BUMN “COLLAPSE”, LEBIH BAlK DISWASTAKAN DARI PADA DILELANG

BUMN “COLLAPSE”, LEBIH BAlK DISWASTAKAN DARI PADA DILELANG [1]

 

Jakarta, Antara

Badan Usaha Milik Negara (BUMN) yang berada diambang kebangkrutan (collapse) lebih baik dicarikan mitra usaha dengan swasta dari pada dilelang.

“Kalau dilelang akan menimbulkan masalah pengangguran akibat adanya peralihan pengelolaan manajemen perusahaan, “kata Menteri Perindustrian, Tunky Ariwibowo kepada pers seusai acara penutupan  Rapat Konsultasi (Rakon) Departemen Perindustrian 1993 di Jakarta, Kamis.

Namun, pemilikan saham mayoritas harus pemerintah yang dalam hal ini atas nama Menteri Keuangan. Tunky merujuk pada pabrik pupuk Kujang I yang dinilai sudah tidak ekonomis lagi karena banyaknya mesin tua. Dalam menangani kasus Kujang I tersebut, pemerintah mengambil keputusan untuk mencarikan mitra usaha swasta. Namun, langkah pertama yang diambil yaitu mengumpulkan dana dari pabrik pupuk lainnya serta pinjaman Bank.

“Yang melakukan pinjaman Bank itu nantinya adalah Kujang I sendiri, “kata Tunky sambil menambahkan, cara ini hanya mampu dilakukan pabrik pupuk karena keuntungan BUMN Iainnya relatif kecil.

Mengenai 28 BUMN di lingkungan Depperind, akan diteliti mana yang memenuhi kriteria yaitu sebagai pelopor pembangunan, stabilisator perekonomian nasional dan menghasilkan laba untuk pemerintah, dan mana yang tidak.

”Yang tidak memenuhi tiga kriteria tersebut akan dicarikan jalan keluar yaitu usaha patun gan dengan swasta. Yang penting adalah menyelamatkan bisnis BUMN itu sendiri,”jelas Menperind.

Ditutup

Menperind sebelum menutup Rakon Depperind 1993 yang diikuti pejabat Depperin seluruh Indonesia dan berlangsung selama tiga hari (10 – 12 Agustus 1993).

Mengenai hasil Rakon, Tunky menjelaskan, aparat daerah disetujui menjadi unsur pembaharu pembangunan dan aktif dalam menginformasikan dan mempromosikan potensi daerah masing-masing.

Dengan cara itu, para investor dalam dan luar negeri akan mengetahui adanya peluang bisnis di suatu daerah. Adapun pengembangan industri dimasa datang, disepakati menitikberatkan pada industri yang mendayagunakan keunggulan komparatif, menggunakan sumber daya alam (SDA).

Selain itu, industri padat karya yang mampu menyerap banyak tenaga kerja disamping industri padat teknologi terus dikembangkan.

Peserta Rakon Depperin pagi harinya menerima arahan dari Presiden Soeharto yang pada intinya, Kepala negara mengharapkan ada upaya terus menerus dari seluruh aparat perindustrian untuk meningatkan daya saing industri nasional di dalam dan Iuar negeri. “Peningkatan daya saing itu tidak hanya difokuskan pada industri besar yang berteknologi tinggi, tetapi juga industri menengah dan kecil,” kata Tunky mengutip ucapan Presiden Soeharto.

Selain itu, juga akan diupayakan perkuatan struktur industri nasional dan meningkatkan keterkaitan antara industri hulu, menengah dan hilir sesuai tujuan kemandirian industri.

Sasaran lain dari lima sasaran industri yang merupakan hasil Rakon tersebut yaitu  mendorong tumbuhnya industri di daerah-daerah yang kurang maju termasuk Kawasan Timur Indonesia yang akan diupayakan dengan memanfaatkan potensi yang ada. (T-PE05!7:54PM   8/ 12/93/EU09)

Sumber:ANTARA(12/08/ 1993)

________________________

[1] Dikutip sesuai tulisan dan ejaan aslinya dari Buku “Presiden Ke II RI Jenderal Besar HM Soeharto dalam Berita”, Buku XV (1993), Jakarta: Antara Pustaka Utama, 2008, hal 548-549.

Kenapa tidak meninggalkan komentar?

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.