BS Muljana: Pak Harto Merencana Untuk Masa Kini Dan Masa Nanti (Bagian 1)

Merencana Untuk Masa Kini Dan Masa Nanti (Bagian 1) [1]

BS Muljana [2]

 

Salah satu hal yang menjadikan saya sangat kagum kepada Bapak Presiden adalah kejadian pada tahun 1976. Pada waktu itu saya mengikuti rombongan perwira-perwira dan pejabat-pejabat sipil senior ASEAN menghadap beliau. Kami waktu itu sedang menghadiri sebuah seminar bertemakan “Ketahanan Regional” yang diselenggarakan oleh Lemhanas. Pada kesempatan itu saya berkesempatan mendengarkan beliau berpidato tanpa teks tentang masalah-masalah yang berkenaan dengan Ketahanan Regional. Saya terkesan sekali dengan isi pidato yang beliau ucapkan itu, terutama karena, walaupun tanpa teks, permasalahannya beliau kemukakan secara amat jelas, dengan sistematika yang sangat teratur dan dengan urutan yang bagus sekali. Waktu itu merupakan kesempatan pertama bagi saya untuk menghadap beliau.

Kesempatan berikutnya terjadi pada tanggal 16 Maret 1988, ketika bersama-sama dengan para calon[3] menteri muda yang lain, dengan didampingi oleh Pak Moerdiono, saya menghadap beliau di Tapos. Di waktu itulah saya benar-benar menyaksikan beliau sebagai seorang pribadi, dan pribadi yang sangat mengesankan. Pada waktu itu kami datang dengan sebuah bis kecil, diantar oleh seorang ajudan Presiden yang rupa-rupanya ditugaskan untuk mengantarkan kami dari Jakarta ke Tapos. Kira-kira jam 08.30 pagi kami tiba. Di sana kami turun di sebelah rumah kecil sederhana. Betapa terperanjat kami semua, dan sekaligus terkesan, melihat beliau telah berdiri menunggu kami di serambi depan rumah tersebut. Saya sama sekali tidak menduga bahwa beliau akan menyambut kami berdiri di serambi seperti itu. Apa yang saya bayangkan sebelumnya adalah bahwa beliau menunggu di suatu tempat atau ruangan tertentu, dan kami akan dipanggil masuk, mungkin satu persatu, untuk diberi penjelasan mengapa kami masing-masing beliau panggil.

Dari peristiwa tersebut saya berkesimpulan bahwa beliau itu adalah seorang yang, kalau kita memakai istilah Jawanya, lembah manah, yang dalam bahasa Indonesianya barangkali dapat diterjemahkan dengan “rendah hati”. Jadi beliau adalah seorang yang amat lembah mamah. Bayangkan Kepala Negara kita sampai-sampai menyambut kami dengan cara seperti itu, padahal kami sebagai pribadi relatif adalah orang-orang kecil.

Setelah berjabat tangan dengan beliau kami masuk ke ruang duduk yang menjadi satu dengan ruang makan, duduk bersama­sama menghadap beliau. Di situ beliau memberikan petunjuk­petunjuk secara agak mendetail mengenai tugas yang akan beliau bebankan kepada kami masing-masing. Kemudian setelah menerima pernyataan kesanggupan kami masing-masing, sambil menikmati hidangan “jajan pasar”[4], beliau mengajak kami bercakap-cakap mengenai beberapa hal, seperti mengenai meubelair yang sederhana sekali yang terdapat di sana, yang semuanya boleh dikatakan merupakan limbah dari Krakatau Steel, yang telah dibentuk menjadi meja, kursi dan lain-lain.

