CEGAH KEBOCORAN DAN PEMBOROSAN Kalpataru 1996 Diraih Warga Timtim

CEGAH KEBOCORAN DAN PEMBOROSAN Kalpataru 1996 Diraih Warga Timtim[1]

 

Jakarta, Media Indonesia

Presiden Soeharto menegaskan guna meningkatkan efisiensi nasional sekaligus menjamin kesinambungan pembangunan berwawasan lingkungan harus dikembangkan proses dan sistem kerja yang menghemat sumber daya, memperbesar manfaat, mengurangi serta mencegah kebocoran dan pemborosan. Untuk itu, ujar Presiden, efisiensi bagi kita harus merupakan usaha pemanfaatan sumber daya yang sebijaksana mungkin untuk mencapai kualitas hidup yang diidam-idamkan manusia Indonesia.

Presiden mengemukakan hal itu pada peringatan Hari Lingkungan Hidup Sedunia di Istana Negara, kemarin. Pada kesempatan itu, Kepala Negara menyerahkan penghargaan “Kalpataru 1996” kepada tokoh-tokoh yang dianggap telah berbuat banyak bagi kelestarian alam dan lingkungan hidup.

Menurut Kepala Negara, umumnya efisiensi dianggap hanya berkaitan dengan proses produksi. Padahal tidak boleh dilupakan kerangka hubungan yang lebih besar yaitu efisiensi dalam penggunaan sumber daya nasional untuk mencapai tujuan pembangunan.

Kualitas semua sumber daya, ujar Presiden, menentukan efisiensi dan produktivitas.

“Sumber daya yang berkualitas rendah akan sulit memberikan produktivitas yang tinggi. Kualitas sumber daya itu sendiri tergantung pada kualitas lingkungan hidup.” ungkap Kepala Negara.

Untuk tahun ini penghargaan “Kalpataru 1996” diberikan kepada Inacio Chaves dari Kabupaten Liquica, Timtim, sebagai perintis lingkungan, Warsono asal Gunung Kidul, DI Yogyakarta sebagai pengabdi lingkungan dan Mambodyanto Sumoprawiro memperoleh penghargaan pembina lingkungan. Sedangkan Kelompok Desa Adat Tri Kayangan dari Kabupaten Tabanan, Bali dan Kelompok Tani Sumber Makmur dari Kabupaten Ponorogo mendapat penghargaan sebagai penyelamat lingkungan.

Seperti tahun-tahun sebelumnya, puncak peringatan Hari Lingkungan Hidup ditandai dengan pemberian Adipura, Neraca Kualitas Lingkungan Hidup Daerah (NKLD), Satya Lencana Pembangunan dan Satya Lencana Wirakarya.

Inacio Chaves dinilai berhasil sebagai perintis lingkungan karena melakukan penghijauan antara lain dengan tanaman Albasia, membuat terasering pada tanah miring 45 derajat, dan memberikan penyuluhan agar masyarakat tidak membakar hutan.

Sedangkan Warsono memperoleh Kalpataru karena berhasil memperbaiki habitat burung walet melalui hutan rakyat, membuat penerangan jalan dan melakukan penyekatan telaga dan penampungan air hujan. Sementara Mambodyanto menerima Kalpataru karena melakukan konservasi keanekaragaman hayati dengan memperbanyak tanaman langka dan membangkitkan kesadaran masyarakat untuk mencintai tanaman langka.

Kelompok Desa Adat Tri Kahyangan dinilai berhasil melakukan penyelamatan keragaman hayati di hutan sekitar Pura Mekuri dan pelestarian air serta memugar situs arkeologi Pura Luhur Mekuri yang ada di dalamnya.

Sumber : MERDEKA (10/12/1996)

________________________________________________________________

[1] Dikutip sesuai tulisan dan ejaan aslinya dari Buku “Presiden Ke II RI Jenderal Besar HM Soeharto dalam Berita.” Buku XVIII (1996), Jakarta : Antara Pustaka Utama, 2008, hal 782-783.

 

Kenapa tidak meninggalkan komentar?

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.