“BIAR SAYA MEMILIH JALAN SENDIRI”

“BIAR SAYA MEMILIH JALAN SENDIRI”[1]

 

 

Jakarta, Suara Pembaharuan

Apa lagi sih yang dicari dengan aktivitasnya yang begitu terasa menyiksa hidupnya? Itu antara lain kesan yang terekam di kalangan masyarakat atas kesibukan yang luar biasa dari Ny. Siti Hardiyanti Hastuti Indra Rukmana, putri sulung kepala negara yang lebih akrab dengan panggilan Mbak Tutut.

Selain memimpin sejumlah lembaga sosial Yayasan Tiara Indonesia, Yayasan Tiara Indah dan sejumlah perusahaan multinasional, saat ini dia adalah juga seorang Ketua DPP Golkar yang dikenal sangat menyukai seni-budaya khususnya bidang musik dan puisi. Lalu “Kirab Remaja” ia pula menggerakkan kegiatan itu selama bertahun-tahun.

Jabatan terbarunya antara lain, Ketua Umum PMI (Palang Merah Indonesia) dan Ketua Persahabatan Indonesia Portugal yang sejak awal ikut dirintisnya. Di bidang pers selain memimpin sebuah penerbitan yang telah menghasilkan sejumlah buku, Mbak Tutut juga aktif membidani studio TPI (Televisi Pendidikan Indonesia) dan majalah Wanita Indonesia.

Lantas apa sesungguhnya yang dicari wanita superaktif yang juga punya hobi membaca itu? Saya ingin mengimplementasikan ajaran atau nasihat yang selalu ditekankan orang tua saya kepada anak-anaknya.

Misalnya, yang selalu saya ingat, beliau selalu mengingatkan bahwa hidup ini amat singkat.

“Maka hidup ini harus kita buat bermakna dan punya arti. Jangan sampai hidup yang singkat ini berlalu dengan sia-sia.” ungkapnya kepada wartawan yang meliput Faces Of Indonesia, menirukan wejangan orang tuanya tercinta.

“Misalnya saya sekarang memilih mengabdikan hidup saya untuk ikut berpartisipasi meningkatkan citra bangsa di mancanegara. Sebab saya merasa bisa mewujudkannya. Antara lain bidang seni budaya, seperti misi Faces Of  Indonesia” ujarnya.

Menjadi public figur, seperti sering dialami oleh bintang atau tokoh terkenal, tentu tak lepas dari sorotan masyarakat. Sepertinya, tak ada sisi kehidupan sang tokoh yang boleh lolos dari pengamatan lingkungannya.

Sehingga, ketika aktivitas sosialnya menjelang Pemilu 1992 lalu diekspos besar­ besaran oleh media masa khususnya media elektronik, banyak rumor beredar bahwa Mbak Tutut tengah ditampilkan atau diproyeksikan untuk suatu jabatan strategis.

Menjelang proses pembentukan kabinet waktu itu, nama Ny. Siti Hardiyanti Rukmana secara luas diisukan akan menjadi Menteri Sosial atau Menteri Pemuda dan  olahraga.  Akhirnya, semua itu terbantah setelah namanya tidak tercantum dalam daftar Kabinet Pembangunan VI.

Setelah itu penampilannya dianggap penuh misteri. Sebab segala analisis tentang adanya gejala mempersiapkan putri Presiden itu untuk suatu jabatan yang berarti seperti terhenti. Penampilannya di media masa pun menyurut.

Tapi tiba-tiba namanya berkibar lagi, setelah terpilih sebagai salah seorang Ketua DPP Golkar yang dipimpin H Harmoko. Malah dewasa ini suara-suara yang mendukung pencalonannya sebagai salah satu kandidat calon wakil Presiden (Wapres) selain beredarnya nama H. Hannoko dan Prof Dr. Bj. Habibie makin deras. Tapi ketika wartawan menyinggung rumor yang terbaru menyangkut dirinya itu. Mbak Tutut hanya berkomentar kalem.

“Ah soal itu mbok jangan digede-gedein deh…”

Menjawab pertanyaan wartawan menjelang penerbangan dari Boston ke Belanda, apakah ia ingin mengikuti jejak sang bapak yang telah menunjukkan kepemimpinan atas pembangunan bangsanya? Jawab santai yang terlontar dari pencipta sejumlah lagu pop kreatif dan penulis puluhan puisi itu.

“Bagaimana ya biar saya memilih jalan sendiri. Saya rasanya lebih bahagia untuk menjadi diri sendiri.”

 

Sumber : SUARA PEMBAHARUAN (24/05/1995)

________________________________________________________________________________________

[1] Dikutip sesuai tulisan dan ejaan aslinya dari Buku “Presiden Ke II RI Jenderal Besar HM Soeharto dalam Berita”, Buku XVII (1995), Jakarta: Antara Pustaka Utama, 2008, hal 681-683.

 

Kenapa tidak meninggalkan komentar?

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.