BUNGA UNTUK PAK HARTO LUAR BIASA

BUNGA UNTUK PAK HARTO LUAR BIASA[1]

 

Jakarta, Suara Karya

Mantan Presiden Soeharto tampak tenang saja menghadapi berbagai kritik sampai hujatan kepada dirinya. Orang-orang yang dekat dengan Soeharto melihat ketenangan ini tetap seperti ketika ia masih memegang jabatan presiden.

“Bagaimana terhadap menteri yang dulu setia, dan sekarang berbalik ikut menghujat atau setidak-tidaknya berkhianat pada Pak Harto?” demikian pertanyaan orang-orang yang masih berada dekat dengan mantan Presiden sampai saat ini.

Menanggapi pertanyaan itu, Soeharto dengan tenang menjawab,

“Mungkin dia terpaksa begitu karena desakan rakyat.”

Dalam usia 77 tahun yang genap jatuh pada Senin (8/6), mantan Presiden masih banyak menerima ucapan selamat. Ucapan selamat berupa karangan bunga jumlahnya puluhan dan dikumpulkan di ruang tengah di kediaman jalan Cendana No.8, Jakarta.

Menurut orang-orang yang lama ikut dengan Soeharto, karangan bunga kali ini jumlahnya luar biasa banyaknya. Mereka mengatakan ketika masih menjadi presiden jumlah karangan bunga tidak sebanyak sekarang ini.

Soeharto lebih banyak berdiam di rumah jalan Cendana sambil membaca semua surat kabar dan majalah. Acara di televisi terutama berita-berita tidak luput dari perhatiannya.

Mantan Presiden kini lebih banyak berkumpul dengan putra-putrinya serta para cucu-cucu. Sedangkan orang di luar keluarganya jarang terlihat berkunjung ke kediaman jalan Cendana.

Ia kini tidak lagi aktif bermain golf seperti ketika masih menjadi presiden. Namun dalam dua minggu setelah tidak lagi sebagai presiden, kebiasaannya adalah mengikuti sholat Jumat di Mesjid Diponegoro di Taman Mini Indonesia Indah.

Setidaknya sudah dua kali Jumat ia melakukan sholat di mesjid yang berdampingan dengan gereja, pura dan vihara di Taman Mini itu.

Usai salat sebagai warga biasa, Soeharto ternyata masih mendapat perhatian besar dari jemaah di mesjid itu. Banyak orang masih ingin bersalaman kepadanya.

Ia tidak lagi mendapat pengawalan ketat seperti ketika masih menjadi presiden. Pengawalan tetap ada namun ajudan tidak lagi seperti dulu. Ajudan polisi Kolonel Pol Drs. Sutanto kini tidak lagi mendampingi, karena akan diangkat menjadi Wakapolda Metrojaya. Dia adalah ajudan paling senior dari 4 ajudan yang ada. Dalam waktu dekat Kol Tedy Sumarno juga akan ditarik kembali ke Mabes TNI AU. Ajudan yang masih akan mendampingi mantan presiden tinggal Kol Issantoso dari unsur TNIAD dan Kol Mardjono dari unsur TNI AL. Keduanya masih tetap mendampingi mantan Presiden sampai ada keputusan Pangab yang mengubahnya. (A-6)

Sumber : SUARA KARYA (09/06/1998)

____________________________________________________________

[1] Dikutip sesuai tulisan dan ejaan aslinya dari Buku “Presiden Ke II RI Jenderal Besar HM Soeharto dalam Berita.” Buku XX (1998), Jakarta : Antara Pustaka Utama, 2008, hal 655-656.

Kenapa tidak meninggalkan komentar?

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.