BIDANG KESEHATAN DIBERIKAN PRIORITAS TINGGI

BIDANG KESEHATAN DIBERIKAN PRIORITAS TINGGI

Dalam Melaksanakan Pembangunan

PRESIDEN :

Presiden Soeharto menegaskan, bagi bangsa Indonesia sulit untuk bisa menikmati kesejahteraan yang lebih maju jika kesehatan masyarakatnya tidak baik.

"Karena itu dalam melaksanakan pembangunan kami memberi prioritas tinggi pada bidang kesehatan", demikian Presiden Soeharto pada pembukaan Konperensi ke-13 Perkumpulan Pemberantasan Tuberkulosa Sedunia Wilayah Timur di Istana Negara kemarin.

Menurut Kepala Negara, usaha memperbaiki tingkat kesehatan masyarakat juga merupakan tujuan tersendiri dalam pembangunan.

Tujuan itu adalah membangun manusia yang utuh, sedang, manusia yang rendah kesehatannya sulit menjadi manusia yang utuh dan mandiri.

Dihadapan 350 peserta Konperensi yang berasal dari 31 negara termasuk 12 negara dari Asia Pasifik. Presiden menjelaskan usaha yang dilakukan untuk memperbaiki tingkat kesehatan masyarakat.

Antara lain disebutkan, membangun ribuan puskesmas di setiap kecamatan untuk memberi pelayanan kepada masyarakat berpenghasilan rendah.

Di samping itu, jumlah rumah sakit juga diperbanyak dan peralatannya pun makin memadai. Penyediaan obat bertambah banyak, ribuan tenaga dokter dan petugas kesehatan telah disebar sampai ke pelosok desa dan mereka bekerja dengan penuh rasa pengabdian kepada masyarakat.

Pemberantasan TBC

Presiden juga menyadari apapun yang telah dilakukan tetapi sesungguhnya masih perlu ditingkatkan lagi dan diperluas agar masyarakat lebih mudah memperoleh pelayanan.

Khususnya untuk pemberantasan penyakit TBC yang masih membawa korban rakyat tidak sedikit, memang tidak cukup hanya dilakukan dengan menambah jumlah sarana medis dan dokter.

Sesungguhnya untuk memberantas penyakit menular termasuk TBC perlu dilakukan secara terpadu dengan mengikutsertakan masyarakat. Peran serta cara-cara menghadapinya. Dengan demikian, masyarakat sendirilah pertama-tama akan mencegah timbulnya penyakit ini sebelum berjangkit.

Berdasarkan pengalaman Kepala Negara, pemberantasan TBC tidak dapat lepas dari kemajuan ekonomi dan sosial. Makin baiknya keadaan ekonomi, makin majunya kesejahteraan dan meningkatnya pendapatan, masyarakat juga makin mampu memelihara kesehatan dan membiayai kebutuhan untuk berobat.

Pengalaman lain, adanya perbaikan gizi dan menu makanan rakyat juga sangat berpengaruh terhadap daya lahan tubuh sehingga mereka tidak mudah tertular penyakit TBC.

Demikian pula berhasilnya pembangunan pendidikan yang mampu meningkatkan kecerdasan rakyat jelas akan menambah kesadaran rakyat akan pentingnya pemeliharaan kesehatan.

Usaha pemberantasan penyakit TBC dalam kaitannya dengan pembangunan kesehatan, tentu berlainan antara satu negara dengan lainnya tapi pasti ada manfaatnya jika saling tukar pikiran dan pengalaman.

Setidak-tidaknya akan dapat mengambil pelajaran yang baik dan menghindarkan diri dari pengalaman yang buruk.

"Saya berharap konperensi ini dapat dijadikan arena tukar pikiran dan pengalaman sehingga memungkinkan masyarakat kita masing-masing memperlancar pemberantasan TBC", ujar Kepala Negara.

500 peserta

Sebelumnya, Menkes dr. Suwardjono Surjaningrat melaporkan, Konperensi yang akan berlangsung selama 5 hari di Hotel Indonesia, diikuti lebih 500 peserta, separuh diantaranya berasal dari 31 negara asing, dari mana sebanyak 12 negara dari luar Asia­Pasifik.

Selama konperensi akan dilakukan peninjauan lapangan untuk melihat partisipasi masyarakat dalam membantu pemberantasan TBC. Tiga Puskesmas di Puncak, Ciawi dan Cimacan akan dikunjungi di mana dokter Puskesmas dan lurah setempat memberi gambaran kegiatan LKMD (Lembaga Kesehatan Masyarakat Desa).

Menurut Ketua Panitia Konperensi, Dr. Gunardi, sebanyak 100 makalah tentang upaya pemberantasan TBC di dunia, terutama di kawasan Asia Pasifik akan dibahas. Selain itu juga akan dibicarakan berbagai jenis penyakit paru-paru akibat lingkungan yang buruk, merokok dan lain-lain.

Perkumpulan Dunia Terhadap Penyakit TBC bermarkas di Paris, Perancis. Di Indonesia dikenal dengan nama Perkumpulan Pemberantasan TBC Indonesia atau PPTI (RA)

Jakarta, Suara Karya

Sumber : SUARA KARYA (19/11/1983)

Dikutip sesuai tulisan dan ejaan aslinya dari buku "Presiden RI Ke II Jenderal Besar HM Soeharto dalam Berita", Buku VII (1983-1984), Jakarta : Antara Pustaka Utama, 2008, hal. 400-401.

Kenapa tidak meninggalkan komentar?

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.