Bukan Semata Kesalahan Bapak

Kepada

Yth. Bapak Soeharto

di Tempat

 

BUKAN SEMATA KESALAHAN BAPAK [1]

 

Sebelumnya saya mohon maaf atas kelancangan saya menulis surat kepada Bapak. Semuanya ini saya lakukan atas dorongan yang besar dalam diri saya untuk mengucapkan rasa simpati atas apa yang telah menimpa Bapak akhir-akhir ini.

Saya menyadari terjadinya krisis di dalam negeri ini, dan saya menghargai segala usaha yang telah Bapak lakukan untuk mengatasi­nya. Saya tahu Bapak melakukannya dengan penuh rasa tanggung jawab dan semaksimal mungkin. Saya menyesal melihat pengorbanan yang telah Bapak lakukan tidak dihargai bahkan hanya dilihat dari sisi negatifnya saja.

Bahkan mereka menekan Bapak sedemikian rupa sehingga Bapak mengambil keputusan mengundurkan diri. Saya sungguh prihatin melihat moral orang-orang semacam itu. Bukannya bersama-sama membangun melainkan hanya menyalahkan, menuntut, memaksa dan mau enaknya sendiri. Sampai-sampai karena kebodohannya, tindakan yang mereka lakukan dapat dimanfaatkan oleh pihak-pihak yang tidak bertanggung jawab sehingga menambah kekacauan yang terjadi.

Bapak Soeharto yang baik, saya sangat menghargai kesediaan Bapak untuk mengundurkan diri. Saya mengagumi kebesaran hati Bapak untuk berkorban demi negara Indonesia. Jangan berpikir bahwa kekacauan dan krisis yang terjadi adalah kesalahan Bapak semata. Semua ini terjadi karena kesalahan kita semua.

Saya yakin, walaupun sudah tidak menjabat sebagai Presiden RI, Bapak tetap mampu memberikan sumbangan pikiran yang sangat berarti bagi negeri ini seperti yang selama ini lebih 30 tahun ini Bapak lakukan, sehingga negara Indonesia dapat mencapai kemajuan yang sangat pesat di segala bidang.

Akhir kata saya ingin mengucapkan terima kasih yang sebesar­-besarnya atas jasa yang telah Bapak lakukan demi kemajuan negara Indonesia. Apapun yang terjadi, saya akan selalu menghargai, mengasihi, mendukung dan meneladani Bapak Soeharto.

Saya akan selalu mendo’akan kesehatan, keselamatan dan kebahagiaan Bapak. (DTS)

Seorang mahasiswa – Semarang

[1]       Dikutip langsung dari dalam sebuah buku berjudul “Empati di Tengah Badai: Kumpulan Surat Kepada Pak Harto 21 Mei – 31 Desember 1998”, (Jakarta: Kharisma, 1999), hal 983-984. Surat ini merupakan salah satu dari 1074 surat  yang dikirim masyarakat Indonesia dari berbagai pelosok, bahkan luar negeri, antara tanggal 21 Mei – 31 Desember 1998, yang menyatakan simpati setelah mendengar Pak Harto menyatakan berhenti dari kursi Kepresidenan. Surat-surat tersebut dikumpulkan dan dibukukan oleh Letkol Anton Tabah.

Kenapa tidak meninggalkan komentar?

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.