BUKAN MERUPAKAN AKHIR PROSES ITU

BUKAN MERUPAKAN AKHIR PROSES ITU[1]

 

Washington, Merdeka

AS meminta para pemimpin Indonesia untuk terus mengupayakan pembentukan demokrasi yang stabil secara damai.

Amerika terus mendukung upaya Indonesia ke arah demokrasi. Sikap ini merupakan pernyataan pemerintah AS yang dikeluarkan secara blak-blakan setelah 32 tahun terakhir ini. Di Washington, para pejabat AS merasa puas atas pengunduran diri Presiden Soeharto itu. Tetapi mereka mengatakan, berbagai masalah tetap menggoyang Indonesia akibat krisis ekonomi.

“Situasi di Indonesia kini lebih baik daripada kemarin tetapi ini bukan merupakan akhir proses itu.” kata seorang pejabat AS.

“Pengunduran diri Presiden Soeharto itu disambut baik dan proses pembaruan politik mulai.” kata Adam Schwarz, kepala urusan eksportir khusus untuk Indonesia di Dewan Hubungan Luar Negeri Kamar Dagang AS.

“Pengunduran itu jelas dan merupakan awal reformasi.” tambahnya.

“Kemampuan Habibie tergantung bagaimana dia memperluas dukungan masyarakat luas dan menyakinkan rakyat Indonesia bahwa dia bersungguh-sungguh mentransformasikan negara Indonesia ke sistem yang lebih terbuka.” kata Schwarz.

Scwarz mengatakan, pihaknya terus mengikuti perkembangan berbagai kebijaksanaan Indonesia yang didasarkan atas kepentingan seluruh rakyat Indonesia.

“Saya tidak dapat meramalkan bagaimana hal itu akan berperan di masa depan tetapi kebijaksanaan kami mendukung landasan yang paling terbaik bagi rakyat Indonesia.” kata Scwarz menjelang pengunduran diri Soeharto.

Para pejabat Dana Moneter Internasional masih belum berkomentar atas pengunduran diri Soeharto itu setelah badan dunia ini hari Rabu lalu menunda pemberian pinjaman senilai 10 miliar kepada Indonesia.

Para akademisi dan aktivis hak-hak azasi manusia mengatakan, pengunduran diri Soeharto itu menunjukkan Indonesia masih jauh tertinggal dari demokrasi.

“Saya senang bahwa Soeharto berhenti tetapi itu hanya merupakan langkah pertama.” kata wartawan majalah ‘Nation’, Allan Naim.

Masa depan Indonesia tentu tergantung apakah para demonstran terus menekan diadakannya pemilihan umum dan pembaruan, kata Naim.

“Itu mungkin merupakan kesalahan besar untuk memikirkan demikian bahwa masalah itu akan selesai.” katanya di New York yang meminta Clinton untuk menahan diri mendukung pemerintahan baru.

Steve Hanke, pakar ekonomi dari Universitas Johns Hopkins Blatimore, meramalkan bahwa Presiden BJ Habibie mungkin akan mengalami nasib yang sama jika dia tidak mampu menstabilkan nilai rupiah terhadap dolar.

Sumber : MERDEKA (22/05/1998)

__________________________________________________________

[1] Dikutip sesuai tulisan dan ejaan aslinya dari Buku “Presiden Ke II RI Jenderal Besar HM Soeharto dalam Berita.” Buku XX (1998), Jakarta : Antara Pustaka Utama, 2008, hal 488-489.

Kenapa tidak meninggalkan komentar?

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.