BINTANG MINTA DIBEBASKAN DARI SEGALA TUNTUTAN HUKUM

BINTANG MINTA DIBEBASKAN DARI SEGALA TUNTUTAN HUKUM[1]

 

Jakarta, Antara

Sri Bintang Pamungkas dalam pembelaannya hari Rabu di Pengadilan Negeri Jakarta Pusat, minta majelis hakim untuk membebaskannya dari segala tuntutan hukum seperti yang dituntut Jaksa Penuntut Umum P Sitinjak SH yakni empat tahun penjara pada sidang 13 Maret lalu.

“Pak hakim, saya merasa tidak bersalah seperti yang didakwakan jaksa. Karena itu, saya mohon agar dapat dibebaskan dari segala tuntutan hukum.” kata Sri Bintang dalam pembelaannya setebal 165 halaman yang disampaikan di hadapan sidang pengadilan yang dipimpin Hakim Ketua Syoffinan Sumantri SH.

Sidang yang berlangsung hingga pukul 18.15 WIB itu, terasa sangat melelahkan. Setelah Bintang membacakan pembelaannya, Jaksa Penuntut Umum P Sitinjak SH, juga meminta penasihat hukum terdakwa yang dipimpin Adnan Buyung Nasution SH, untuk membacakan pembelaannya.

Namun permintaan jaksa itu ditolak Hakim Ketua Syoffinan Sumantri karena waktu sudah tidak memungkinkan lagi, dan menetapkan sidang dilanjutkan 3 April 1996 dengan agenda mendengarkan pembelaan (pledoi) penasihat hukum terdakwa Sri Bintang Pamungkas.

“Pak hakim, kalau penuntut umum tetap berkeras kepala, kami siap untuk melanjutkannya sampai pagi.” kata Mohammad Assegaff SH, salah seorang anggota tim penasihat hukum terdakwa yang disambut dengan tepuk tangan pengunjung sidang.

Suasana di akhir persidangan itu terasa sangat kacau sehingga membuat Hakim Ketua berkali-kali mengetukkan palu karena pengunjung dalam ruangan itu membuat kegaduhan dan berdiri di atas tempat duduk.

Kekacauan sidang itu mulai terasa sejak Sri Bintang Pamungkas memasuki ruangan sidang. Ia disambut dengan teriakan yel-yel oleh kelompok pendukungnya yang menyanyikan lagu kebangsaan Indonesia Raya.

“Anda (kelompok pendukung) harus menghormati aturan main di persidangan ini. Saya bukan melarang anda menyanyikan lagu Indonesia Raya, tetapi tidak ada aturan main yang mengatur hal itu. Jangan membuat kegaduhan di ruangan ini.” kata Syoffinan Sumantri.

Sidang pun dilanjutkan dengan mendengarkan pembelaan terdakwa Sri Bintang Pamungkas yang didakwa menghina Presiden Soeharto ketika berceramah di Berlin, Jerman 9 April 1995. Akibat perbuatannya ini, Bintang dituntut hukuman empat tahun penjara oleh Jaksa Penuntut Umum P Sitinjak SH.

Ketika Hakim Ketua menskors sidang sekitar pukul 12.00 WIB untuk sholat dan makan siang, kelompok pro Bintang malah menggelar mimbar bebas di teras ruang sidang di lantai III gedung pengadilan itu.

Sementara kelompok anti Bintang melakukan aksi serupa dengan menggelar poster di luar pagar gedung pengadilan.

Suasana seperti itu kembali terasa ketika sidang berakhir pukul 18.15 WIB. Aparat keamanan terpaksa melakukan pagar betis terhadap Sri Bintang Pamungkas dan penasihat hukumnya untuk menjaga hal-hal yang tidak diinginkan karena hari sudah gelap.

Rekayasa Jaksa

Sri Bintang Pamungkas, mantan anggota DPR/MPR dari F-PP itu dalam pembelaannya mengatakan, tuntutan yang dijatuhkan Jaksa Penuntut Umum adalah sesuatu yang tidak objektif dan merupakan hasil rekayasanya sendiri karena tuntutan itu tidak didasarkan pada suatu fakta yang mendasar.

“Adalah suatu tuntutan yang tidak cerdas dari seorang jaksa karena keputusan yang dijatuhkan hanya diambil dari keterangan para saksi secara sepotong-sepotong dan memutar balikan fakta. Karena itu, saya minta agar dibebaskan dari semua tuntutan hukum.” kata Bintang.

Ia menilai jaksa bertindak seperti algojo karena tidak mampu mengungkap fakta yang dilihat selama sidang berlangsung.

“Semua keterangan dari para saksi diambil sepotong-potong kemudian menjatuhkan tuntutan. Ini adalah suatu tindakan yang tidak adil dan objektif.” Ujarnya.

“Jaksa telah bertindak sesuai dengan kemauannya sendiri. Kalimat-kalimat yang didakwakan sama sekali tidak jelas dan sulit dibuktikan kebenarannya karena hanya berdasar pada rekaman kaset dan transkip yang diperoleh dari aparat penyidik.” katanya  menambahkan.

Bintang mengatakan, jaksa tidak bisa membuktikan kata demi kata terhadap suatu rangkaian kalimat yang di dalamnya termuat kata “diktator, PKI, absolutisme dan kesewenang-wenangan” seperti yang didakwakan.

Kata-kata seperti itu, kata Jaksa Penuntut Umum diucapkan oleh Sri Bintang Pamungkas kepada regim Soekarno dan Soeharto ketika berceramah di Berlin. Namun, kata Bintang, rangkaian kata yang di dalamnya termuat kata-kata seperti itu sama sekali tidak disebutkannya.

“Semuanya dilakukan oleh jaksa secara sepotong-sepotong tanpa adanya kebenaran fakta yang hakiki. Ia (Jaksa) telah bertindak seperti seorang algojo dan ingin mau menang sendiri. Karena itu, saya minta supaya dibebaskan dari segala tuntutan hukum.” kata Sri Bintang Pamungkas.

Sumber : ANTARA (29/03/1996)

___________________________________________________________________

[1] Dikutip sesuai tulisan dan ejaan aslinya dari Buku “Presiden Ke II RI Jenderal Besar HM Soeharto dalam Berita”, Buku XVIII (1996), Jakarta : Antara Pustaka Utama, 2008, hal 589-591.

Kenapa tidak meninggalkan komentar?

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.