BULOG TAK AKAN IMPOR BERAS KARENA CADANGAN TIGA JUTA TON

BULOG TAK AKAN IMPOR BERAS KARENA CADANGAN TIGA JUTA TON[1]

 

Jakarta, Antara

Bulog tidak mempunyai rencana mengimpor beras untuk memenuhi kebutuhan masyarakat menghadapi kemarau panjang ini, karena stok yang diku asai Bulog sekarang adalah tiga juta ton.

“Jumlah itu cukup untuk menghadapi masa paceklik hingga Maret atau April mendatang.” kata Kepala Bulog Beddu Amang kepada pers setelah melaporkan situasi pangan kepada Presiden Soeharto di Bina Graha, Selasa.

Beddu menyebutkan Kepala Negara memang telah memerintahkan Bulog untuk melakukan operasi pasar (OP) ke setiap daerah tanpa harus menunggu naiknya harga secara tajam.

“Kalaupun OP selama 10 bulan menghabiskan satu juta ton, maka masih ada sisa beras tidak kurang dari satu juta ton.” kata Beddu sambil menambahkan bahwa cadangan satu juta ton itu secara teknis disebut buffer stock atau iron stock.

Sisa satu juta ton lainnya cukup untuk memenuhi golongan anggaran (PNS dan ABRI). Sekalipun mengatakan bahwa OP bisa saja mencapai satu juta ton, Kabulog mengatakan sampai saat ini belum pernah terjadi bahwa OP selama 10 bulan menghabiskan beras satu juta ton.

Dalam kaitan dengan musim kemarau panjang ini, Presiden juga minta Bulog meneruskan rencananya membangun depo atau gudang di daerah terpencil yang kapasitasnya 500-1.000ton. Gudang itu antara lain dibangun di Digul dan Wamena di ltja serta Kapuas Utara di Kalimantan.

Ketika mengomentari laporan Beddu tentang pembelian berbagai kebutuhan masyarakat yang berasal dari impor dalam kaitan dengan depresiasi, Kepala Negara menyebutkan bahwa sampai sekarang barang-barang itu dibeli dengan harga lama.

“Kita menentukan hargajual di dalam negeri tanpa melihat fluktuasi (naik turunnya harga, red) di luar negeri. Kalau kita menentukan harga dengan memperhatikan fluktuasi di luar negeri maka hilanglah fungsi Bulog sebagai stabilisator.” kata Beddu mengutip ucapan Presiden.

Ia mengatakan pula karena Bulog bertugas melakukan stabilisasi harga, maka bias terjadi untuk menyediakan satujenis barang, lembaganya terpaksa rugi atau defisit. Namun untuk menghindari kerugian maka Bulog menerapkan sistem subsidi silang.

Selain membicarakan masalah beras, Beddu juga melaporkan masalah pengadaan CPO terutama pasokan yang berasal dari Kantor Pemasaran Bersama (KPB). Selama ini KPB diperintahkan menyediakan 10.000ton/ bulan bagi Bulog.

“Presiden minta agar CPO untuk minyak goreng di dalam negeri ditingkatkan jumlahnya dari 10.000 ton/bulan menjadi 20.000 ton.” kata Beddu.

Penambahan suplai itu tidak akan mempengaruhi KPB karena jumlah CPO yang dipasok kepada pabrik minyak goreng mencapai 1,2 juta ton/tahun.

Sumber : ANTARA (19/08/1997)

___________________________________________________________

[1] Dikutip sesuai tulisan dan ejaan aslinya dari Buku “Presiden Ke II RI Jenderal Besar HM Soeharto dalam Berita.” Buku XIX (1997), Jakarta : Antara Pustaka Utama, 2008, hal 417-418.

Kenapa tidak meninggalkan komentar?

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.