BI TAK BERMAKSUD DORONG PENGUSAHA JUAL OBLIGASI DI LUAR NEGERI

BI TAK BERMAKSUD DORONG PENGUSAHA JUAL OBLIGASI DI LUAR NEGERI[1]

 

Jakarta, Antara

Bank Indonesia memang berhasil menjual obligasinya di Amerika Serikat senilai 395 juta dolar AS, namun bank sentral tidak bermaksud mendorong pengusaha mencari pinjaman apalagi jika syaratnya terlalu berat.

Setelah melapor kepada Presiden Soeharto di Bina Graha, Kamis tentang penjualan obligasi di AS yang disebut “yankee bond”, Gubernur BI Soedradjad Djiwandono mengatakan kepada pers bahwa selama ini memang sudah ada beberapa perusahaan yang menjual surat berharga itu di luar negeri.

“Sejak tahun 1993, sudah ada beberapa perusahaan yang menjual. Kita lihat pricing-nya (penentuan harganya, red) kurang memadai atau kurang baik.” kata Djiwandono. Penentuan harga/pricing obligasi BI ini berlangsung 26 Juli.

Ia menyebutkan nilai yang ditawarkan semula adalah 400 juta dolar, dengan bunga/coupon 7,75 persen/tahun, serta masanya 10 tahun. Karena adanya diskon 0,5 persen maka pendapatan pemerintah menjadi 395,344 juta dolar.

Hasil penjualan obligasi yang dijadikan cadangan tambahan pemerintah itu cukup baik jika dibandingkan dengan yang dilakukan beberapa negara berkembang lainnya seperti RR China dan sejumlah Negara Amerika latin.

Tujuan utama penjualan obligasi itu adalah untuk dijadikannya obligasi BI ini sebagai acuan/bench marking bagi kegiatan sejenis, baik yang dilakukan oleh BUMN maupun swasta.

Surat berharga ini sedikitnya dibeli 45 investor besar seperti dana pensiun, perusahaan asuransi, serta sejumlah negara bagian.

“Saya tidak tahu kenapa mereka mau membeli.” kata Djiwandono sambil menegaskan bahwa kerusuhan 27 Juli di Jakarta sama sekali tidak mempengaruhi niat para pemilik dana itu untuk membeli obligasi BI sekalipun mereka mempunyai hak untuk membatalkan niatnya.

Ketika ditanya mengapa BI tak akan mendorong pengusaha menjual obligasinya, ia berkata

“Kalau term-nya (syaratnya,red) jelek maka untuk apa mencari pinjaman. Sekalipun perusahaan ingin mencari dana ke luar negeri, yang penting adalah mereka harus tetapprudent  (berhati-hati, red)”.

Ketika ditanya apakah dalam waktu dekat ini, BI akan menjual obligasi lagi di bursa New York atau pasar-pasar uang dunia lainnya, Gubernur BI mengemukakan pihaknya belum merencanakan hal itu.

“Namun, kalau market (pasar, red) menghendaki, mungkin kita perlu ada lagi (menerbitkan lagi). Kami tidak bermaksud muncul sekali, kemudian tidak ada lagi.” katanya.

Sementara itu, ketika ditanya apakah sudah ada BUMN-BUMN yang berencana dalam waktu dekat ini untuk menjual obligasinya di luar negeri, Djiwandono mengatakan ia belum mengetahui rencana semacam itu.

Sumber : ANTARA (08/08/1996)

____________________________________________________________

[1] Dikutip sesuai tulisan dan ejaan aslinya dari Buku “Presiden Ke II RI Jenderal Besar HM Soeharto dalam Berita”, Buku XVIII (1996), Jakarta : Antara Pustaka Utama, 2008, hal 376-377.

Kenapa tidak meninggalkan komentar?

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.