Sekembali dari berjalan-jalan berkeliling melihat-lihat peternakan, dengan beliau bertindak sebagai guide dan guru, kami disuguhi makan siang. Lagi saya memperoleh kesan dan pelajaran baru. Pada Waktu mulai membuka-buka dus nasi, beliau menampakkan sikap yang tidak ubahnya seperti bapak rumah tangga biasa. Beliau berkata: “Sekarang ini gampang. Kalau mau menyediakan makan, ya tinggal pesan saja, lalu tersedia.” Tidak kurang mengesankan bagi saya ketika beliau memanggil salah seorang ajudan, dan bertanya dalam bahasa Jawa: “Sopir-sopirnya sudah dikasih makan?” Coba bayangkan lagi, seorang kepala negara sampai memperhatikan hal-hal sekecil itu. Rasanya sukar untuk membayangkan apabila kita tidak menyaksikan dengan mata kepala sendiri.

Penjelasan-penjelasan yang beliau berikan selama berkeliling peternakan juga amat mengesankan betapa dalamnya pengetahuan beliau tentang masalah-masalah peternakan. Beliau mengetahui rincian-rinciannya sampai yang kecil-kecil sekali pun. Beliau menceriterakan kepada kami tentang berbagai jenis lembu, domba dan kambing yang dipelihara di situ. Umpamanya mengenai seekor lembu, berapa liter susu yang dihasilkannya sehari, apa makanannya, dan juga mengenai crossing lembu dari jenis yang satu dengan jenis yang lainnya serta bagaimana hasilnya. Juga beliau mengetahui jenis-jenis rumput yang ditanam di peternakan itu. Penduduk yang juga memelihara ternak di sekitar kawasan itu dapat memperoleh rumput dari situ; mereka membelinya dengan harga yang lebih murah bila dibandingkan dengan harga di luar. Rumput yang dapat diperoleh di peternakan ini, kalau tidak salah namanya rumput gajah, sudah dalam bentuk terpotong-potong, ukuran ikatannya besar-besar. Beliau dapat menjelaskan semuanya secara mendetail. Andaikan beliau itu seorang petani yang sehari-hari hanya mengurusi peternakan saja, maka hal seperti itu adalah logis. Akan tetapi dalam kedudukan beliau, bukankah masalah peternakan hanya merupakan hal yang kecil sekali dan bukan merupakan bagian dari apa yang harus beliau pikirkan sehari-hari? Walaupun demikian beliau bisa menceritakannya secara amat mendetail seperti itu. Saya sangat terkesan akan hal itu, sampai-sampai bertanya kepada salah seorang dari kelompok petugas yang bersama kami ketika itu, barangkali seorang dokter hewan: “Bagaimana beliau dapat tahu secara terinci seperti itu?” Dia hanya menjawab: “Saya sendiri tidak tahu. Tetapi memang begitulah”.

Selama berkeliling beliau juga memberikan penjelasan mengenai bagaimana pengelolaan Tapos. Bahwa di situ, disamping hal hal yang berhubungan dengan peternakan juga dilaksanakan bermacam­ragam percobaan dalam bidang lain, seperti mengenai bahan-bahan bangunan murah, dan mengenai tenaga listrik biomassa.

Berbicara mengenai kesan pribadi ini saya ingat akan suatu kejadian ketika beliau melayat almarhum Pak Soedarsono, mantan Menteri Pertanian. Ketika akan memasuki tempat jenazah dibaringkan, beliau langsung membuka sepatu. Saya ingat bahwa ketika itu saya datang lebih dahulu, dan untung tidak lupa membuka sepatu. Seandainya ketika itu lupa membuka sepatu, betapa akan malunya saya; Bapak Presiden sendiri pun membuka sepatunya.

Pada saat ini saya juga ingat akan peristiwa yang terjadi baru­baru ini. Malam itu kami, Pak Afiff, Pak Moerdiono, Kepala BPS dan saya, akan menghadap beliau. Waktu itu ada resepsi perkawinan putera Pak Soekaryo, mantan Sekjen Departemen Kesehatan, di Manggala Wana Bhakti. Waktu yang telah ditentukan untuk kami adalah pukul 08.00 dan kami datang di Cendana pukul 07.30 lewat sedikit. Menjelang pukul 08.00 kami dengar mobil datang. Saat itu saya pikir tentunya beliau akan langsung masuk ke dalam dahulu, mungkin minum-minum sedikit, atau beristirahat barang sebentar. Akan tetapi apa yang terjadi adalah sebaliknya. Kami langsung diberitahu ajudan agar masuk, dan beliau telah menunggu kami, masih mengenakan jas resepsi. Peristiwa seperti ini benar-benar menimbulkan kesan yang amat dalam pada diri saya, sebagai seorang anak buah. Dapat ditambahkan bahwa sejauh yang saya perhatikan apabila menghadiri resepsi beliau tidak berkesempatan untuk makan apa-apa di tempat resepsi itu, sedangkan waktu tiba dari resepsi malam itu sudah hampir pukul 08.00, yang umumnya merupakan waktu untuk makan malam.

