BINGUNG TERHADAP ARTI KATA “DJIHAD”

BINGUNG TERHADAP ARTI KATA “DJIHAD” [1]

 

Djakarta, Harian Kami

DAERAH Martapura fihak jang berwadjib telah mengamankan 9 orang nggota partai NU. Mereka ditangkap pada saat sedang memandikan diri di Teluk Buntar, suatu hal jang menurut petundjuk seorang tokoh ulama NU tertentu merupakan perbuatan pensutjian diri sebelum turun kemedan DJIHAD.

Ulama tersebut menjatakan bahwa perang melawan Golkar jang sedang menhantjurkan Islam, hukumnja adalah “mati sjahid’, dan sudah tentu masuk Surga “Djannatun naim”.

Sekdjen PB NU, Jusuf Hasjim jang dihubungi untuk memperoleh tanggapan tentang peristiwa ini memberikan reaksi sebagai berikut: Sampai saat ini belum menerima laporan dari Martapura, berdjihad tidak berarti memberontak seperti jang ditafsirkan oleh pedjabat2 resmi, mereka perlu beladjar bahasa Arab, patut dikasihani. Jusuf Hasjim djuga menjatakan bahwa bukanlah watak orang Kalsel untuk mau menjerang atau memberontak.

Mudah2an dugaan Jusuf Hasjim benar, mudah2an ada salah-tafsir terhadap istilah Djihad, mudah2an benar bahwa watak orang Kalsel jang kebanjakan terdiri dari pedagang tidaklah bersifat demikian radikal sehingga mau memberontak.

Tapi berita jang kita peroleh dari sumber jang dalam rangka pemilihan umum ini bisa dianggap kritis sekali terhadap sepak-terdjang penguasa, memberikan kesan jang agak teliti.

Nama2 orang jang ditangkap disampaikan setjara lengkap, walaupun kemudian kami singkat. Nama ulama jang memberikan petundjuk-pun lengkap, tempat pemandian mereka ber-sembilan orang-pun lengkap ada. Jang memandikan mereka-pun diperintji orang2nja dan asal mereka.

Sehingga dengan demikian tjukup kuat alasan bagi kita untuk sangat berchawatir. Naga2nja berita ini benar, naga2nja jg “salah tafsir” terhadap istilah “Djihad” bukan sadja beberapa “pedjabat resmi” dan banjak sekali orang awam, nampaknja djuga warga NU banjak jang “salah tafsir”.

Dan sebenarnja Sekdjen NU tidak usah terlalu gusar bila banjak orang jang setjara tekun mendjalankan Lima Rukun Islam tidak bisa berbahasa Arab seperti tokoh2 PB NU. Arti sesuatu istilah ditentukan oleh pemakaiannja didalam masjarakat.

Seorang ahli bahasa bisa sadja memprotes, boleh mengkasihani seribu-satu matjam salah-tafsir, tapi ia takkan berdaja terhadap interpretasi masjarakat luas. Betapa gelinja kita seraja mendengar bahwa pasta untuk menggosok gigi diberi nama “odol” oleh masjarakat. Orang jang lebih terdidik sadar bahwa “Odol” adalah sekedar merk dan bukan nama djenis. Begitu pula istilah2 seperti “naik ostin atau naik oplet”, semuanja berasal dari nama mobil AUSTIN dan Opel-ette, dua merk mobil jang satu dari Inggeris dan Jang lain dari Djerman.

Tapi bagi masjarakat nama2 itu diartikan sebagai djenis taksi jang mempunjai rute tertentu. Achir2 ini istilah “rationalisatie” diberi arti “pemetjatan massal, sedangkan sebenarnja arti mula dari istilah tersebut adalah penjehatan, menjusun sesuatu berdasarkan dalil-dalil jang rasionil, tanpa penghamburan tenaga dan beaja.

Merupakan tugas dari para pemimpin masjarakat, para pemimpin opini untuk mendidik masjarakat pengikutnja dalam memberikan arti tepat pada istilah2 tertentu. Kalau pedjabat2, kalau masjarakat jang beragama Islam mempunjai suatu pengertian salah terhadap istilah2 tertentu.

Kalau pedjabat2, kalau masjarakat jang beragama Islam mempunjai suatu pengertian salah terhadap istilah “djihad”, maka kita merasa tidak perlu lagi untuk menanjakan SIAPA JANG SALAH. Seorang seperti Jusuf Hasjim tjukup intelligent untuk mendjawabnja. (DTS)

Sumber: HARIAN KAMI (01/07/1971)

[1] Dikutip sesuai tulisan dan ejaan aslinya dari buku “Presiden RI Ke II Jenderal Besar HM Soeharto dalam Berita”, Buku II (1968-1971), Jakarta: Antara Pustaka Utama, 2008, hal. 957-958.

Kenapa tidak meninggalkan komentar?

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.