Buku-Buku Biografi Pak Harto

Buku-Buku Biografi Pak Harto[1]

 

Sejarah ditulis untuk memahami peristiwa masa lalu, bukan sekedar untuk menilai. Namun dapat saja orang yang menilai tulisan sejarah berseberangan dengan substansi tulisan sejarah itu, bahkan gagal paham.

RE Elson, penulis buku “Suharto–Sebuah Biografi Politik”, menyebut Pak Harto sebagai tokoh yang amat berpengaruh di Asia selama abad ke 20. Selain Elson, tiga penulis biografi Soeharto lainnya adalah; OG Roeder menulis buku “The Smiling General G”, Dwipayana dan Ramadhan KH menulis buku “Soeharto— Pikiran, Ucapan dan Tindakan Saya”, dan Retnowati Abdulgani Knapp menulis buku “Soeharto—The Life And Legacy Of Indonesia’s Second President”.

Selain empat biografi tersebut, lebih dari seratus buku menuliskan tentang Pak Harto. Bahkan buku “Presiden RI ke II HM Soeharto” terdiri dari 20 jilid, menuliskan tentang Pak Harto hampir 20.000 halaman. Dapat dikatakan, Pak Harto adalah tokoh Indonesia kontemporer yang paling banyak ditulis atau dibukukan.

Karenanya, seakan-akan hampir tidak ada lagi sisi kehidupan Pak Harto yang belum ditulis, namun pada kenyataannya, buku tentang Pak Harto terus bermunculan. Sosok Pak Harto bagaikan sumur yang tidak pernah kering untuk ditulis oleh berbagai kalangan dengan berlatar belakang yang beragam, mulai dari politisi, sejarawan, maupun wartawan, baik orang asing atau Indonesia. Dituliskan dengan berbagai sudut pandang yang meskipun terkadang hanya untuk kepentingan politis pragmatis semata.

Buku Pak “Harto dari Mayor ke Jenderal Besar” pun hanya terbatas menarasikan sejarah Pak Harto sebagai tentara, sejak dari Mayor sampai Jenderal Besar dengan latar belakang perannya dalam dinas ketentaraan dan sedikit dialektika sejarah tentara Indonesia.

Fakta bahwa karier militer Pak Harto tidak selalu mulus. Ia menyandang pangkat letnan kolonel selama 11 tahun dengan menyandang 12 jabatan atau perubahan nama jabatan. Agak sulit mencari prajurit TNI yang mengalami karier seperti itu, namun dapat dipastikan bahwa Pak Harto adalah satu-satunya prajurit TNI yang pernah menjabat sebagai Panglima sebanyak 8 kali.

Di awal sejarah militer, nama Pak Harto tidak masuk dalam konsumsi pers untuk diberitakan, kecuali pada peristiwa Serangan Umum 1 Maret 1949, waktu menjadi Panglima TT IV Diponegoro, dan saat menjadi Panglima Komando Mandala, merebut Irian Barat dari colonial Belanda.

Nama Pak Harto muncul secara nasional, bahkan internasional pada saat ia melakukan langkah strategis dan taktis, menumpas pemberontakan Gerakan 30 September yang didalangi Partai Komunis Indonesia (PKI), menyelamatkan Republik Indonesia menjadi negara komunis.

Namun demikian, buku yang saya tulis ini tidak seperti yang ditulis David Jenkins, wartawan-ilmuwan yang meneliti masa awal kehidupan Pak Harto dalam semua aspek, termasuk mengamati sejauh mana karakter Pak Harto dibentuk oleh pendidikan militer. David Jenkins meneliti sejarah Pak Harto sejak mengikuti pelatihan militer di masa kolonial Belanda dan pendudukan Jepang, yang kemudian membentuk karakternya hingga cemerlang dalam karier militer.

Buku “Soeharto Di Bawah Militerisme Jepang”, tulisan David Jenkins adalah buku yang memerlukan waktu lebih dari satu setengah tahun dalam proses penulisannya, termasuk ia datang ke Jepang untuk mewawancarai pelatih Pak Harto pada waktu mengikuti pendidikan militer PETA.

Disebutkan oleh pelatih Pak Harto di PETA, Letnan Dua Nakamoto Yoshiyuki;

“Soeharto orang yang berhati-hati dan tidak pernah memamerkan bakatnya. la adalah seorang yang tenang dan tidak pernah kehilangan kendali”.

Pelatih yang lain, Marimoto, mengatakan;

“Soeharto dikenang oleh semua pelatihnya sebagai orang yang cakap, tidak pernah memanfaatkan orang lain untuk membuat dirinya nampak hebat.” (Jenkins-hal 172)

Selain Jenkins, RE Elson menulis biografi politik Pak Harto dengan sangat detil dan rinci, memakai ratusan sumber buku dan sumber lainnya, serta mewawancarai puluhan tokoh Indonesia, dan memerlukan waktu dua tahun untuk penulisan.

Namun demikian, apapun yang mereka berdua tuliskan, tentu tidak dilandasi rasa nasionalisme-keindonesiaan. Dan sesungguhnya, tulisan sejarah manapun tidak akan lepas dari pandangan pribadi si penulis. Menurut definisi jurnalistik; “Journal est L’homme”, jurnalistik adalah pribadi.

Buku yang saya tulis ini pun tidak bisa lepas dari hal tersebut di atas. Kesalahan pasti ada karena kesempurnaan untuk manusia adalah melakukan kesalahan. Untuk itulah saya perlukan maaf dari pembaca.

____________________________________________________________

[1]Noor Johan Nuh,  “Pak Harto dari Mayor ke Jenderal Besar”, Jakarta : Yayasan Kajian Citra Bangsa, hlm 1-4.

Kenapa tidak meninggalkan komentar?

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.