CIPUTRA : KONGLOMERAT PERLU LIHAT LANGSUNG EKONOMI MASYARAKAT

CIPUTRA : KONGLOMERAT PERLU LIHAT LANGSUNG EKONOMI MASYARAKAT[1]

 

Palu, Antara

Para pengusaha besar perlu melihat secara langsung perekonomian masyarakat yang termasuk dalam kelompok di bawah garis kemiskinan, agar lebih tergugah untuk memberikan kontribusi bagi peningkatan kesejahteraan masyarakat, kata Ir. Ciputra.

“Para pengusaha perlu melihat kebutuhan masyarakat secara langsung, sekaligus menyaksikan cara kerja mereka dalam memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari.” Kata konglomerat sektor properti dan konstruksi itu, di Palu, Sulteng, Selasa.

Ciputra hadir di di Desa Beka (Kec Marawola, Kab. Donggala), 13 kilometer sebelah barat kota Palu, mendampingi Menteri Negara Kependudukan/Kepala BKKBN Prof Dr. Haryono Suyono meninjau secara langsung kehidupan masyarakat yang termasuk dalam keluarga prasejahtera dan sejahtera I di Sulteng.

Dalam kesempatan itu, dia menyaksikan dari dekat keluarga prasejahtera dan sejahtera I yang memperoleh kredit usaha sejahtera (Kukesra) sebesar Rp 20 ribu per kepala keluarga dengan bunga enam persen per tahun.

Pada tahap awal, keluarga pra-sejahtera dan sejahtera I itu di bawah asuhan Dinas Pertanian Pemda Sulteng mengembangkan usaha penanam palawija dan tanaman sejenis antara lain jagung, kacang tanah, kedele, pisang, dan nenas yang disesuaikan situasi dan kondisi wilayahnya.

Ciputra yang dibesarkan di Parigi (Kab. Donggala, Prop. Sulteng) menghimbau kepada para konglomerat untuk datang ke desa-desa menyaksikan dari dekat bagaimana masyarakat miskin berjuang untuk dapat bertahan hidup.

Menurut aktivis kelompok Jimbaran ini, para konglomerat menyalurkan keuntungan sebesar dua persen kepada keluarga prasejahtera di Indonesia melalui Yayasan Dana Sejahtera Mandiri (DSM).

Yayasan DSM diketuai langsung oleh Presiden Soeharto dengan wakil I, II, dan III masing-masing Haryono Suyono, Soedono Salim, dan Sudwikatmono.

“Cuma bila para pengusaha besar telah memberikan uangnya, masyarakat yang dibantu perlu juga menyiapkan mental untuk terus bekerja keras.” ujarnya.

Ciputra mengakui untuk mengubah mental dari malas menjadi rajin, memang susah, dan itu perlu kesabaran.

“Memang malu sekali, kita sudah merdeka 50 tahun tapi masih banyak yang berada di bawah garis kemiskinan.” kata Ciputra.

Sumber : ANTARA (13/06/1996)

________________________________________________________

[1] Dikutip sesuai tulisan dan ejaan aslinya dari Buku “Presiden Ke II RI Jenderal Besar HM Soeharto dalam Berita”, Buku XVIII (1996), Jakarta : Antara Pustaka Utama, 2008, hal 318-319.

Kenapa tidak meninggalkan komentar?

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.