Sebagai pemimpin negara, sebagaimana kita semua mengetahui, beberapa tindakan yang telah beliau lakukan ataupun keputusan dan langkah yang beliau ambil untuk kepentingan negara selama ini menjadikan kita dapat berpikir: “Seandainya pada saat-saat tersebut beliau tidak bertindak seperti apa yang telah beliau lakukan itu, sukar bisa dibayangkan bagaimana akan jadinya dengan negara kita ini”. Itu kalau pikiran kita dinyatakan secara negatif. Kalau kita kemukakan secara positif: “Melalui hal-hal yang telah dilakukan Bapak Soeharto di waktu-waktu dan saat-saat tersebut, maka negara dan bangsa kita selamat dan bahkan berhasil sampai kepada keadaan yang kita alami sekarang ini”.

Pertama-tama, kita masih ingat atau mengetahui apa yang telah beliau lakukan di zaman perjuangan di Yogya dahulu sebagai seorang komandan resimen, dalam kedudukan beliau sebagai seorang letnan kolonel yang memimpin salah satu kesatuan perjuangan kita. Serangan 1 Maret yang beliau pimpin tidak saja mempunyai pengaruh besar di dalam negeri, akan tetapi dampaknya di luar negeri juga bukan main. Jadi seandainya serangan yang bersejarah tersebut tidak dilakukan oleh Pak Harto itu, maka kita tidak tahu bagaimana jadinya perkembangan perjuangan bangsa kita pada waktu itu, pun dengan adanya peristiwa yang serupa yang terjadi di kota-kota lain. Kemudian, sebagaimana kita semua juga mengetahui, beliau ditugaskan untuk menjadi Panglima Mandala, yang juga merupakan suatu peristiwa yang amat penting dalam perjuangan bangsa kita mempersatukan kembali Irian Jaya kedalam lingkungan Republik Indonesia. Antara lain dengan terlaksanakannya tugas sebagai Panglima Mandala itu dengan sebaik-baiknya, maka tercapailah persatuan nasional yang juga mencakup Irian Jaya. Selanjutnya mengenai peristiwa G-30-S/PKI. Seandainya Pak Harto tidak mengambil keputusan dan tindakan yang telah beliau lakukan ketika itu, maka kita juga tidak dapat membayangkan bagaimana jadinya bangsa dan negara kita ini. Sebagaimana kemudian kita ketahui bahwa yang beliau lakukan waktu-waktu tersebut ternyata tepat, baik tindakannya maupun juga moment ataupun timingnya.

Apa yang dapat kita katakan setelah beliau menjadi Kepala Negara dan Kepala Pemerintahan? Setelah menjadi Kepala Negara dan Kepala Pemerintahan, beliau membawa kita ke arah pembangunan, yang mutlak diperlukan agar negara dan bangsa kita dapat maju. Sejak permulaan masa Orde Baru atau sejak beliau memimpin negara, pemerintah Indonesia berorientasi kepada pembangunan, kepada modernisasi. Kepemimpinan beliau sejak itu, walaupun masih ada kekurangan-kekurangannya, telah membawa kita dari keadaan yang serba kurang, mungkin lebih tepat dikatakan serba kacau pada tahun 1965, ke keadaan seperti yang kita alami dewasa ini. Kalau kita perbandingkan keadaan yang ada sekarang dengan keadaan yang terdapat pada tahun 1965 dahulu, maka per tama-tama, kita akan dapat mengingat betapa memprihatinkan keadaan ketika itu, baik dalam bidang politik, bidang sosial, maupun bidang ekonomi.

