DAHLAN RANUWIHARDJO MPR HARUS MUNDUR JIKA PRESIDEN TIDAK MUNDUR

DAHLAN RANUWIHARDJO

MPR HARUS MUNDUR JIKA PRESIDEN TIDAK MUNDUR[1]

 

Jakarta, Merdeka

Pernyataan Ketua DPR/MPR Harmoko tentang pengunduran diri Presiden terus bergulir. Fraksi-fraksi DPR ragu telah mengeluarkan sikapnya tentang pengunduran diri Presiden Soeharto.

“Pernyataan dari lembaga tertinggi negara itu sudah kuat sebagai landasan konstitusional bagi Presiden Soeharto untuk segera mengundurkan diri. Saya kira inilah yang menjadi tuntutan dari kawan-kawan yang saat ini tengah menggelar aksi-aksi menuntut reformasi.” kata pengamat politik dan Dekan Fakultas Hukum Unas Jakarta Dahlan Ranuwihardjo di Jakarta, kemarin.

Dia juga memuji performa anggota DPR/MPR yang mulai menarik simpati mahasiswa.

“Kalau Presiden Soeharto tidak segera mengundurkan diri, alternatifnya MPR segera mengundurkan diri.” tandasnya.

Tetapi lanjutnya kalau Sidang Umum atau Sidang Istimewa jadi diselenggarakan yang akan diturunkan bukan hanya Presiden tetapi juga Wakil Presiden dan Kabinetnya. Bedanya Wapres BJ Habibie masih diperkenankan untuk mencalonkan diri sebagai Presiden pada pemilu berikutnya. Kalau memang berkenan, katanya Menurut Dahlan tokoh-tokoh kritis yang saat ini ikut dalam gerakan reformasi bisa saja dipilih menjadi presiden. Tetapi mereka harus dapat menarik simpati sebesar-besarnya dari masyarakat melalui pemilu yang akan dilaksanakan nanti.

Dalam pemilu nanti, diakui sangat berpeluang munculnya beberapa partai baru seperti Partai Islam Modernis. Islam Tradisional, Nasionalis dan mungkin juga Golongan Karya. Untuk Golkar, katanya sebaiknya memang tidak memakai nama Golkar lagi karena dalam pemilu yang akan diadakan nanti ABRI dan birokrasi harus lepas dari Golkar. Karena selama 30 tahun ini, Golkar terlalu mendapat dukungan dari birokrasi dalam pelaksanaan pemilu.

Menyinggung Komite Reformasi yang anggotanya menurut rencana diumumkan pemerintah hari ini, dinilai beberapa kalangan tidak relevan dan tidak logis dengan tuntutan reformasi yang digelorakan mahasiswa.

“Yang terpenting saat ini mengembalikan kepercayaan masyarakat terhadap pemerintah.” katanya.

Dikatakan, jika memang mau diadakan pemilihan umum (pemilu) secepatnya, langkah pertama yang harus dilakukan adalah menciptakan iklim yang demokratis dan iklim yang memadai bagi masyarakat madani disertai rekonsiliasi nasional.

Sebab selama tiga tahun terakhir ini masyarakat banyak yang mengalami trauma­trauma akibat peristiwa-peristiwa politik. Dia menunjuk peristiwa-peristiwa sebelum, menjelang selama dan pasca pemilihan umum 1997.

Akibat adanya rekayasa yang menimbulkan tidak simpatiknya beberapa kelompok terhadap salah satu kontestan pemilu dan pemerintah sebagai penyelenggara berakhir dengan terjadinya kerusuhan.

Peristiwa-peristiwa tersebut antara lain di Ujungpandang, Bondowoso, Pasuruan, Jember, Tasikmalaya, Pekalongan. Rangkaian kejadian itu menunjukkan secara konkret ketidakpuasan beberapa kelompok masyarakat terhadap hasil dan pelaksanaan pemilu.

Dahlan selanjutnya mempertanyakan jika komite Soeharto akan mengadakan pemilu bagaimana bisa dijamin demokratisasinya? Disamping itu, Dahlan juga menyebutkan bahwa penangkapan terhadap aktivis KJPP (Komite Independen Pemantau Pemilu) dan pelarangan izin-izin pertemuan yang dianggap rawan juga meninggalkan trauma tersendiri dimasyarakat.

Demikian pula dengan rencana reshuffle kabinet, bagi Dahlan ini dianggap sama sekali tidak memecahkan masalah.

“Masalah essensinya kan ketidakpercayaan masyarakat terhadap pemerintahan saat ini.” tegasnya.

Untuk mengantisipasi tidak demokratisnya pemilu dan terjadinya rekayasa, Dahlan menawarkan beberapa alternatif. Alternatif pertama, Presiden Soeharto segera mengundurkan diri. Setelah presiden mundur, secara konstitusional Wakil Presiden akan naik dan menjadi pejabat sementara pemerintahan dan menjadi pelaksana penyelenggaraan pemilu yang baru.

Ketika ditanya tentang kekhawatiran Presiden Soeharto bahwa apabila Wapres menerima mandat sebagai Presiden belum tentu reformasi ini akan berjalan. Dahlan menegaskan bahwa kekhawatiran itu tidak beralasan sama sekali. (IMS)

Sumber : MERDEKA (21/05/1998)

_________________________________________________________________

[1] Dikutip sesuai tulisan dan ejaan aslinya dari Buku “Presiden Ke II RI Jenderal Besar HM Soeharto dalam Berita.” Buku XX (1998), Jakarta : Antara Pustaka Utama, 2008, hal 456-457.

Kenapa tidak meninggalkan komentar?

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.