DARI KUNJUNGAN KENEGARAAN KE PAKISTAN & INDIA

DARI KUNJUNGAN KENEGARAAN KE PAKISTAN & INDIA

Penjelasan Presiden dinilai amat bermanfaat

Penjelasan yang dikemukakan Presiden Soeharto dalam amanatnya di depan masyarakat Indonesia di ibu kota Pakistan, Islamabad dan ibu kota India, New Delhi masing-masing tanggal 29 Nopember malam dan 3 Desember malam tampaknya berhasil menjernihkan masalah yang belakangan ini sedikit banyak menimbulkan tanda tanya di kalangan masyarakat Indonesia yang berada di dua negara itu.

"Kami yang berada jauh dari tanah air lebih banyak memperoleh informasi tentang Indonesia dari surat kabar atau radio luar negeri," kata seorang mahasiswa Indonesia yang memperdalam ilmunya tentang agama Islam di Lahore." Dan kalau tidak sepotong­sepotong, informasi itu biasanya mudah menimbulkan kesan keliru, apalagi bila disiarkan oleh media massa yang kurang bersimpati dengan Indonesia," tambahnya.

Tentang bantuan luar negeri. Di dua kesempatan itu, dalam rangkaian kunjungan kenegaraan Presiden Soeharto dan rombongan ke Pakistan dan India tanggal 28 Nopember – 4 Desember lalu, Presiden meluangkan waktu untuk bertemu muka dengan masyarakat Indonesia.

Dalam amanat yang diberikannya, dengan singkat tapi jelas Presiden menguraikan masalah-masalah aktual yang banyak diperbincangkan belakangan ini di dalam negeri, terutama sekali bantuan luar negeri. "Memang bantuan luar negeri yang kita terima tidak dibagi-bagikan langsung kepada rakyat," kata Presiden.

Tapi kita gunakan untuk, membangun prasarana dan sarana produksi, misalnya pabrik pupuk, jalan-jalan dan irigasi. Pupuk diperlukan rakyat untuk meningkatkan produksi pertaniannya. Begitu pula irigasi, sedang jalan-jalan sebagai prasarana untuk memperlancar angkutan hasil pertanian itu, kata Presiden selanjutnya.

Dengan penggunaan kredit luar negeri seperti itu, maka manfaat yang diterima rakyat adalah merupakan peningkatan produksi karena adanya pabrik pupuk dan kelancaran angkutan karena baiknya jalan dan lancarnya lalu lintas.

Tentang Cadangan Devisa

Tentang cadangan devisa yangjuga banyak dipertanyakan, Presiden menjelaskan, dengan terjadinya peristiwa Pertamina beberapa tahun lalu, cadangan devisa kita yang waktu itu sempat mencapai jumlah AS $ 2 milyar terpaksa digunakan untuk menutup hutang jangka pendek Pertamina.

Kini cadangan devisa berhasil mencapai AS $ 7,5 milyar.

"Ini memang bisa menimbulkan anggapan, buat apa menerima bantuan luar negeri lagi" kata Presiden.

Tapi masalahnya tidak sesederhana itu. Cadangan devisa sebesar itu memang bisa memenuhi kebutuhan impor untuk kurang lebih tujuh bulan.

“Tapi di pihak lain, ada tawaran bantuan tanpa ikatan politik. Kenapa bantuan ini tidak dimanfaatkan," ujar Presiden selanjutnya.

Sangat Bermanfaat

Seorang pejabat senior di kedutaan besar Indonesia di New Delhi menyatakan, apa yang dijelaskan Presiden Soeharto dengan sederhana amat bermanfaat bagi masyarakat Indonesia di India, terutama sekali para pemuda/mahasiswa dan mereka yang memperdalam ilmu dalam pelbagai bidang.

Dikatakan, informasi yang diperoleh dari media massa asing tidak jarang bisa menimbulkan kesan keliru.

Memang surat kabar India misalnya, cukup mempunyai pengertian dan pandangan positif terhadap Indonesia. Tapi informasi yang diperoleh dari sumber lain tidak jarang memberi gambaran keliru, sehingga penjelasan yang diberikan Presiden akan dapat mendudukkan masalah pada tempatnya, kata pejabat kedubes tadi. (DTS)

Jakarta, Suara Karya

Sumber: SUARA KARYA (15/12/1980)

Dikutip sesuai tulisan dan ejaan aslinya dari buku "Presiden RI Ke II Jenderal Besar HM Soeharto dalam Berita", Buku V (1979-1980), Jakarta: Antara Pustaka Utama, 2008, hal. 745-746.

Kenapa tidak meninggalkan komentar?

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.