BULOG SIAPKAN DIRI HADAPI KEMARAU PANJANG

BULOG SIAPKAN DIRI HADAPI KEMARAU PANJANG[1]

 

Jakarta, Antara

Badan Urusan Logistik (Bulog) telah menyiapkan diri untuk menghadapi musim kemarau panjang, walaupun persediaan beras sekarang sudah mencapai 525.000 ton.

“Apa pun yang terjadi, Bulog siap menghadapi kemarau panjang di berbagai daerah.” kata Kepala Bulog Beddu Amang kepada pers setelah melaporkan kepada Presiden Soeharto di jalan Cendana, Rabu tentang cadangan bahan-bahan pangan yang dikuasai ataupun diatur Bulog.

Karena itulah, kata Beddu Amang, Kepala Negara telah memerintahkan Bulog untuk menyiapkan berbagai kebutuhan pokok rakyat mulai dari beras, gula pasir hingga kacang kedelai.

Kabulog memberi contoh karena ada beberapa daerah yang produksi berasnya terbatas sekali seperti Irian Jaya, Maluku dan Timor maka Bulog akan berusaha menyediakan beras secukupnya.

Beddu Amang mengatakan pula Bulog memiliki cadangan gabah sekitar 2,4 juta ton. Khusus mengenai beras impor, ia membenarkan Bulog memiliki beras impor kurang baik. Tanpa bersedia menjelaskan negara asal beras itu, Bulog akan memproses ulang beras itu, dengan cara mencampurnya dengan beras lokal.

“Perbandingan beras campuran itu berkisar antara 1:3 hingga 1:5.” kata Beddu.

Karena pada hari Rabu ini tidak ada Sidang Kabinet Terbatas Bidang Ekku, Wasbang dan Prodis, maka Beddu melaporkan angka inflasi yang pada tahun anggaran 1996/97 mencapai 5,17 persen, dibawah angka serupa pada periode yang sama tahun sebelumnya 8,8 persen.

Banyak menteri yang sedang berada di daerah karena menyerahkan DIP Nasional tahun anggaran 97/98.

“lnflasi selama tahun anggaran 96/97 ini dibawah target pada Repelita VI yaitu enam persen/tahun.” katanya.

Karena angka inflasi yang rendah itu, maka Presiden minta Bulog untuk memasok kebutuhan rakyat yang secukupnya.

Sumber : ANTARA (02/04/1997)

______________________________________________________

[1] Dikutip sesuai tulisan dan ejaan aslinya dari Buku “Presiden Ke II RI Jenderal Besar HM Soeharto dalam Berita.” Buku XIX (1997), Jakarta : Antara Pustaka Utama, 2008, hal 301-302.

Kenapa tidak meninggalkan komentar?

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.