D-8 SIAP KERJA SAMA DENGAN NEGARA MAJU

D-8 SIAP KERJA SAMA DENGAN NEGARA MAJU[1]

 

Istanbul, Antara

KTT D-8 yang dibuka Presiden Turki, Suleiman Demirel di Istanbul, Turki, Minggu (15/6) sepakat bekerjasama dengan sesama negara berkembang dan negara maju.

“Kami berketetapan untuk bekerjasama baik dengan negara berkembang maupun negara yang telah maju ekonomi nya dalam mewujudkan maksud-maksud tersebut.” demikian Deklarasi D-8 yang ditandatangani para pemimpinnya.

KTT yang dibuka Presiden Demirel itu, dilanjutkan dengan pidato PM Turki Necmetten Erbakan serta Presiden Soeharto yang mendapat kehormatan untuk berpidato pertama kalinya di antara para pemimpin dari luar negeri itu.

Pada bagian awal Deklarasi itu disebutkan keprihatinan mendalam bahwa sekalipun perang telah selesai, ternyata masih muncul berbagai ketegangan, ketidak stabilan, pertikaian dan konfrontasi.

“Masih berlanjut pula kebijakan-kebijakan lama, seperti standar ganda, diskriminasi, penindasan, yang dalam beberapa hal makin meningkat.” demikian isi deklarasi itu.

Selain menyampaikan keprihatinan di bidang politik, para peserta juga mengemukakan rasa kekecewaannya terhadap situasi ekonomi dunia dengan mengatakan masih terdapat berbagai hambatan.

Karena adanya berbagai kendala itu, maka Indonesia, Malaysia, Mesir, Nigeria, Pakistan, Bangladesh, Iran serta Turki sepakat untuk membentuk kelompok yang disebut D-8, untuk memperkokoh kerja sama Internasional.

“D-8 merupakan forum yang tidak akan mengganggu komitmen bilateral dan multilateral dalam organisasi Internasional dan nasional.” demikian isi deklarasi itu.

Tujuan D-8 adalah pembangunan sosial-ekonomi berdasarkan prinsip perdamaian bukan konflik, dialog bukan konfrontasi, kerjasama dan bukan eksploitasi, keadilan dan bukan standar ganda, persamaan dan bukan konfrontasi serta demokrasi dan bukan penindasan.

Kerjasama ini mencakup perdagangan dan industri, komunikasi dan informasi, keuangan dan perbankan, pembangunan pedesaan, Iptek, pengentasan kemiskinan dan pengembangan SDM, kesehatan, pariwisata dan kebudayaan.

Deklarasi ini ditandatangani Presiden Soeharto, PM Malaysia Mahathir Mohammad, PM Pakistan Nawaz Sahrif, PM Bangladesh Hassima, PM Mesir Kamal al Ganzouri, Menteri Perindustrian Nigeria Mohammad Hallad, Presiden Iran Hashemi Rafsanjani dan PM Turki Erbakan.

Sumber : ANTARA (27/06/1997)

____________________________________________________________

[1] Dikutip sesuai tulisan dan ejaan aslinya dari Buku “Presiden Ke II RI Jenderal Besar HM Soeharto dalam Berita.” Buku XIX (1997), Jakarta : Antara Pustaka Utama, 2008, hal 53.

 

Kenapa tidak meninggalkan komentar?

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.