inilah tugas yang tercakup dalam penegasan Presiden Soeharto pada peresmian tiga unit produksi industri baja Krakatau Steel di Cilegon. Yaitu bahwa peristiwa itu merupakan titik awal dalam pembinaan generasi muda yang akan mengemban tugas membangun industri besar-besaran sebagai perwujudan dari cita-cita perjuangan bangsa kita.

Angkatan 45 masih dapat berbuat hal-hal yang sangat penting bagi masa depan negara dan bangsa, apabila mereka menggunakan sisa pengabdiannya untuk merampungkan dan membulatkan tugas historisnya dengan menyediakan prasyarat­ prasyarat bagi pembangunan masyarakat industri yang maju, adil, makmur dan lestari oleh generasi penerus dalam tahap "take off" nanti.

Sekali lagi, tugas itulah yang tercakup dalam pidato Presiden Soeharto di Cilegon pada hari Kamis yang lalu.

Jakarta, Sinar Harapan

Sumber : SINAR HARAPAN (1983)

Dikutip sesuai tulisan dan ejaan aslinya dari buku "Presiden RI Ke II Jenderal Besar HM Soeharto dalam Berita", Buku VII (1983-1984), Jakarta : Antara Pustaka Utama, 2008, hal. 256-259.

Kenapa tidak meninggalkan komentar?

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.