Keadaan di waktu itu adalah sedemikian rupa sehingga sukar bagi kita untuk membayangkannya apabila kita tidak mengalaminya sendiri. Di masa sekarang ini diantara kita, khususnya yang masih muda, mungkin ada yang berpikir bahwa seolah-olah keadaan seperti yang kita miliki sekarang ini kita peroleh demikian saja. Padahal untuk itu perjuangan telah dilakukan semenjak tahun 1965, atau katakanlah tahun 1966. Yang dilakukan bangsa kita sejak tahun itu memungkinkan tersusunnya Repelita I pada tahun 1969/1970 dan terlaksanakannya secara berhasil. Kebijaksanaan yang ditempuh sejak itu betul-betul membawa perubahan yang amat besar di negara kita dan telah membawa kemajuan yang luar biasa, terutama bila dibandingkan dengan keadaan pada waktu itu (tahun 1965). Sekarang orang orang muda bisa saja menuntut berbagai hal. Akan tetapi orang-orang yang mengalami keadaan di masa itu akan menyadari betapa bermaknanya keputusan-keputusan yang diambil Pak Harto pada saat-saat itu dalam rangka perkembangan kehidupan bangsa sebagai keseluruhan.

Pada tahun 1954/1955 saya masih mahasiswa. Dan kebetulan bersama dengan sekelompok mahasiswa yang lain[5] memperoleh kesempatan, atau lebih tepat kehormatan, untuk dapat bertemu secara teratur, sekali seminggu, dengan almarhum Bung Hatta di IstanaWakil Presiden di Merdeka Selatan[6]. Dalam pertemuan­pertemuan yang seluruhnya berlangsung kira-kira selama dua tahun itu, kami mendapat kesempatan untuk bertanya-jawab dengan beliau dan memperoleh petunjuk-petunjuk. Dalam kesempatan-kesempatan itu, disamping mengenai hal hal lain, beliau menekankan bahwa sesudah tercapainya kemerdekaan, kita harus mengisinya dengan mengusahakan dan meningkatkan kesejahteraan rakyat dan bahwa mengisi kemerdekaan tidak kalah beratnya jika dibandingkan dengan merebut kemerdekaan itu sendiri.

Sebagai seorang Iulusan Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia; yang sejak dipimpin Bapak Soemitro Djojohadikusumo sudah mengutamakan ajaran-ajaran mengenai pembangunan, dan sebagai seorang yang pernah mendapat isian seperti tersebut di atas dari almarhum Bung Hatta, maka tentu saja saya selalu merasa mantap dengan usaha-usaha pembangunan selama kepemimpinan Pak Harto ini. Sejak kepemimpinan beliau upaya-upaya pembangunan dilaksanakan dengan sungguh-sungguh. Sejak tahun 1966, apalagi mulai dari tahun 1969/1970 sampai sekarang, usaha-usaha dalam bidang pembangunan betul-betul terasa sebagai usaha pengisian kemerdekaan. Memang usaha-usaha itu ada kekurangannya dan jelas bahwa usaha itu belum selesai, namun keberhasilan yang telah tercapai sampai sekarang ini sudah tampak dengan nyata, terutama bagi mereka yang sempat merasakan keadaan pada tahun 1965 dahulu, dan mengalami perkembangan sampai kepada keadaan sekarang ini. Dengan perkataan lain, apabila dalam menilai segala sesuatunya seseorang rela bersikap fair dan obyektif, maka sudah pasti dapat merasakan keberhasilan usaha-usaha pembangunan yang dilaksanakan di segala bidang dibawah kepemimpinan Bapak Pembangunan kit a selama ini.

Kadang-kadang ada yang beranggapan bahwa pembangunan yang dilakukan selama ini hanya menekankan bidang ekonomi saja. Kiranya dapat dikatakan bahwa pendapat demikian tidak. adil. Bahkan yang muda-muda pun sekarang ini dapat melihat bahwa kita telah memperoleh keberhasilan yang cukup besar dalam pembangunan di bidang sosial-budaya dan politik.

