CETUSAN PANDAAN 1981

CETUSAN PANDAAN 1981

Puncak berakhirnya Pekan Pendidikan Politik Kader Bangsa Angkatan Ketiga yang diselenggarakan oleh Sentral Organisasi Karyawan Swadiri Indonesia (SOKSI) di Pandaan (Jawa Timur), Sabtu, ditandai dengan suatu cetusan oleh pesertanya yang dinamakan Cetusan Pandaan 1981.

Isi cetusan itu ialah mengingatkan dan rnempertegas lagi materi yang tercantum dalam memorandum 88, yaitu mengusulkan Jenderal TNI (Purnawirawan) Soeharto sebagai bapak pembangunan nasional, serta mengusulkan agar Jendral TNI (Purnawirawan) Soeharto dicalonkan kembali untuk jabatan Presiden Republik Indonesia untuk masa jabatan berikutnya.

Peserta pekan pendidikan politik tersebut juga memberikan sumbangsih berupa pemikiran yang isinya antara lain menyebutkan pembangunan politik diarahkan untuk lebih memantapkan perwujudan demokrasi Pancasila. Karena itu, usaha-usaha untuk memasyarakatkan dan menbudayakan Pancasila melalui berbagai pendidikan seperti P-4 perlu terus digalakkan.

Sikap Kader yang Pancasilais

Sementara itu, Menmud Urusan Pemuda Abdul Gafur, dalam ceramahnya di depan peserta Pendidikan Politik Kader Bangsa tersebut, hari Sabtu, mengemukakan, para kader bangsa yang Pancasilais harus sikap, perilaku, tindakannya serta kesetiaannya terhadap negara dan bangsa.

Menyinggung arti kader yang berasal dari bahasa Perancis, Abdul Gafur mengemukakan, sesuai artinya sebagai bingkai, mereka berfungsi sebagai penguat dan pelindung, Jengan segala kesadaran dan semangat pantang menyerah, demi bangsa dan negara Republik Indonesia.

Dia mengemukakan, pendidikan kader adalah mahal, karenanya, para peserta pendidikan kader politik bangsa ini seusai mengikuti pendidikan hendaknya mengamalkan dengan penuh kesadaran, konsekuensi serta tekad tidak kenal ielah segala yang diperolehnya selama pendidikan, karena mereka telah menyandang predikat sebagai kader bangsa. (DTS)

Surabaya, Antara

Sumber: ANTARA (09/11/1981)

Dikutip sesuai tulisan dan ejaan aslinya dari buku "Presiden RI Ke II Jenderal Besar HM Soeharto dalam Berita", Buku VI (1981-1982), Jakarta: Antara Pustaka Utama, 2008, hal. 254-255.

Kenapa tidak meninggalkan komentar?

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.