DARI KUNJUNGAN PRESIDEN KE PAKISTAN DAN INDIA (3-HABIS): BEBERAPA CATATAN KECIL

DARI KUNJUNGAN PRESIDEN KE PAKISTAN DAN INDIA (3-HABIS): BEBERAPA CATATAN KECIL

Oleh : Thress Nio

SALAH satu tugas Presiden selama kunjungan ke Pakistan dan India adalah memberikan sambutan. Sambutan-sambutan yang resmi sudah dipersiapkan terlebih dahulu. Sambutan untuk jamuan makan malam kenegaraan, sambutan untuk acara di Kebun Mughal, sambutan pada waktu tiba di lapangan udara Palam.

Semuanya telah dipersiapkan dengan rapi oleh pembuat pidato Presiden, Brigjen Moerdiono. Telah dipikirkan dan dirundingkan isinya. Di-"check" dan "re-check" dengan Menlu Mochtar Kusumaatmadja, dengan Dirjen Politik Ch Anwar Sani, dengan Direktur Asia Pasifik: M. Satari. Telah disesuaikan gaya bahasanya dengan kepribadian Kepala Negara dan dibumbui dengan fakta-fakta yang memberikan "personal touch".

Akan tetapi di samping sambutan-sambutan resmi di atas, ada kalanya Presiden tiba-tiba diminta untuk memberikan sambutan. Seperti halnya di Pakistan ketika Kepala Negara berkunjung ke kamp pengungsi Afghanistan. Atau ketika meninjau KANUPP, pusat nuklir pembangkit tenaga listrik di Karachi. Pada kesempatan seperti itu maka Kepala Negara berpidato tanpa teks.

Selama melakukan kunjungan kenegaraan tujuh hari di Pakistan dan India, Presiden Soeharto beberapa kali memberikan sambutan dan wejangan secara lisan, tanpa teks pidato. Dan semuanya dinilai "bagus". Terutama wejangan kepada masyarakat Indonesia di Islamabad dan New Delhi, dinilai oleh Prof .Widjojo Nitisastro sebagai "bagus sekali"!

Terlepas dari bagus atau tidaknya isi pidato itu, pidato dengan teks pada umumnya memang kurang menarik Terlebih-lebih jika orang harus menunggu terjemahannya. (Presiden Soeharto selalu berpidato dalam bahasa Indonesia). Lain halnya jika orang tidak terikat dengan teks pidato. Orang dapat lebih bebas mengeluarkan isi hati dan dapat menyesuaikan pidatonya dengan suasana pada waktu itu.

Dalam hal Presiden Soeharto, perbedaan ini nampak sangat menyolok. Pada waktu memberikan sambutan kepada masyarakat Indonesia di New Delhi misalnya, Presiden nampak sangat santai dan bebas, tidak kaku. Apa yang diucapkan terasa spontan, yaitu apa yang terkandung dalam hatinya. Dan karenanya sambutannya menjadi lebih hidup. Dan lebih menarik! Demikian pula pada waktu memberikan sambutan di KANUPP.

TUGAS lain dari Presiden selama mengadakan kunjungan kenegaraan ini ialah menulis kesan-kesan dalam buku tamu. Entahlah itu di makam Bapak Pakistan Ali Jinnah, di makam Bapak India Mahatma Gandhi, di museum, di KANUPP, di pusat penelitian pertanian Pusa, Presiden selalu diminta menuliskan kesan-kesannya. Pada kesempatan itu Presiden Soeharto selalu menulis kesan-kesannya dalam bahasa Indonesia.

"Sangat mengesankan hasil-hasil yang telah dicapai dalam bidang pertanian untuk meningkatkan taraf hidup rakyat India", demikian tulis Presiden di Pusat Penelitian Pertanian Pusa. Dan di sampingnya: "Soeharto Presiden Republik Indonesia". Dan pada acara-acara di mana Nyonya Tien Soeharto ikut hadir, lbu Negara biasanya juga ikut membubuhkan tandatangannya di bawah tanda tangan Presiden.

Berbeda dengan Presiden yang selalu menggunakan bahasa Indonesia dalam menuliskan kesan-kesannya di buku tamu, Nyonya Tien Soeharto biasanya menulis kesan-kesannya dalam bahasa Inggeris. "Very impressive handicraft”– demikian tulis Nyonya Tien Soeharto ketika mengunjungi "Thread lines Gallery", sebuah pusat kerajinan tangan di Islamabad.

Nyonya Tien Soeharto selama kunjungan memang nampak banyak menggunakan bahasa Inggris. Bahkan di pusat nuklir KANUPP, sering terdengar Nyonya Tien Soeharto mengajukan pertanyaan-pertanyaan yang bersifat tehnis dalam bahasa Inggeris. Penterjemah Nyonya Tien Soeharto, Drs. Anton Hilman, yang selalu berdiri di dekatnya, hampir-hampir tidak diperlukan jasanya.

Lain halnya dengan Presiden. Baik dalam pidato resmi maupun sambutan yang mendadak, Presiden selalu menggunakan bahasa Indonesia yang kemudian ditetjemahkan oleh Drs. Widodo Sutyo. Demikian pula dalam perundingan resmi. Bahkan dalam pertemuan empat-mata pun, Drs. Widodo Sutyo selalu hadir. Hanya dalam berbincang-bincang tak resmi, Presiden Soeharto menggunakan bahasa Inggris.