Ada pula yang berpendapat bahwa pembangunan yang dilakukan sampai sekarang hanya untuk kepentingan orang-orang: berpunya saja. Atas anggapan yang demikian rasanya pertama-tama dapat dipertanyakan: “Masih banyakkah sekarang ini orang yang kekurangan makan, atau masih banyakkah orang yang bajunya masih robek-robek, masih banyakkah yang masih tak dapat berobat apabila sakit, dan dimana orang-orang itu dapat kita temukan? Kita semuanya tentu boleh percaya bahwa orang-orang yang keadaannya demikian masih ada. Namun jumlahnya pasti sangat sedikit dibandingkan dengan di masa lampau.

Dapat kita perbandingkan juga keadaan dalam bis bis kota. Pada tahun 1965 saya sangat sering naik bis. Demikian pula·pada tahun 1972. Saya ingat bahwa keadaan bis dan para penumpangnya di waktu itu masih amat menyedihkan. Di waktu itu banyak yang bau. Bisnya bau dan penumpangnya juga bau. Sekarang ini kalau masih ada bis yang bau dapat dipastikan bahwa sebabnya adalah pemeliharaan bisnya yang masih perlu ditingkatkan. Sedangkan dahulu keadaan bau yang ada sebenarnya disebabkan oleh banyak penumpang yang pakaiannya bau.

Selanjutnya pembangunan jaringan jalan, irigasi, pelabuhan dan pembangunan infrastruktur yang lain, apakah semuanya itu hanya untuk yang berpunya saja? Dalam bidang pemukiman pun, keadaan sekarang, bila dibandingkan dengan keadaan tahun-tahun sebelumnya, telah banyak pula perbaikannya, baik di daerah pedesaan maupun perkotaan. Yang terakhir ini termasuk juga yang dikenal dengan kata “di kampung-kampung”. Memang didalam masyarakat masih ada kelompok-kelompok yang sukar diusahakan untuk dinaikkan kesejahteraan, misalnya para petani dan nelayan kecil di kawasan-kawasan terpencil atau di desa-desa pantai dan penduduk yang tinggal di kawasan-kawasan kumuh di kota-kota besar. Sejauh mengenai petani yang tidak memiliki tanah memang sukar sekali untuk mengusahakan peningkatan pendapatan mereka di tempat mereka bekerja. Walaupun·demikian tiada putus-putusnya diusahakan untuk menaikkan pendapatan mereka. Misalnya, dilaksanakan sekuat tenaga usaha-usaha transmigrasi. Juga ditempuh kegiatan­kegiatan dan kebijaksanaan untuk pengembangan industri. Walaupun masih ada kekurangan-kekurangannya, keberhasilan usaha­usaha itu juga tinggi. Kesempatan kerja menjadi lebih luas, peluang untuk mencari nafkah bertambah, juga para petani yang tidak me­ miliki tanah atau, tepatnya, para buruh tani dan penggarap.

Sehubungan dengan hal-hal yang dikemukakan di atas ini ada manfaatnya untuk diutarakan juga di sini apa yang diungkap oleh Prof. Soemitro dalam sidang pleno ISEI di Bukittinggi bulan Juni 1989 ‘yartg lalu[7]. Pada kesempatan itu beliau kemukakan bahwa angka kemiskinan telah jauh menurun dibandingkan tahun 1976. Besarnya penduduk yang hidup dibawah garis kemiskinan telah menurun, baik dalam arti proporsional maupun dalam arti absolut. Pada tahun 1976, orang Indonesia yang hidup dibawah garis ke­miskinan berjumlah 54 juta jiwa, atau lebih dari 40% dari seluruh jumlah penduduk. Pada waktu itu penduduk Indonesia berjumlah 135 juta jiwa lebih sedikit. Pada tahun 1987 jumlah orang yang hidup dibawah garis kemiskinan itu tinggal sekitar 30 juta atau 17,5% dari jumlah penduduk tahun itu. Memang jumlah itu masih cukup besar. Namun penurunan jumlahnya dibanding 11 tahun sebelumnya juga besar. Penurunan dari 54 juta menjadi 30 juta sungguh berarti, terlebih-lebih apabila diingat bahwa selama itu penduduk Indonesia bertambah dengan hampir 37 juta jiwa.

