DANA NON BUDGETER UNTUK KESEJAHTERAAN PNS

DANA NON BUDGETER UNTUK KESEJAHTERAAN PNS[1]

 

Jakarta, Antara

Dana pembangunan yang tidak termasuk APBN seperti dana reboisasi dan berbagai retribusi yang dikutip pemerintah daerah diperkirakan mencapai 20 persen dari APBN dan mestinya dapat digunakan untuk meningkatkan kesejahteraan pegawai negeri sipil (PNS).

Gagasan itu dikemukakan oleh anggota Komisi VII DPR, A Baramuli, seusai mendengarkan Pidato Presiden Soeharto tentang Nota Keuangan dan RAPBN 1997/98, Senin di gedung DPR/MPR RI, Jakarta.

“Kalau RAPBN 1997/1998 sebesar Rp 101,1 triliun maka dana non budgeter sekitar Rp 20 triliun. Nilai itu cukup untuk meningkatkan kesejahteraan dan gaji PNS dan ABRI.” katanya.

Dana non budgeter yang diterima oleh pemerintah pusat dan daerah sebaiknya ditertibkan dengan masuknya dana tersebut ke kas negara.

Rencananya berbagai pungutan yang dilakukan pemerintah pusat dan daerah akan ditertibkan melalui UU Pajak Daerah dan Retribusi, ujarnya.

Menurut dia, upaya peningkatan kesejahteraan PNS dan ABRI sangat penting untuk mengurangi ekonomi biaya tinggi akibat birokratisasi. Selain itu,jumlah PNS perlu dilakukan rasionalisasi atau perampingan.

Namun, PNS yang sudah bekerja 10 tahun, diberikan hak menerima uang pensiun penuh atau 75 persen dari gaji kotor.

“Kalau kembali ke kampung maka mereka akan menjadi salah satu kekuatan ekonomi di daerah. Mereka bisa bekerjasama dengan pengusaha lokal untuk mendapatkan tender-tender kecil seperti kebutuhan alat-alat kantor.” katanya.

Ia menjelaskan lebih lanjut, dalam RAPBN saat ini terdapat anggaran pembangunan sebesar Rp 38 triliun, 30 persen diantaranya itu tidak dilakukan melalui tender misalkan pengadaan alat-alat kantor.

Kalau hal itu bisa diserahkan kepada para pensiun PNS akan menjadi motor penggerak pemerataan pembangunan, kata Baramuli.

Sumber : ANTARA (06/01/1997)

__________________________________________________________________

[1] Dikutip sesuai tulisan dan ejaan aslinya dari Buku “Presiden Ke II RI Jenderal Besar HM Soeharto dalam Berita.” Buku XIX (1997), Jakarta : Antara Pustaka Utama, 2008, hal 208-209.

Kenapa tidak meninggalkan komentar?

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.