ROMBONGAN resmi yang berangkat ke Pakistan dan India sebenarnya tidak besar. Dengan Kepala dan Ibu Negara hanya betjumlah sekitar 15 orang saja. Akan tetapi di luar rombongan resmi, masih ada rombongan staf yang terdiri dari para ajudan, dokter pribadi, Asisten Menteri/Sekretaris Negara urusan Media Massa, para penterjemah, dan lain-lain. Lalu masih ada rombongan wartawan yang terdiri dari 18 orang wartawan dan cameraman. (Harian Kompas tidak termasuk di dalam rombongan). Dan yang terakhir adalah rombongan petugas keamanan.

Dalam kunjungan resmi seperti ini, keamanan Presiden sebenarnya merupakan tanggungjawab dari tuan rumah. Sekalipun demikian, dari pihak Indonesia masih menyediakan juga petugas-petugas keamanan.

"Bukan karena kami tidak percaya kepada tuan rumah, melainkan ya, karena karni tidak dapat mengambil risiko," kata seorang petugas.

Beberapa hari sebelum Presiden tiba, sudah ada team keamanan yang mendahului. Tugas mereka terutama adalah melihat bagaimana tuan rumah mengatur segi keamanan, apa-apa yang masih perlu dilakukan, dan lain-lain.

Di antara team pendahulu ini terdapat juga dokter yang harus melihat peralatan medis apa yang tersedia dan yang tidak tersedia di tempat-tempat yang akan dikunjungi oleh Kepala Negara. Beberapa jam sebelum Kepala Negara tiba di suatu tempat, sudah ada petugas keamanan Indonesia yang menjaga di tempat tersebut.

Dibandingkan dengan kunjungan Presiden Soeharto ke luar negeri yang pertama kalinya tahun 1968, sistem penjagaan keamanan ini tidak banyak berubah. Semua tempat dan semua barang yang akan disentuh Kepala Negara diperiksa terlebih dahulu. Demikian pula semua makanan dan minuman yang akan dihidangkan harus diperiksa terlebih dahulu. Bagasi Kepala dan Ibu Negara harus dijaga secara khusus. Demikian juga pesawat Gamda DC-10 yang ditumpangi Kepala Negara.

Apa yang berbeda ialah makin "sophisticated" nya para petugas keamanan ini. Jumlah mereka (sekitar 25 orang) lebih kecil dibandingkan dengan waktu kunjungan Presiden ke Jepang dan Kamboja 12 tahun yang lalu. Akan tetapi menurut keterangan yang diperoleh, peralatan mereka sekarang jauh lebih maju. Dengan walkie-talkie mereka, petugas-petugas berpakaian setelanjas berpici hitam yang perawakannya rata-rata jauh lebih kecil daripada orang Pakistan atau India ini, menarik perhatian.

Terutama di Pakistan, petugas keamanan Indonesia nampak sangat aktif. Sebelum Presiden Soeharto tiba di Lahore, wartawan-wartawan foto setempat diperiksa tanda pengenalnya oleh petugas keamanan RI. Dan selama Presiden berkenalan dengan para pejabat dan korps diplomatik setempat, para petugas dengan ketat mengelilingi Kepala Negara. Menurut seorang petugas keamanan, masalahnya, Pakistan jauh lebih kuno peralatannya dari pada Indonesia.

"Kendaraan anti-peluru saja mereka tidak memilikinya," kata petugas tersebut. Di India, ke manapun Presiden pergi, kecuali sebuah ambulans ikut pula sebuah unit SSS. Tugasnya adalah memberikan laporan pandangan mata tentang apa saja yang dikerjakan oleh Presiden. Di mana Kepala Negara berada, sedang apa, dan sebagainya. Laporan pandangan mata ini kemudian diteruskan ke Jakarta melalui kantor Atase Pertahanan RI di New Delhi.

Di antara rombongan staf, seorang pemuda tanggung menarik perhatian. Di manapun Kepala dan lbu Negara menginap, apakah di State Guesthouse atau di Istana Kepresidenan Rastrapati Bhavan, pemuda itu selalu ikut. Selalu harus tidur di dekat Kepala Negara dan lbu Negara. Pemuda itu adalah Umang, penata rambut Presiden dan Nyonya Tien Soeharto.

”Kalau rambut Bapak tidak perlu diatur, hanya digunting saja bilamana perlu. Tapi rambut lbu harus diatur, baik bagian muka maupun sanggulnya," kata Umang yang setiap harinya juga mengatur rambut Nyonya Tien Soeharto di Cendana.

Mengenai pakaian, menurut keterangan, Nyonya Tien Soeharto selama kunjungan mengatur pakaiannya sendiri dibantu oleh para ajudan. Untuk setiap acara, nampak Nyonya Tien Soeharto mengenakan kain kebaya dan selendang yang lain. Berbeda dengan Presiden yang hampir selalu nampak berpakaian setelan jas biru tua dengan kemeja biru muda serta dasi biru tua, Nyonya Tien Soeharto tidak nampak mempunyai warna kesayangan tertentu, kebaya dan selendang yang dikenakannya terdiri dari berbagai warna biru muda, biru tua, jingga, coklat, ungu. (DTS)

Jakarta, Kompas

Sumber: KOMPAS (10/12/1980)

Dikutip sesuai tulisan dan ejaan aslinya dari buku "Presiden RI Ke II Jenderal Besar HM Soeharto dalam Berita", Buku V (1979-1980), Jakarta: Antara Pustaka Utama, 2008, hal. 699-702.

Kenapa tidak meninggalkan komentar?

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.