Masalah penduduk miskin erat hubungannya dengan masalah pemerataan. Juga atas dasar analisa Prof. Soemitro tersebut di atas dapat dikemukakan bahwa distribusi pendapatan di negara kita selama pemerintahan Orde Baru juga semakin membaik keadaannya; artinya semakin merata. Salah satu cara untuk mengetahui hal itu adalah sebagai berikut.

Seluruh penduduk dapat dibagi atas dasar pendapatannya menjadi kelompok 20% jumlah penduduk dengan pendapatan tertinggi, kelompok 40% penduduk dengan pendapatan terendah. Kalau kelompok 40% penduduk yang berpenghasilan terendah dalam suatu negara hanya memperoleh bagian kurang dari 12% dari seluruh pendapatan nasional, maka dikatakan bahwa tingkat pemerataan distribusi pendapatan di negara itu rendah; atau tingkat ketimpangannya tinggi. Kalau golongan 40% jumlah penduduk yang berpendapatan terendah menerima antara 12-17% dari pendapatan nasional, maka dapat dikatakan bahwa pemerataan distribusi pendapatan di negeri yang bersangkutan sedang. Dan apabila mereka menerima 17% dari pendapatan nasional atau lebih, maka dikatakan bahwa tingkat pemerataan distribusi pendapatan di negara yang bersangkutan tinggi, sehingga dapat dikatakan bahwa distribusi pendapatan dalam negara itu tinggi.

Kalau kita perhatikan keadaan di Indonesia sekarang sebagaimana ditunjukkan oleh hasil analisa Prof. Soemitro tersebut, maka ternyata bahwa pada tahun 1987 golongan 40% jumlah penduduk yang berpenghasilan terendah itu menerima 20,8% dari pendapatan nasional. Pada tahun 1980 golongan tersebut menerima 19,5%. Dari angka itu dapat disimpulkan bahwa pemerataan distribusi pendapatan di Indonesia dewasa ini termasuk tinggi. Jadi distribusi pendapatannya secara makro baik.

***



[1]    BS Muljana, “Merencana Untuk Masa Kini Dan Masa Nanti”, dikutip dari buku “Di Antara Para Sahabat: Pak Harto 70 Tahun” (Jakarta: PT. Citra Kharisma Bunda, 2009), hal 470-486.

[2]     Menteri Muda Perencanaan Pembangunan Nasional/Wakil Ketua Bappenas dalam Kabinet Pembangunan V

[3]     Pada waktu itu, kecuali Pak Moerdiono, diantara kami belum ada yang tahu akan ditugaskan untuk menjadi pembantu beliau sebagai menteri muda

[4]  Kue-kue dari pasar rakyat

[5] Diantaranya yang sekarang saya masih ingat adalah: Pak Bambang Santanu MA, Prof. Bintoro Tjokroamidjojo, Prof. Dr. Busra Zahir, Prof. Dr. Emil Salim, Prof. Harun Zain, Prof. Dr. Kartomo Wirodihardjo (koordinator kelompok), Prof. Dr. Nugroho Notosusanto (almarhum), Ibu Nurtinah Iskandar. Drs. Priasmoro, dan Prof. Dr. Sumardi Reksoputranto

[6] Bukan yang sekarang. Istana Wakil Presiden waktu itu, kini telah menjadi salah satu bagian dari kompleks Lemhanas.

[7] Sumitro Djojohadikusumo, Perkembangan Ekonomi Indonesia Selama Empat Tahun Pelita,  1969/1970-1988/1989

1 Comment
  1. taswan warr says

    nyimak . . .

Kenapa tidak meninggalkan komentar?

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.